Nasional

Sekjend Peran NU: Tidak Ada Masalah Soal Identitas, Semua Memakhlumi

Sekjend Peran NU: Tidak Ada Masalah Soal Identitas, Semua Memakhlumi
Sekretaris Jenderal Pergerakan Aktivis Nahdliyin Nusantara (PeranNU), Muyadin/Foto: Anjasmara

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Persoalan politik Identitas dalam membangun kekuatan politik seolah menjadi momok yang menakutkan bagi para politisi untuk menyudutkan Anies Baswedan. Narasi propaganda yang dikesankan negatif dan haram di bawah berpolitik itu belakangan kembali memenuhi jahat dunia maya.

Sekretaris Jenderal Pergerakan Aktivis Nahdliyin Nusantara (PeranNU), Muyadin Permana kepada awak media pada Kamis, (9/3/2023) di Jakarta mengatakan jika mustahil permasalahkan Identitas.”Identitas itu sebuah keniscayaan. Kalau hidup sendirian, kita tidak memiliki identitas apa-apa. Ketika hidup dengan banyak orang dengan latar belakang yang beragam, identitas itu pasti ada, dan kita biasa menyebut identitas-identitas yang kita miliki tersebut sebagai sebuah kebanggaan,” papar Mulyadin.

Dalam penjelasannya, Mantan Ketua Korcab PMII DKI Jakarta itu mengatakan bahwa pada dasarnya kita bangga sebagai orang Jawa, Sunda, Madura, Maluku, Papua, Minang, Bugis, Batak, dan sebagainya. Kita juga bangga menjadi orang Indonesia sebagai identitas kita ketika berinteraksi dengan negara-negara lain.

Lebih jauh kata dia, Kita pun bangga beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghuchu, dan kita menunjukkan identitas itu dalam keseharian kita baik dari cara kita berbicara, manyampaikan pendapat, menyampaikan salam, dan sebagainya. Begitu juga menjadi pemeluk agama Islam, misalnya, orang bangga menyebut dirinya sebagai orang NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, Alkhairaat, dan lain-lain.

Kebanggaan dengan berbagai identitas ini sudah terjadi sejak zaman dahulu hingga sekarang. Tidak pernah ada masalah dengan berbagai identitas yang kita punya. Tidak ada orang yang mempermasalahkannya karena semua orang memiliki identitas dan kita memakluminya. Orang terbiasa menyebut identitasnya dan menggunakan identitas itu dalam berbagai aspek kehidupannya. Tidak ada masalah. Semua memaklumi dan bertoleransi terhadap identitas itu.

Ketika seseorang melakukan kebaikan dan memiliki kapasitas, tidak akan ada yang mempermasalahkan identitasnya. Barack Obama menjadi presiden di negara kulit putih karena kapasitasnya. Rishi Sunak yang keturunan India bisa jadi Perdana Menteri Inggris.

Menyinggung soal Ahok yang sering dianggap gagal dalam politik karena dihadang oleh kekuatan politik identitas, menurut Mulyadin, lebih karena pernyataannya yang menista agama. “Ahok mau dipilih oleh rakyat jadi wakil gubernur dan kemudian menjadi gubernur DKI Jakarta. Ahok tidak mungkin ditolak jadi gubernur lagi jika tidak menistakan agama. Bukan karena identitasnya,” cetusnya.

Orang yang tidak bisa menerima orang lain karena identitasnya berarti dia bermasalah dengan nilai toleransi. Kaitannya dengan Grace Natalie, dikatakannya bermasalah karena tidak bisa menerima Anies Baswedan lantaran berbeda identitas dengannya. “Dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam politik, menghadirkan atau menggunakan identitas bukan masalah. Justru yang bermasalah adalah orang yang menuduh orang beridentitas lain menggunakan politik identitas seolah-olah dia sendiri tidak memiliki identitas,” imbuhnya.***

Penulis    :   Chandra

Editor      :   Chandra

Print Friendly, PDF & Email

BERITA POPULER

To Top