Industri & Perdagangan

Soal Larangan Ekspor Batu Bara, Banggar Salahkan PLN Tak Miliki Perencanaan

Soal Larangan Ekspor Batu Bara, Banggar Salahkan PLN Tak Miliki Perencanaan
Ketua Banggar DPR Said Abdullah: Kebijakan rem mendadak batu bara ini sangat tidak baik bagi iklim usaha/Foto: Anjasmara

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, MH Said Abdullah mengkritik manajemen PT.PLN yang tak memiliki perencanaan baik terkait konsumsi batu-bara. Padahal konsumsi batu bara PLN bisa di bawah 100 juta ton pada 2020. Kemudian naik menjadi 115,6 juta ton pada 2021 dan kebutuhan pada 2022 diprediksi 119 juta ton pada 2022. “PLN seharusnya melakukan perencanaan dan memiliki prediksi atas supply and demand batu bara nasional dan global. Sehingga tidak strategis dengan tiba-tiba mengumumkan menipisnya cadangan batu baranya,” katanya kepada wartawan, di Jakarta, Senin (3/01/2022).

Menurut Said, bila pada jauh-jauh hari PLN bisa memperbaiki perencanaan stok batu bara, maka kementerian ESDM tidak serta merta menarik rem mendadak, melarang ekspor batu bara.  Dengan perencanaan stok batu bara yang tidak baik dari PLN, mengakibatkan kenaikan Harga Batubara Acuan (HBA) tidak dapat menjadi berkah bagi perusahaan dan negara. Padahal, melalui ekspor batu bara, negara dapat menikmati tingginya pendapatan negara. “Bahkan setelah 12 tahun kita shortfall pajak, tahun 2021 kemarin penerimaan perpajakan tembus 100 persen dari target,” ungkapnya.

Untuk itu, Said mengatakan PLN dan Kementerian ESDM secepat mungkin wajib membenahi manajemen suplai batu bara ini agar larangan kebijakan ekspor batu bara tidak berlangsung lama. “Kebijakan rem mendadak ini sangat tidak baik bagi iklim usaha. Padahal Presiden Joko Widodo rela melakukan banyak hal agar iklim usaha tumbuh subur. Kebijakan seperti ini kita minta tidak terulang lagi di masa mendatang,” ungkapnya.

Lebih lanjut, politisi PDI-Perjuangan ini menekankan PLN harus melakukan efisiensi. Menurutnya, ketiadaan pesaing yang dirasakan PLN saat ini sebagai pemain tunggal listrik nasional, telah membuat PLN tidak kompetitif dan malah cenderung merugi dan senantiasa menyusu kepada APBN. “Keadaan ini sangat tidak baik. Sekedar untuk mengatur manajemen stok batu bara saja tidak kompeten, apalagi harus bersaing menghadapi tantangan ke depan,” seru Anggota Komisi XI DPR RI tersebut.

Oleh karena itu, Said mendesak pemerintah perlu memastikan ketersediaan cadangan batu bara nasional melalui sejumlah produsen batu bara besar. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan kelangsungan suplai listrik nasional. Sebab, konsumsi batu bara Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan sejumlah produsen listrik swasta lainnya naik pada 2021. Hal ini disebabkan oleh sektor rill yang mulai meningkat seiring dengan stabilnya angka penyebaran Covid-19 di tanah air.

Diketahui, Indonesia merupakan negara ketiga terbesar penghasil batu bara dunia. Oleh sebab itu, Said memperkirakan batu bara masih akan menjadi produk primadona, terlebih tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19 masih merajalela di sejumlah negara dan mengakibatkan permintaan suplai listrik masih akan tinggi. Selain itu, harga batubara juga diperkirakan masih akan berada di kisaran 120 dolar AS per ton. ***

Penulis      :   Iwan Damiri
Editor        :   Kamsari

 

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top