JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM– Bank Indonesia (BI) lagi-lagi kembali mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%.
Keputusan ini diambil melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 23-24 Mei 2022. “Keputusan ini sejalan dengan perlunya pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers hasil RDG Mei 2022, Selasa (24/5/2022).
Kebijakan ini, kata Perry, tetap mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah tingginya tekanan eksternal terkait dengan ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina. “Serta percepatan normalisasi kebijakan moneter di berbagai negara maju dan berkembang,” ujarnya.
Selain itu, lanjut Perry, bank sentral juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25 persen.
Lebih jauh Perry membeberkan sejumlah indikator yang mendorong penahanan suku bunga acuan.
1.Neraca Pembayaran
Indikator pertama yakni neraca pembayaran yang diproyeksi terus membaik, sehingga mendukung ketahanan eksternal ekonomi nasional. Tercatat pada kuartal pertama tahun ini neraca transaksi berjalan mengalami surplus sebesar 200 juta dollar AS, selaras dengan surplus neraca perdagangan yang berlanjut.
Data menunjukan, pada April 2022 neraca perdagangan RI mengalami surplus mencapai 7,6 miliar dollar AS, lebih tinggi dibandingkan surplus bulan sebleumnya sebesar 4,5 miliar dollar AS.
2.Cadangan Devisa RI
Sementara itu, ketidakpastian global menekan kinerja pasar keuangan nasional, tercermin dari arus modal investasi portofolio asing yang mencatatkan aliran modal keluar atau net outflow. “Net outflow atau aliran modal keluar pada triwulan II-2022 sebesar 1,2 miliar dollar AS, data hingga 20 Mei 2022,” kata Perry.
Namun demikian, posisi cadangan devisa RI dinilai masih tinggi sampai dengan akhir April 2022, yakni sebesar 15,7 miliar dollar AS, setara pembiayaan 6,9 bulan impor atau 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri. “Posisi cadangan devisa yang tinggi ini berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor,” katanya.
3.Nilai Tukar Rupiah
Adapun nilai tukar rupiah tercatat mengalami depresiasi sebesar 1,2 persen pada 23 Mei 2022, dibandingkan dengan posisi akhir April 2022. Sementara itu, secara tahun berjalan atau year to date (ytd) nilai tukar rupiah telah terdepresiasi sebesar 2,87 persen.
Perry menjelaskan, pelemahan itu disebabkan aliran modal asing keluar, seiring dengan meingkatnya ketidakpastian pasar keuangan global di tengah terjaganya pasokan valuta asing domestik. “Depresiasi ini relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya,” katanya.
4. IHK
Indeks harga konsumen (IHK) dinilai tetap terkendali. Tercatat pada April 2022 terjadi inflasi sebesar 0,95 persen secara month to month dan 3,47 persen secara year on year. ***
Penulis : Iwan Damiri
Editor : Eko








