Market

Money Politik Bikin Potensi Caleg Terpilih Lebih Besar

Money Politik Bikin Potensi Caleg Terpilih Lebih Besar
Ketum PKB, Gede Pasek Suardika (Kiri) dan Pengamat Politik Karyono Wibowo (Kanan) Dalam Diskusi Dialektika Demokrasi/Foto: Anjasmara

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Pengaruh money politic dalam Pemilu ataupun Pilkada menunjukkan kecederungan tinggi untuk terpilih. Artinya kandidat yang memiliki banyak dana berpotensi besar memenangkan pertarungan. “Tidak bisa disangkal, pengaruh money politik itu membuat tren seseorang menjadi naik,” kata Pengamat Politik, Karyono Wibowo dalam diskusi dialektika demokrasi berthema “Evaluasi Sistem Pemilu” bersama Ketua umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Gede Pasek Suardika di Jakarta, Kamis (4/11/2021).

Direktur Eksekutif Indonesia Publik Institut (IPI) ini menceritakan pengalamannya saat menjadi konsultan politik sebuah Pilkada Bau-Bau dan Riau. Bahwa sosok calon kepala daerah yang sebelumnya tidak dikenal publik, dalam survei hanya meraih satu persen. “Namun setelah calon tersebut mengguyur melalui money politik, baik sembako maupun lain-lainnya, trendnya langsung meroket,” ujarnya.

Lebih jauh Karyono menambahkan saat dirinya melakukan survei secara terbuka kepada responden, ternyata banyak responden yang tidak jujur, alias malu-malu mengungkap pilihannya ketika menerima money politik. “Ada tiga pilihan, yakni responden yang menolak money politik. Lalu responden yang menerima money politik namun akan menentukan pilihan sesuai hati nuraninya dan responden yang menerima serta memilih sesuai dengan arahan pilihan calon. Faktanya, pemilih yang terpengaruh money politik justru lebih banyak,” ungkapnya lagi.

Sementara itu, Ketua umum PKN, Gede Pasek Suardika meminta agar pada caleg dan kader partai yang ingin bertarung tidak perlu gentar dengan para pemodal. Karena itu belum tentu menjamin. “Saya terpilih masuk Senayan dulu (Fraksi Partai Demokrat), hanya mengeluarkan modal sekitar Rp425 juta. Artinya, tidak sampai miliaran rupiah,” ungkapnya.

Namun ketika maju melalui Dewan Perwakilan Daerah (DPD), kata GPS-sapaan akrabnya, justru malah mengeluarkan dana lebih banyak sampai Rp1 Miliar. Karena saat itu, dirinya dinasehati agar membiayai saksi agar suaranya tidak hilang. “Ada dua kabupaten yang menjadi konsentrasi, yaitu Jembrana dan Singaraja. Daerah Jembrana, karena jarang saya kunjungi dan Singaraja, daerah kelahiran saya. Hasilnya, di Jembrana dapat nomor empat dan di Singaraja mendapat nomor satu,” paparnya. ***

Penulis  : Arpaso
Editor    : Budiono

 

 

 

BERITA POPULER

To Top