Nasional

Sebut Pilpres 2024, FormasNU: Duet Anies-Muhaimin, Tanda Kebangkitan Kaum Santri

Sebut Pilpres 2024, FormasNU: Duet Anies-Muhaimin, Tanda Kebangkitan Kaum Santri
Anies Baswedan bersama Muhaimin Iskandar saat melayat wafatnya KH Hasyim Muzadi di Depok, Jawa Barat, Kamis (16/3/2017)/Sumber Foto: KOMPAS.com/ANDRI DONNAL PUTERA

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Masyarakat santri mengusulkan duet Anies BaswedanMuhaimin Iskandar (AMI) bisa menjadi pasangan alternatif dalam Pilpres 2024. Bahkan, bergabungnya dua kekuatan besar antara Anies dan Muhaimin Iskandar akan sulit tertandingi oleh pasangan Capres-Cawapres manapun. “Bergabungnya kekuatan Presiden Santri, yaitu mas Anies dan Panglima Santri, Gus Muhaimin Iskandar, akan menjadi satu satu nya pasangan Capres-Cawapres yang merepresentasikan kekuatan Kaum Santri secara khaffah,” Ketua Umum Forum Masyarakat Santri Nusantara (FormasNU) Ahmad Rouf Qusyairi , di Jakarta, Kamis, (16/2/2023).

Sebut Pilpres 2024, FormasNU: Duet Anies-Muhaimin, Tanda Kebangkitan Kaum Santri

Ketua Umum Forum Masyarakat Santri Nusantara (FormasNU) Ahmad Rouf Qusyairi/Foto: Anjasmara

Lebih jauh Mantan Wakil Sekjen PB PMII era Abdul Malik Haramain ini menambahkan duet ini menandai era baru kebangkitan kaum santri yang berada di perdesaan dan tradisional dengan berbasiskan pondok pesantren yang direpresentasikan oleh Ketum DPP PKB Muhaimin Iskandar yang diangkat sebagai Panglima Santri. Sementara Anies,  yang diangkat sebagai Presiden Santri oleh FormasNU, merepresentasikan kaum santri yang berada di perkotaan dengan berbasiskan pada sekolah sekolah umum dan lembaga pendidikan formal lainnya.

Kebangkitan kaum santri, lanjut pria yang pernah nyantri di salah satu pesantren di Jombang ini, tidak hanya sekedar aspek politiknya, melainkan seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, mulai dari aspek pendidikan, kebudayaan, ekonomi, dan peran yang lebih maksimal kaum santri dalam berkontribusi membangun peradaban dunia yang damai, bermartabat, dan mengedepankan nilai nilai kemanusiaan.

Representasi Kekuatan Sipil

Bergabungnya Anies-Muhaimin Iskandar, papar Rouf, juga merepresentasikan dua organisasi kemahasiswaan kader yang alumninya tersebar disemua lini kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu PMII dan HMI. “Duet AMI menjadi wadah untuk menghimpun dan menggerakkan kekuatan masyarakat sipil atau supremasi sipil dalam mensejahterakan dan memastikan keadilan ekonomi dan kue pembangunan benar benar dirasakan merata sampai perdesaan secara nyata di seluruh Indonesia,” lanjutnya.

Duet AMI (Anies Muhaimin Iskandar) diharapkan akan dapat melanjutkannya dengan skala prioritas pembangunan berikutnya yang lebih menitikberatkan kepada kontribusi nyata pada kesejahteraan dan kemakmuran rakyat kecil. “Melihat rekam jejak dan pengalaman kedua tokoh ini, baik semasa di eksekutif maupun saat di legislatif, saya yakin mereka berdua bisa, mampu dan mau menjalankannya,” urai Rouf

Bahkan duet ini diyakini, mampu menyerap dan merasakan getaran kesusahan rakyat kecil, karena mereka berdua (Anies-Muhaimin Iskandar red) lahir dan tumbuh dari rakyat kecil, bukan dari kalangan konglomerat dan pejabat yang memoles dirinya merakyat. Bergabungnya PKB dalam poros koalisi perubahan dimana sudah ada Nasdem, Demokrat, dan PKS akan semakin memperkuat koalisi partai pengusung, karena mewakili kelompok nasionalis-religius. “Jadi, koalisi ini dilihat dari aspek kepartaian adalah koalisi yang khaffah dan kokoh. Dan terpenting lagi, koalisi ini akan memastikan melawan kelompok nasionalisme sekuler yang belakang ini menjadi keresahan kalangan kiai-kiai sepuh dikalangan warga NU” jelas aktifis muda Nahdliyyin ini.

Menurutnya, gerakan sekulerisme kini massif meracuni tata nilai dan kehidupan serta pola pikir generasi muda kita, sebab daya pengaruh (influencer) mereka yang didukung oleh kekuatan modal yang kuat, khususnya melalui media sosial, telah merambah ke dunia pendidikan dan institusi pengambil kebijakan.

Makannya, tidak mengherankan, jika isu-isu sekulerisme dalam berbagai bentuk seperti LGBT, atheisme, liberalisme moral yang dibungkus HAM dan kebebasan tak terbatas mendominasi ruang publik kita. Bahkan, belakangan, wacana childfree atau pilihan hidup untuk tidak punya anak dalam perkawinan mengemuka dengan mendompleng program penanganan stunting yang sedang digalakkan oleh Wapres KH. Ma’ruf Amien.

“Untungnya, Wapres tegas menolak wacana childfree, karena bertentangan dengan nilai agama dan fitrah manusia. Para pendiri bangsa ini sudah final meletakkan negara kita bukan negara sekuler, meski juga bukan negara agama (teokrasi). Negara kita adalah negara yang berdasarkan nilai nilai agama dan berideologi kan Pancasila. Saripati dari nasionalisme dan religiusitas itu ada dan terangkum dalam Pancasila. Maka, Agama dan Pancasila adalah satu tarikan nafas dan tidak boleh dipertentangkan. Sehingga, siapapun yang berusaha memisahkan agama dan negara tentu akan kita lawan,” pungkas Rouf. ***

Penulis     :   M Arpas

Editor       :   Budiana 

BERITA POPULER

To Top