Industri & Perdagangan

Sektor Manufaktur Butuh Kebijakan Fiskal

SURABAYA-Posisi industri manufaktur Indonesia berdasarkan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) pada 2016 berada di level 10, setelah Prancis dan Brasil. Oleh karena itu, untuk menggenjot industri manufaktur, maka dibutuhkan harga energi (gas dan listrik) yang kompetitif dan kebijakan fiskal yang berpihak kepada industri.
“Langkah ini dapat memberikan efek ganda (multiplier effect) yang positif bagi perekonomian nasional,” kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto saat membuka workshop pendalaman kebijakan industri di Surabaya, Senin (17/4/2017).

Selain itu, kata mantan Ketua Komisi VI DPR, perlu adanya kebijakan insentif fiskal yang saat ini mundur-maju, maka Kemenperin menginginkan adanya kejelasan industri itu mendapatkan atau tidak.
Harga gas industri dan listrik yang kompetitif dapat mendorong posisi industri manufaktur Indonesia naik ke posisi tujuh dunia. Kunci utama kita bisa loncat itu, harga gas dan listrik bisa kompetitif, maka bisa loncat ke nomor 7. “Rata-rata harga gas untuk sektor industri di level 9,5 dolar AS per million metric british thermal unit (MMBTU), angka tersebut masih terbilang tinggi dibandingkan negara-negara di ASEAN. Adapun permintaan industri dalam negeri ke pemerintah yaitu menciptakan harga gas berdasarkan nilai keekonomian, sekitar 3 dolar AS hingga 4 dolar AS per MMBTU,” keluhnya.

Menteri Airlangga mengungkapkan saat ini Indonesia tengah berada dalam transisi dari perekonomian yang berbasis agraris menjadi perekonomian semi-industrial dalam upaya untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi nasional. Pola perekonomian subsistensi yang mengandalkan sektor primer perlahan-lahan bergeser menjadi perekonomian yang ditopang oleh sektor manufaktur. “Sektor industri manufaktur merupakan sektor yang cukup stabil dan menjadi salah satu penopang perekonomian negara di tengah ketidakpastian perekonomian dunia dengan tingkat pertumbuhan yang positif,” jelasnya.

Data terbaru dari Kementerian Perindustrian tahun 2015 menunjukkan bahwa sektor industri, khususnya sektor manufaktur non-migas mengalami pertumbuhan yang signifikan, melampaui pertumbuhan GDP Indonesia pada kuartal I tahun 2015. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi sektor industri manufaktur non-migas terhadap PDB tahun 2015 mencapai 18.18 % dengan nilai Rp 2.089 triliun. Kontribusi ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2014 yang mencapai 17.89 % dengan nilai hanya Rp 1.884 triliun

Menurut Airlangga, tingkat pertumbuhan yang pesat pada industri nasional merupakan multiplier effect dan tingginya investasi pada sektor ini. Terhitung sejak tahun 2010, trend investasi sektor industri di Indonesia terus mengalami peningkatan meskipun sempat tertahan akibat krisis finansial pada tahun 2008. Apabila ditarik lebih jauh ke belakang, pertumbuhan industri manufaktur dalam perekonomian Indonesia telah meningkat secara bertahap. “Sektor ini menjadi dominan dalam penyumbang terbesar PDB Indonesia dimana mencapai 23.37 % (migas dan non-migas), namun sektor ini hanya mampu menyerap tenaga kerja terendah sebesar 14.88 % dibandingkan dengan sektor pertanian (38.07 %) dan perdagangan (23.74 %). Hal ini bisa disebabkan karena industri manufaktur menitikberatkan pada investasi dan penggunaan teknologi menengah-tinggi ketimbang penggunaan tenaga kerja/labor,” tukasnya.

Airlangga mengatakan pertumbuhan output hasil industri dan penciptaan nilai tambah pada output dengan penguasaan teknologi manufaktur yang tinggi merupakan faktor utama bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi suatu negara. “Tantangan ke depan industri dituntut untuk mampu bersaing secara global karena produk dari luar negeri akan membanjiri pangsa pasar lokal. Selain itu, perlambatan ekonomi global yang diikuti dengan lesunya permintaan dunia akan memengaruhi kinerja ekspor dan impor nasional, sehingga industri manufaktur akan mengalami dampak kelesuan dan tidak dapat memberikan kontribusi yang maksimal kepada perekonomian nasional,” tukasnya.

Menperin optimistis industri pengolahan non-migas diproyeksikan tumbuh di kisaran 5,2-5,4 persen dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1-5,4 persen pada tahun 2017. Apalagi, pemerintah Indonesia berkomitmen menciptakan iklim investasi industri yang kondusif serta kemudahan berusaha melalui deregulasi dan paket kebijakan ekonomi. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top