Market

Dorong Swab Mandiri, Puan Minta Pemerintah Kendalikan Harga Tes Swab

Ilustrasi Test Swab/Kompas.com

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM–Ketua DPR Puan Maharani minta pemerintah mengendalikan tingginya tarif harga tes swab mandiri yang dibandrol seharga Rp 1,7juta hingga Rp 2juta. Sebagai langkah penting dalam pengendalian dan penanganan penyebaran virus korona (covid-19). “Jadi masyarakat bisa melakukan tes swab mandiri,” katanya di, Jakarta, Selasa (29/9/2020).

Menurut Puan, pengendalian tarif tes swab dengan cara menetapkan tarif harga minimum dan terjangkau. Akan mendorong kesadaran serta minat masyarakat untuk melakukan tes swab mandiri.”Meminta Pemerintah agar pelaksanaan tes swab harganya dikendalikan dengan menurunkan harga minimum yang terjangkau, ada standarisasi harga,” ujarnya.

Dengan pengendalian tarif harga tes swab itu, kata Puan, diyakininya pemerintah akan terbantu dalam penanganan pandemi covid-19 secara menyeluruh. Karena akan terjadinya kesadaran untuk tes swab mandiri yang terbangun di tengah masyarakat.

Kesadaran masyarakat pun harus ditingkatkan demi memutus mata rantai covid-19. Terutama disiplin menjalankan protokol kesehatan seperti mengenakan masker, menjaga jarak, dan sering mencuci tangan.“Saya minta penanganan covid-19 punya standarisasi atau pakem yang jelas di seluruh Indonesia,” pungkasnya.

Sebelumnya, Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan pemerintah sedang menyiapkan standardisasi biaya tes swab PCR (polymerase chain reaction).

Satgas Penanganan COVID-19 mengatakan hingga kini pemerintah masih memproses pembahasan mengenai hal tersebut. “Terkait harga swab test PCR, pemerintah masih dalam proses untuk menyamakan pagu swab test PCR di Indonesia,” katanya dalam konferensi pers yang ditayangkan di YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (24/9/2020).

Wiku mengatakan, jika telah disepakati standar harga tes swab PCR, nantinya akan diinformasikan kepada masyarakat. Pemerintah mengungkap akan mengupayakan agar harga tes swab terjangkau bagi masyarakat. “Segera setelah kita mendapatkan hasilnya, akan kami umumkan kepada masyarakat dan kami berusaha keras agar masyarakat bisa mendapatkan harga yang termurah dan terjangkau,” ujarnya.

Sementara itu, Wiku menjawab terkait rapid test yang belakangan disorot sebagai kurang akurat untuk mendeteksi Corona. Karena rapid test digunakan sebagai metode screening, bukan diagnosis Corona. “Jadi rapid test itu merupakan metode screening, bukan diagnosis. Sampai saat ini rapid test masih digunakan sebagai prasyarat dalam melakukan perjalanan sesuai dengan peraturan yang diterbitkan oleh Kemenhub,” pungkasnya. ***

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top