Nasional

DNIKS: Generasi Z Harus Dapat Kesempatan Setara Untuk Berkarya

DNIKS: Generasi Z Harus Dapat Kesempatan Setara Untuk Berkarya
Dya saat menjadi pembicara dalam forum Gen Z Speaks: "Aware or Controlled?" yang diselenggarakan Universitas Mercu Buana bersama Spectaumb Event Organizer di Swissôtel Jakarta PIK Avenue, Sabtu (4/7/2026)/Foto: DNIKS

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM – Ketua Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), Dya Loretta, menegaskan bahwa masa depan Indonesia hanya dapat dibangun apabila seluruh generasi muda, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkarya, dan berkontribusi.

Pesan tersebut disampaikan Dya saat menjadi pembicara dalam forum Gen Z Speaks: “Aware or Controlled?” yang diselenggarakan Universitas Mercu Buana bersama Spectaumb Event Organizer di Swissôtel Jakarta PIK Avenue, Sabtu (4/7/2026).

DNIKS: Generasi Z Harus Dapat Kesempatan Setara Untuk Berkarya

Dalam forum yang juga menghadirkan rapper JFlow, komika Pandji Pragiwaksono, pendiri Distrik Berisik Rian Fahardhi, serta dimoderatori Dr. Gadis Octory, Dya mengajak Generasi Z memandang inklusivitas sebagai fondasi penting dalam membangun masa depan.

Menurut Dya, Generasi Z hidup pada era yang menawarkan beragam peluang di bidang teknologi, ekonomi kreatif, komunikasi, kewirausahaan, olahraga, hingga seni. Namun, peluang tersebut baru memiliki makna apabila dapat diakses secara setara oleh seluruh anak muda tanpa terkecuali. “Generasi Z memiliki kesempatan yang luar biasa untuk berkarya. Yang perlu kita pastikan adalah kesempatan itu dapat diakses secara setara dan inklusif, termasuk bagi teman-teman penyandang disabilitas. Inklusivitas bukan tentang memberi belas kasihan, melainkan memberikan ruang agar setiap orang dapat menunjukkan potensinya,” ujar Dya.

Sebagai Dosen Universitas Mercu Buana ini menilai keberagaman merupakan modal sosial yang harus terus diperkuat. Pembangunan Indonesia membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat, termasuk kelompok rentan yang selama ini masih menghadapi berbagai hambatan dalam memperoleh akses pendidikan, pekerjaan, dan ruang publik.

Ia menambahkan bahwa pendekatan inklusif tidak cukup diwujudkan melalui kebijakan, tetapi juga melalui perubahan cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas.

Dalam kegiatan tersebut, Dya juga mengajak sejumlah Generasi Z penyandang disabilitas yang telah mencatatkan berbagai prestasi agar tampil di hadapan peserta. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk berprestasi apabila diberikan kesempatan.

Salah satunya adalah Nabil, mahasiswa Tuli yang berhasil meraih juara nasional Kompetisi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bagi penyandang disabilitas.

Turut hadir pula Andre Genta, psikolog, dosen, penyandang cerebral palsy, sekaligus atlet Hyrox. Selain itu, ada Iin Nurjanah, atlet penyandang disabilitas daksa yang aktif memberdayakan pelaku UMKM melalui komunitas Difa Nusantara.

Forum tersebut juga menghadirkan Rania, mahasiswi penyandang disabilitas daksa yang aktif menulis tentang isu inklusi, Alika yang berkiprah sebagai model dan penari dengan Down Syndrome, serta Namira, Jevon, dan Felice, generasi muda dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) yang menampilkan berbagai potensi kreatif mereka.

Menurut Dya, menghadirkan mereka dalam satu panggung bersama tokoh-tokoh publik merupakan bentuk edukasi yang efektif untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap disabilitas. “Anak-anak muda ini tidak hanya membutuhkan simpati. Mereka membutuhkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka. Ketika masyarakat melihat langsung karya dan prestasi mereka, stigma perlahan akan berubah menjadi penghargaan,” imbuhnya.

Mengusung tema “Aware or Controlled?”, forum tersebut tidak hanya membahas pemanfaatan media sosial dan perkembangan teknologi, tetapi juga pentingnya membangun karakter, menjaga kesehatan mental, berpikir kritis, serta memperkuat jejaring kolaborasi lintas profesi dan komunitas.

Bagi Dya, kecakapan digital harus berjalan seiring dengan meningkatnya kepedulian sosial.

“Kemajuan teknologi harus diiringi dengan kemajuan cara berpikir. Kita tidak hanya membutuhkan Generasi Z yang cerdas secara digital, tetapi juga memiliki empati, mampu menghargai keberagaman, dan siap bekerja bersama siapa pun tanpa memandang latar belakang maupun kondisi fisik,” ujarnya.

Dya menegaskan, masa depan Indonesia akan semakin kuat apabila seluruh generasi muda memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.”Ketika kita membuka kesempatan yang setara, kita tidak hanya mengubah hidup seseorang. Kita sedang membangun masyarakat yang lebih adil, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi masa depan. Pada akhirnya, setiap Generasi Z berhak didengar, dipercaya, dan diberi kesempatan untuk bersinar,” tutur Dya.

Melalui forum tersebut, pesan mengenai pentingnya inklusivitas tidak hanya disampaikan melalui diskusi, tetapi juga diwujudkan dengan menghadirkan anak-anak muda penyandang disabilitas sebagai bagian dari panggung inspirasi. Langkah itu menjadi pengingat bahwa prestasi tidak ditentukan oleh keterbatasan, melainkan oleh kesempatan, kerja keras, dan keberanian untuk terus berkarya.***

Penulis   :  Eko Cahyono

Editor     :  Eko Cahyono

BERITA POPULER

To Top