Opini

Mari Menghargai Martabat, Refleksi Nilai-Nilai Sumpah Pemuda Terkait Dinamika Kehidupan Kebangsaan

Mari Menghargai Martabat, Refleksi Nilai-Nilai Sumpah Pemuda Terkait Dinamika Kehidupan Kebangsaan
Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik, Idrus Marham/foto: eko

*)Idrus Marham

Firman Allah, dalam Al Quran, Artinya; Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik
daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim. (Al Quran, surat Al-Hujurat Ayat 11).

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Surat Al Hujurat · Ayat 12)

Artinya; Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(- surat Al Maidah ayat 8)

Dalam Injil
Matius 12:36-37 – Yesus memperingatkan: “Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”

Dalam Bhagavad Gītā 16.2
Ahimsa satyam akrodhas tyāgah śāntir apaiśunam. Tidak menyakiti, berkata benar, tidak marah, bersikap tenang, tidak suka menjelekkan orang lain adalah sifat yang ilahi.

Confucius mengajarkan;
“Manusia sejati hidup dalam relasi etis dengan sesamanya.”
Cicero mewasiatkan; Jadilah homo humanus – manusia yang memanusiakan

Martin Buber, sadarilah;
Manusia itu, homo dialogus – manusia adalah makhluk berdialog-Manusia yang hidup melalui relasi yang saling mengakui martabat. ***

Semenjak zaman Yunani kuno, para pemuka Yunani sudah menempatkan interaksi dan relasi sebagai instrument kemanusiaan yang sangat penting dan menentukan. Pikiran, cara berpikir, tindakan dan cara bertindak, strategi dan hasil penerapan, semua lahir di tengah dimensi kemartabatan “pergaulan”. Tak ada satu
pun yang lahir dari ruang hampa udara. Itulah filosofi mendasar dari hakekat kemanusiaan sejati.

Pejuang kita, para founding father, juga berjuang dengan menyadari dunia pergaulan. Tidak ujug-ujug maju membawa bambu runcing dan sumpah serapah! Para pahlawan datang dengan strategi perjuangan kemanusiaan berbasis intelektual, membawa konsepsi dan visi. Bagaimana membangun persatuan-kesatuan, dan itu bisa dilihat dari bagaimana mereka mengkonstruksikan fondasi Soempah Pemoeda secara brilyannnya.

Pejuang kita, para founding father, juga berjuang dengan menyadari dunia pergaulan. Tidak ujug-ujug maju membawa bambu runcing dan sumpah serapah! Dan itu bisa dilihat dari semenjak sebelum Bung Karno membacakan pledoi “Indonesia Menggugat”-nya, momentum gerakan kebangkitan nasional 1908, telah lahir menjadi titik tolak gerakan kebangsaan.

Dari lahirnya Budi Utomo dan organisasi organisasi perjuangan lainnnya, muncul kesadaran baru bahwa perjuangan tidak cukup dilakukan dengan berbasiskan lokal, melainkan harus berlandaskan pada persatuan dan cita-cita kebangsaan. Gerakan inilah yang menumbuhkan rasa percaya diri intelektual dan membuka jalan bagi lahirnya generasi pejuang yang berpikir strategis dan visioner. Para pejuang datang dengan strategi perjuangan kemanusiaan berbasis intelektual, membawa konsepsi dan visi. Bagaimana membangun persatuan– kesatuan, dan itu bisa dilihat dari bagaimana mereka mengkonstruksikan fondasi Soempah Pemoeda secara brilyannnya.

Melahirkan ide gagasan bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia; berbangsa yang satu, bangsa Indonesia dan berbahasa persatuan, bahasa Indonesia, jelas bukan pemikiran yang sesederhana membuat meme. Jauh dari itu! Karena ia butuh visi dan ketajaman berpikir, penuh kontemplasi yang panjang. Butuh dua kali kongres pemuda di masa itu.

Para tokoh bangsa tampil elegan memperjuangkan hak kemanusiaan, sehingga cakupannnya, tidak hanya local dan situasional tapi lebih jauh dari itu, sampai ke konsep kemanusiaan yang universal. Menunjukkan bahwa para pendiri bangsa adalah pejuangan intelektual, pejuang bangsa dan sekaligus pejuang kemanusiaan.

