Perbankan

Bebani Keuangan Negara, Puluhan BUMN Rugi Didesak Segera Ditutup

Bebani Keuangan Negara, Puluhan BUMN Rugi Didesak Segera Ditutup
Anggota Komisi VI DPR Fraksi Nasdem, Rudi Hartono Bangun/Foto: Dok Pribadi

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Kalangan DPR minta Meneg BUMN Erick Tohir agar serius menutup
BUMN yang terus menerus mengalami kerugian. Seluruh BUMN yang sakit dan sekarat karena merugi dan salah kelola sudah selayaknya ditutup. Adapun BUMN yang terindikasi sudah tidak beroperasi lagi, antara lain PT.Merpati Nusantara Airline (MNA), PT Industri Gelas, PT Barata Indonesia, PT.Istaka Karya, PT.Kertas Leces, PT Industri Sandang Nusantara, PT. Pembiayaan Armada Niaga Nasional, dan PT Kertas Kraft Aceh.

“Jadi jangan setengah hati, apalagi ragu-ragu membubarkan BUMN rugi,” kata Anggota Komisi VI DPR, Rudi Hartono Bangun kepada suarainvestor.com melalui pesan WhatApp (WA) di Jakarta, Minggu (28/11/2021).

Legislator dari Dapil Sumut III ini memberikan contoh keberadaan PT Merpati Nusantara Airline (MNA) yang tak beroperasi selama ini. Namun masih menggaji jajaran direksi dan komisarisnya. “Tentu ini membebani keuangan negara, karena negara harus terusmengeluarkan biaya untuk mengurusi BUMN yang sudah mati,” ujarnya.

Selain MNA, kata anggota Fraksi Nasdem, begitupun dengan PT.Industri Gelas yang sudah tidak aktif lagi. Namun masih ada karyawan dan direksi yang harus dibayarkan gajinya oleh negara. “Hal-hal seperti ini harusnya diambil langkah tegas, tutup saja dan bubarkan. Karena lama-lama akan membuat keuangan negara menjadi jebol,” paparnya.

BUMN lainnya yang sekarat, yakni PT.Istaka Karya. Meski sudah dalam tahap pembubaran, kata Rudi, anehnya masih mencari kontrak kerja ke Pemda-Pemda. Bahkan masih mengerjakan proyek besar di Pemda dan malah membuat mitra subkontraktor baru.

Menurut Rudi, kewajiban membayar BUMN ini tentu akan sulit dan akhirnya subkon ini menjadi kebingungan dan datang mengadu ke DPR RI terkait nasibnya, seperti yang dialami PT.Barata Indonesia. “Itu semua akibat setengah hati mengambil keputusan pembubaran. Sehingga pihak di internal perusahaan terus bermain
,” paparnya. ***

Penulis  : Iwan Damiri
Editor    : Kamsari

 

BERITA POPULER

To Top