Nasional

DPR Ramah Anak Muda antara Kenyataan dan Harapan

DPR Ramah Anak Muda antara Kenyataan dan Harapan
Suasana Gedung DPR RI/foto: John

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Memasuki usia Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang ke-80 tahun, harapan masyarakat agar anak muda tampil lebih banyak menjadi anggota lembaga tersebut tampaknya masih menemui ruang hampa. Bagaimana tidak. Keterwakilan anak muda di DPR yang sebagian dikenal dengan Generasi Z (Gen Z) tidak saja tergolong rendah, tetapi malah mengalami penurunan setidaknya sejak empat periode Pemilu terakhir.

Menurut siaran pers lembaga penelitian Centre for Strategic and International Studies (CSIS), pada Pemilu 2009 anak muda tercatat 23,2% dari seluruh anggota DPR, atau sebanyak 130 orang dari 560 anggota parlemen saat itu. Akan tetapi, angka itu turun menjadi 17,7% pada Pemilu 2014 atau hanya sebanyak 32 orang, menurut dokumen tersebut seperti dikutip, Kamis (26/9/2024).
Sedangkan pada Pemilu terakhir tahun 2024, hanya ada 15,0% anak muda dari 580 anggota DPR yang dilantik di Senayan, setelah turun dari 16% pada pemilu 2019. Artinya, kini hanya ada 87 orang anak muda dalam kisaran usia 35 tahun dari 580 anggota DPR yang tersebar di delapan partai politik.

Memang angka yang cukup menggembirakan pernah terjadi pada tahun 2009 karena banyaknya Aktivis 98 terpilih sebagai anggota DPR mewakili anak muda. Beberapa dari mereka yang dapat dikategorikan usia muda pada periode tersebut antara lain Nova Riyanti Yusuf dari Partai Demokrat. Wanita yang akrab disapa Noriyu itu lahir pada 1977. Gitalis Dwi Natarina juga terpilih jadi anggota DPR dari Partai Kebangkitan Bangsa pada periode yang sama dalam usia 24 tahun.

Desmon Junaidi Mahesa dari Partai Gerindra dan Eriko Sotarduga dari PDI-P juga merupakan politisi yang tergolong anak muda dari kalangan aktivis. Menariknya, sebagian besar dari mereka bukan berasal dari trah politisi atau punya hubungan keluarga dengan pendiri maupun pengurus partai politik. Bagaimanapun juga, penurunan jumlah anak muda di Senayan bisa disebut sebagai paradoks politik kalau DPR merupakan perwujudan dari keterwakilan rakyat Indonesia secara proporsional. Pasalnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencatat persentase pemilih dari kalangan anak muda pada pemilu terakhir mencapai 55%. Angka ini setara dengan 112.643972 orang dari 204.807.222 pemilih yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) di KPU. Kondisi ini menegaskan kalau DPR belum dalam posisi ramah anak muda sebagaimana yang diharapkan.

Minat dan kendala anak muda menjadi politisi

Akan tetapi, terlepas dari apakah mereka berasal dari kalangan trah politik atau bukan, yang jelas pertanyaan yang perlu dijawab adalah mengapa anak muda kurang tertarik untuk menjadi politisi. Lalu, bagaimana menjadikan lembaga DPR sebagai rumah besar yang ramah bagi anak muda untuk berkarir, juga menjadi pertanyaan penting.

Emir Aqsha Alfarabi, seorang mantan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IPB University, mengakui dirinya sebenarnya berminat menjadi anggota DPR. Hanya saja Gen Z kelahiran 2002 tersebut mengatakan tidak mudah untuk menjadi seorang politisi Senayan karena harus melalui pintu masuk yang tidak mudah. Ketika ditanya apa kendalanya, Emir mengaku selain harus masuk partai politik yang belum tentu menjanjikan karir yang adil karena kuatnya nepotisme, juga dibutuhkan modal finansial yang cukup untuk mempersiapkan diri maju sebagai calon anggota legisilatif. “Saya sebenarnya berminat jadi anggota DPR, tapi masuknya sepertinya tidak mudah. Harus pakai duit juga. Kini banyak anak-anak pimpinan partai yang jadi anggota DPR karena pengaruh orang tua mereka,” ujar Emir ketika ditanya soal minatnya menjadi anggota DPR.

Apa yang dikatakan Emir agaknya cukup beralasan. Apalagi memang anak muda yang lolos ke Senayan pada masa bakti periode 2024-2029 banyak berlatar belakang punya hubungan keluarga politisi. Ada anak tokoh pendiri partai maupun putri dari pimpinan partai politik di antara mereka.