Bahwa dalam dunia praktis, “pergaulan” itu didefinsikan sebagai bentuk dialog, interaksi perjuangan, atau diplomasi, itu lebih terletak pada sisi kontekstualitasnya saja. Substansinya, ada pada komitemen untuk membuka dan membangun pergaulan yang setara dan bermartabat. Dan itu yang dinilai mengagumkan oleh para pemikir Belanda ketika mengomentari bagaimana dewasanya pidato ideologis seorang Soekarno di depan pengadilan Landraad, di Bandung, 2 Desember 1930. Di pengadilan iu, Soekarno bukan hanya mengajak
Belanda membuka mata dan melihat keasasian perjuangan bangsa ini, tapi juga melek melihat bagaimana keasasian humanis secara universal.

Dalam pidato ideologis yang bisa dikata paling kritis di zamannya, Soekarno tak tersurat sekali pun, ucapkan hinaan kepada bangsa Belanda. Tak ada sumpah serapah. Meski yang menjadi lawannya kala itu sang musuh bebuyutan, kolonial Belanda. Lalu apakah kala itu Bung Karno kehilangan daya kritisnya? Tidak ! Ia tampil elegan, cemerlang dan kritis tanpa sedikit pun kehilangan marwah sebagai pejuang sejati.

Ia bergeliat tajam ketika mengungkap kebenaran historis, kejernihan konsepsional dan ketajaman factual. Ia berkonfrontasi kritis dengan pikiran, pemikiran, perilaku dan keyakinan colonial dan imperialisme. Ia gagah dan tetap beretika ketika berduel melawan argumentasi pemikiran, berhadapan dengan para hakim Belanda. Ia mengutip sejumlah pemikir Belanda yang bergaul-sepandangan dengan martabat kemanusiaan, sebagai amunisi perlawanan intelektualnya.

Apa yang hendak disimpulkan dari peristiwa itu, Soekarno menunjukkan etika yang luar biasa. Soekarno elok, menunjukkan bagaimana kehandalan beretika merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari martabat intelektualitas seseorang. Etika menjadi sesuatu yang dihadirkan di setiap lini perjuangan anak bangsa. Tidak ada hinaan fisik, rasis, sumpah serapah dan sejenisnya yang mewarnai pledoinya.

Itu karena bobot dan senjata intelektual para pejuangan zaman itu kaya dengan amunisi intelektualitas. Soekarno menggunakan pola identifikasi “kita” dan “kalian” dalam perspektif penuh argumentasi intelektual, tanpa kedangkalan identifikasi, tanpa kerendahan nalar yang rasistik. Tanpa caci, tanpa hinaan, tanpa sumpah. Soekarno dan kawan-kawan, paham dan matang memahami target perjuangan. Soekarno bukan golongan orang “salah kaprah”, yang merasa seratus persen memperoleh pengakuan, ketika ia bisa menghina, meremehkan dan melecehkan fisik seseorang. Dalam dunia kelelakian, itu karakter yang tidak jantan!

Dari para pejuang, sudah sepatutnya kita memetik pelajaran berharga tentang bagaimana mereka merajut nilai-nilai relijius, etika, intelektual, pluralitas dan filsafat menjadi satu kesatuan sikap dan pemikiran yang jernih. Sungguh tidak mudah menyatukan hati, pikiran dan rasa kebatinan menjadi satu komitmen yang kokoh. Namun itulah yang berhasil dibangun para pejuang dan bertahan hingga hari ini, menjadi perasaan bersama yang kita abadikan dalam “Sumpah Pemuda”.

Hingga saat ini, ikrar itu tetap hidup sebagai komitmen yang sejati. Ia bukan sekadar momentum historis, melainkan peristiwa batin yang menandai lahirnya kesadaran kolektif bangsa. Pada hari itu, ikatan sesama anak bangsa dibangun di atas fondasi nilai-nilai agama, etika, rasionalitas, dan penghargaan terhadap pluralitas-dengan pandangan jauh ke depan. Bangsa ini membangun persatuan bukan dengan meniadakan perbedaaan, tetapi dengan meneguhkan kehendak luhur untuk hidup bersama dalam keberagaman yang bermartabat.

Sumpah Pemuda menjadi titik di mana persatuan menjelma menjadi batin bangsa—kekuatan spiritual, moral dan intelektual yang menyatukan keragaman menjadi energi kebangsaan. Di sanalah Indonesia menemukan jiwanya: bahwa kesejatian bangsa ini tidak mungkin tumbuh dari kebencian, dari sikap yang merendahkan martabat kemanusiaan sesama anak bangsa. Karena itu sungguhnya sangat memprihatinkan ketika muncul fenomena yang bertolak belakang dengan semangat itu – ketika di ruang public muncul meme yang rasis, yang mengejek dan menghina sosok seorang Bahlil. Meme itu sama sekali tanpa empati dan tanpa rasa hormat sedikit pun terhadap martabat kemanusiaann seorang Bahlil.

