Pertanian

Pengusaha Dorong Percepat Intensifikasi Pertanian di Jawa Timur

Pengusaha Dorong Percepat Intensifikasi Pertanian di Jawa Timur
Pertanian di Kota Tangerang/Foto: Dok Pemkot Tangerang

SURABAYA, SUARAINVESTOR.COM- Pengusaha dari Jawa Timur mendorong pemerintah secepatnya melakukan intensifikasi pertanian, yakni meningkatkan hasil agraris dengan mengolah lahan yang ada untuk mengatasi mahalnya harga beras.
Adapun langkah intensifikasi yang perlu dilakukan, misal, yang biasanya lahan itu menghasilkan empat ton bisa ditingkatkan menjadi 6-8 ton sekali panen. “Selain itu, ada namanya indeks tanam yang biasanya dua kali menjadi tiga kali setahun,” kata Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Adik Dwi Putranto
di Surabaya, Selasa, (27/2/2024).

Hanya saja, kata Adik, hal tersebut harus dilakukan secara serius agar dapat terlaksana di seluruh wilayah dan sudah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi. “Indeks tanam-nya di Ngawi itu saat ini sudah meningkat, kalau hal itu dilakukan Insya Allah permasalahan ini bisa teratasi,” ujarnya.

Adik menjelaskan seharusnya stok beras di Indonesia, terlebih di Jawa Timur itu masih aman, namun ada permasalahan lain selain dampak cuaca El Nino yang membuat beras menjadi mahal. “Menurut saya, ada satu proses sebelum pendistribusian ke pasar agak lambat, mungkin saat pengepakan dari yang satu kuintal terus di-repacking  menjadi beberapa kilogram itu membutuhkan waktu, jadi ada sedikit keterlambatan,” terangnya lagi.

Namun begitu, Adik yakin bahwa permasalahan harga beras tinggi segera terselesaikan sebelum Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah. “Insya Allah selesai sebelum Lebaran, mungkin kurang dari sebulan selesai dan harga beras kembali normal, karena sudah sedikit menurun,” tuturnya.

Oleh karena itu, dirinya berharap agar pemerintah dan pihak terkait bisa belajar dari masalah yang terjadi saat ini dengan memilih langkah tepat agar konsumen dan petani sama-sama tidak dirugikan. “Ada kebijakan impor beras untuk menjadi stok yang telah dikeluarkan semuanya, namun jika impor-nya bersamaan dengan musim panen hal itu akan membuat harganya turun dan petani akan menangis. Tapi, jika tidak dilakukan harganya akan naik dan konsumen akan menjerit, jadi memang pendekatannya harus dikaji lebih dalam lagi,” pungkasnya.***

Penulis : Desy (Kontributor Surabaya)
Editor   : Budiana

BERITA POPULER

To Top