JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM -Kementerian Keuangan mengungkapkan berbagai jenis subsidi energi belum tepat sasaran, misalnya
subsisi LPG 3 kilogram (kg), subsidi BBM jenis solar, dan subsidi listrik.
Hingga saat ini ternyata lebih banyak penduduk kaya yang menikmati subsidi LPG 3 kg dibanding penduduk
miskin.
“40 persen penduduk termiskin menikmati 36,4 persen dari budget subsidi. Tetapi 40 persen penduduk terkaya malah menikmati hampir 40 persen dari budget subsidi,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu
Febrio Kacaribu di Jakarta (26/6/2020).
Lebih jauh kata Febrio, pemerintah saat ini perlu melakukan transformasi kebijakan penyaluran
subsidi. Reformasi penyaluran subsidi harus segera dilakukan. Pasalnya, dengan skema subsidi terbuka untuk LPG 3 kg dan BBM solar seperti yang berlaku saat ini terjadi pemborosan pada anggaran. “Sebab, tak hanya membebani anggaran dari sisi impor yang terus membengkak dan harga komoditas yang bergejolak, di sisi lain kebutuhan subsidi terus meningkat,” ungkapnya.
Dari sisi realisasi, kata Febrio penyaluran subsidi berbasis orang sama seperti program keluarga harapan (PKH), kartu sembako, kartu Indonesia pintar (KIP), dan bantuan sosial (bansos) lainnya lebih baik dibandingkan penyaluran subsidi energi.
Oleh karenanya, Febrio mengungkapkan pemerintah mengusulkan skema penyaluran subsidi energi pada 2021 berbasis orang atau sama seperti program bansos.
Pengubahan skema penyaluran, dikatakan Febrio juga karena kurang efisien lantaran selalu menimbulkan masalah kurang bayar yang menjadi piutang pemerintah kepada PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero) setiap tahunnya.
“Ini harus dibenerin, di-reform. Ini sesuatu yang harus dilakukan segera jangan ditunda lagi, ini harapan kita,” pungkasnya. ***