Secara ontologis, kita bukan menyampaikan protes keras, karena meme-meme itu menimpa seorang bahlil saja, tapi ini harus dilihat sebagai wujud “penafian” yang asasi terhadap seorang anak manusia – siapapun dia — yang punya hak untuk dijaga kemartabatannya. Sejujurnya, perilaku semacam ini, bukan sesuatu yang pantas menjadi gurauan digital; ia merusak komitmen batin yang tertanam dalam jiwa bangsa yang relijius, etis dan menjunjung tinggi moral kemanusiaan. Jiwa ini yang harus kita rawat dan pelihara; Jangan biarkan ia dihina atau dikoyak, bahkan segores pun; sekalipun itu, katanya, lewat gurauan meme.

Dalam dunia filsafat, menjadikan hinaan fisik sebagai instrument dialog, sudah sejak ribuan tahun lalu dicela oleh Socrates. Bagi Socrates, orang yang menghina, mencela fisik, dan merendahkan kemanusiaan orang lain melalui cemoohan dan permainan kata yang menyesatkan adalah sosok yang dangkal–karena pikirannnya belum mencapai derajat kebijaksanaan, melainkan terperangkap dalam keangkuhan batin.

Di mata Socrates itu hanya kelakuan kaum pemanipulasi retorika – kaum pepesan kosong. Karena nalarnya kosong melompong, maka yang ada di otaknya adalah bagaimana “merasa” senang, karena “merasa” bisa mempengaruhi penilaian orang lain; “merasa” puas ketika dirinya “merasa” menang! Dia bukan mencari kebenaran, tapi mencari nuansa “merasa”. Socrates mengkritik kelakuan seperti ini karena target pikirannnya dangkal, jauh dari nuansa mendidik akal budi.

Sampai hari ini, Socrates tidak pernah “merevisi” pikirannnya tentang hal ini. Para penggenggam rasionalitas hari ini bahkan lebih tajam lagi menggolongkan kelakukan seperti ini sebagai kelakuan toxic rhetoric – discourse of contempt. Ini contoh gaya komunikasi publik yang mengandalkan penghinaan sistematis terhadap lawan, untuk mengokohkan diri. Salah besar Bung! Karena ini bentuk dekadensi diskursif — Anda mau ganti ruang akal sehat publik dengan ego performatif.

Argumentasi pikiran di atas, penting dikemukakan. Terutama berkait dengan apa yang dilakukan segelintir pihak yang dengan tanpa moral kemanusiaan telah mempermainkan fisik dan narasi negative untuk “merasa” mengkritisi prestasi Menteri ESDM Bahlil Lahadia. Tulisan ini memprotes perilaku-perilaku keji seperti ini, perilaku yang tidak beretika ini, bukan hanya lantara Bahlil Lahadia itu juga Ketua Umum Golkar, Tetapi lebih dari itu, ini sangat berkaitan dengan etika dan batin kemanusiaan kita sebagai bangsa Indonesia. Kalau ada yang dirasa kurang dari kinerja Bahlil sebagai Menteri ESDM, tentu jangan permainkan fisiknya di dunia meme. Silahkan gunakan ruang intelektual Anda, dan monggo tempuh jalur komunikasi yang kondusif. Dalam konteks ini Kementerian ESDM sudah welcome.

Monggo lihat laporan terbuka yang dirilis pada bulan Oktober 2025. Di sana Kementerian ESDM, yang dinahkodai saudara Bahlil, memaparkan kinerja tahunannnya, dengan menyajikan fakta-fakta obyektif bukan data “imajiner”. Inilah wujud nyata dari komitmen keterbukaanya. Silahkan diselami dan dipelajari dengan seksama. Kita mafhumi, laporan itu disampaikan oleh saudara Bahlil untuk membangun suasana dialogis – bukan untuk menciptakan suasana antagonistic, apalagi untuk direkayasa menjadi fitnah.

