JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM– Hasil survei dari lembaga Indikator Politik Indonesia (IPI) terkait program makan bergizi gratis (MBG) menyebutkan bahwa 46,9 persen responden menganggap program makan bergizi gratis berpotensi dikorupsi dan hanya 43,1 persen yang percaya program ini bebas dari korupsi. “Temuan survei itu merupakan sinyal bagi aparat penegak hukum dan pemerintah untuk memastikan pelaksanaan makan bergizi gratis berjalan bersih dan tidak masuk ke kantong pribadi,” kata peneliti utama Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, Senin (27/1/2025).
Lebih jauh Burhanuddin menjelaskan bahwa survei itu juga menunjukkan bahwa 91,3 persen responden mengetahui adanya program MBG. “Dari jumlah tersebut, 64 persen responden mengaku sangat puas terhadap pelaksanaan program tersebut, namun 28 persen menyatakan kurang puas,” ujarnya lagi.
Meski tingkat kepuasan cukup tinggi, kata Burhanuddin, angka 28 persen yang menyatakan kurang puas ini perlu menjadi perhatian pemerintah. “Program MBG membutuhkan evaluasi agar dapat lebih baik menjawab kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Lebih lanjut, 87 persen responden menyatakan setuju terhadap keberadaan program MBG, menunjukkan dukungan publik yang signifikan terhadap inisiatif ini. Namun, tingkat kepuasan hanya mencapai angka 60-an persen, lebih rendah dibandingkan tingkat dukungan. “Artinya, ada masyarakat yang setuju dengan program ini, tetapi belum puas dengan pelaksanaannya. Pemerintah perlu mengevaluasi agar kepuasan masyarakat dapat sejalan dengan tingkat dukungan,” tuturnya.
Adapun mayoritas responden menilai makan bergizi gratis akan efektif dalam memenuhi kebutuhan pangan dan mengentaskan stunting. Namun, apakah pelaksanaan MBG tepat sasaran, hanya 63 persen yang percaya, sementara sepertiga responden tidak yakin program ini benar-benar menjangkau mereka yang membutuhkan. “Ketidakpercayaan sepertiga responden terhadap ketepatan sasaran MBG perlu diwaspadai,” ujar Burhanuddin.
“Pemerintah harus memastikan distribusi program ini benar-benar menjangkau masyarakat yang benar-benar paling membutuhkan agar manfaatnya optimal,” kata dia.***
Penulis : Eko Cahyono
Editor : Eko Cahyono