Diah Pikatan Orissa Putri Hapsari yang akrab disapa Pinka misalnya. Pinka adalah putri Ketua DPR Puan Maharani dan cucu Ketua Umum PDI-Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Dalam usia 25 tahun, Pinka terpilih melalui partai yang dipimpin neneknya dengan raihan 101.125 suara dari daerah pemilihan Jawa Tengah VI. Berikutnya ada nama Annisa Maharani Al Zahra Mahesa, putri politisi Gerindra, almarhum Desmon Junaidi Mahesa.

Di usia 23 tahun Gen Z dari Partai Gerindra ini kini tercatat sebagai anggota DPR termuda dari daerah pemilihan Banten II. Masih menurut data dari CSIS terkait trah politik di Senayan, ternyata sebanyak 138 dari 580 anggota DPR saat ini memiliki hubungan dengan dinasti politik atau 23,8% dari total anggota DPR.

Profesi sebagai politisi dan citra DPR

Lain pandangan Emir, lain lagi pendapat Sastilla El Nadhira, seorang alumni Telkom University kelahiran 1998 yang akrab dipanggil Dira. Aktivis kampus itu mengaku belum melihat jabatan anggota DPR sebagai peluang profesi yang menjanjikan. Hal itu disebabkan munculnya jenis pekerjaan baru sebagai dampak dari transformasi teknologi. “Saya rasa masih banyak peluang kerja lain. Lagi pula kerja jadi politisi karirnya tidak pasti selain sering terjebak kasus korupsi. Masih banyak profesi yang lebih menjanjikan,” ujar Dira yang saat ini bekerja sebagai staf keuangan di sebuah perusahaan swasta di kawasan Jakarta Pusat.

Secara tidak lagsung dia mengisyaratkan citra DPR di mata anak muda tidak baik-baik saja, terutama terkait sejumlah kasus korupsi yang menimpa anggota lembaga perwakilan rakyat. Mungkin tidak perlu diberi contoh soal yang terakhir ini karena pemberitaan soal kasus korupsi wakil rakyat sangat mudah diperoleh di media massa maupun lewat media sosial. Akan tetapi, ada hal menarik dari hasil wawancara dengan kedua anak muda tersebut terkait persepsi mereka terhadap produk legislasi dan perilaku para anggota DPR. Baik Emir maupun Dira sama-sama mengakui banyaknya kebijakan politik, perdebatan, dan keputusan DPR yang menggunakan istilah yang tidak ramah anak muda. Mereka berpendapat bahwa istilah dan diksi yang digunakan sulit dipahami oleh orang awam.

Mereka sependapat kalau dokumen hukum, pidato politik, atau berita mengenai kebijakan publik sering menggunakan istilah teknis yang membingungkan anak muda. Dengan demikian, Gen Z yang baru mulai tertarik dengan politik merasa kewalahan dan akhirnya memilih untuk tidak mengikuti berita politik, ujar mereka.

Apa yang disampaikan oleh kedua anak muda tersebut agaknya perlu mendapat perhatian kalau DPR ingin menjadi rumah yang ramah bagi anak muda ke depan. Ketika diminta pendapatnya soal peluang anak muda masuk ke parlemen, Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Siti Zuhro membenarkan kalau pada setiap Pemilu legislatif, kelompok Generasi Z hanya dijadikan tempat meraup suara oleh calon anggota DPR. Sedangkan pintu masuk melalui partai politik tidak mudah untuk ditembus oleh mereka. Pasalnya, banyak dari anak muda yang dapat rekomendasi untuk berjuang ke ke Senayan berasal dari keluarga politisi. “Benar, Gen Z ini hanya dijadikan tempat mendulang suara dan mereka yang terpilih banyak berasal dari keluarga politisi juga,” ujar profesor riset tersebut usai sebuah diskusi di Senayan, Rabu (10/9/2025).

Memang kegiatan berpolitik, masuk partai politik, dan menjadi anggota DPR merupakan hak semua warga negara termasuk Gen Z. Semua itu dijamin dalam konstitusi. Akan tetapi, masih banyaknya anggota DPR dari kalangan anak muda yang punya hubungan trah politik, belum memberi ruang yang adil bagi Gen Z lainnya untuk tampil di Senayan. Sedangkan untuk membuat DPR lebih akrab dengan anak muda, para wakil rakyat agaknya juga perlu menggunakan istilah yang ramah anak muda. Apalagi kalau istilah tersebut digunakan dalam produk legislasi dan kebijakan publik.

Terakhir, selain berupaya membangun citra sebagai lembaga perwakilan rakyat yang bersih dari praktik korupsi, para anggota DPR juga diharapkan mampu memberi contoh perilaku yang baik sehingga bisa dijadikan idola anak muda. Dengan demikian, DPR benar-benar menjadi rumah rakyat yang ramah anak muda untuk bernaung.***

Penulis    :   John Andhi Oktaveri

Editor      :   John Andhi Oktaveri

BERITA POPULER

To Top