Dari Peraturan Menteri ESDM No. 14 tahun 2025, bisa dilihat bagaimana perbaikan tata Kelola sumur Masyarakat, memperbolehkan sumur minyak rakyat dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), koperasi, atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan 45.000 sumur masyarakat telah diinventarisasi untuk segera dikelola, khususnya kepada koperasi, UMKM, maupun kerja sama dengan Badan Usaha Milik Daerah. Tercatat, potensi penambahan produksi dari sumur tua sekurangnya 10.000 BOPD dan penyerapan tenaga kerja sekitar dari 225 ribu orang. Minyak yang dihasilkan dari sumur masyarakat akan dibeli dengan harga setara 80% dari Indonesia Crude Price (ICP).

Di laporan itu pula bisa dilihat bagaimana Undang-Undang No. 2 Tahun 2025 dan Peraturan Pemerintah No. 39 tahun 2025, menegaskan IUP dapat diberikan kepada koperasi, UMKM, BUMN/BUMD, dan ormas keagamaan. Koperasi & UMKM 2.500 Ha Minerba; Ormas Keagamaan serta BUMN, BUMD dan Swasta bekerja sama dengan perguruan tinggi 25.000 Ha Mineral dan 15.000 Ha Batubara; Memberikan pendanaan bagi perguruan tinggi dari keuntungan pengelolaan WIUP/WIUPK.

Untuk kepentingan masyarakat yang tinggal di daerah, Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL): Realisasi 2024 sebesar 155.429 rumah tangga, target 2025 adalah 215.000 rumah tangga.

Program Listrik Desa (Lisdes) 2025 – 2029, direncanakan Percepatan penyediaan akses listrik di 10.068 lokasi untuk menjangkau 1,28 juta calon pelanggan. Pada 2025 akan dibangun di 1.285 lokasi untuk 77.616 pelanggan. Akan dilakukan langkah-langkah mempercepat Realisasi Program PLTS 100 GW. Pelibatan Koperasi Desa Merah Putih dan mendukung cold storage nelayan dan penerangan kapal dalam mendorong transisi energi terbarukan secara inklusif. Berkait dengan Proyek ketenagalistrikan strategis. AdaPLTA Jatigede (kapasitas total 26 Pembangkit 3.223 MW, Transmisi 739 kms, dan Gardu Induk 1.740 MVA); Dilakukan Peresmian 55 Pembangkit EBT (tersebar di 15 Provinsi dengan total kapasitas PLTP 350 MW dan PLTS 27 MWp).

Strategi Program Listrik Perdesaan, dilakukan dengan perluasan Jaringan (Grid Extension), PLTS Komunal + Mini Grid dilakukan melalui pembangunan pembangkit dengan memanfaatkan potensi EBT setempat untuk daerah yang sulit dijangkau perluasan jaringan listrik PLN dan masyarakatnya bermukim secara berkelompok (komunal). Contoh untuk daerah Kepulauan. Juga berkait dengan PLTS Individual + Baterai untuk melistriki desa belum berlistrik yang masyarakatnya bermukim tersebar (scattered) sehingga membangun jaringan listrik tidak dimungkinkan (membutuhkan biaya yang sangat besar).

Itu baru sebagian saja. Tentu bukan maksud tulisan ini untuk menyampaikan rangkuman kinerja Kementerian ESDM. Tulisan ini lebih ditujukan untuk menggugah lahirnya pemikiran kritis yang otentik, berakar pada etika dan tegak lurus dengan moralitas bangsa. Mari bersama-sama kita tegakkan etika dan moralistas yang telah mandarah daging dalam identitas serta kepribadian bangsa ini. Silakan tegakkan apa yang menjadi ideal kita, tapi gunakan juga cara yang ideal.

Sampaikan “pemikiran” dengan cara “berpikir”, tegakkan “kebenaran” dengan cara yang “benar”, “keadilan” dengan cara yang “adil”, demokrasi dengan cara yang “demokratis”. Cara tidak pernah mengkhianati tujuan. Pun dengan tujuan, ia tak pernah menyelingkuhi cara. Semua tujuan yang luhur tidak pernah lahir dari cara yang kontroversial, apalagi yang bersifat antagonistic.

Membiarkan meme-meme yang mengobral cibiran fisik, sebagaimana terjadi terakhir ini, cukup melelahkan harga diri kita sebagai sebuah bangsa yang menjujung tinggi martabat kemanusiaan. Sehingga membiarkannnya juga, berarti membuka peluang bagi suburnya tradisi tak beretika di dunia “maya”. Dan itu memalukan kita semua. Karena saya yakin betul bahwa pada hari ini, bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai etika dan martabatnya. Jakarta, 28 Oktober 2025. ***

*) Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik, Idrus Marham

BERITA POPULER

To Top