JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM- Kepala Program Studi Teknik Industri ITB Made Andriani mengatakan cita-cita Indonesia untuk menjadi negara industri maju tertuang dalam visi Indonesia Emas 2045 perlu didukung dengan berbagi langkah-langkah strategis. Termasuk dukungan dari dunia akademik atau kampus.
Demikian disampaikan Made dalam acara peringatan Dies Natalis Emas 50 Tahun TI ITB Berkiprah di Dunia Pendidikan Tinggi di Tanah Air.
“Pertama, tema Dies Natalis Emas ini adalah Membangun Negara Industri Maju, untuk menyukseskan visi Indonesia Emas 2045,” ucap Made juga sebagai Ketua Panitia Dies Natalis Emas 50 Tahun TI ITB itu yang disiarkan secara virtual, Kamis (20/01/2022).
Lanjut Made menambahkan acara Dies Natalis ini merupakan puncak dari rangkaian berbagai acara.
“Antara lain Kegiatan 50 alumni serbu kampus dalam seminar, kuliah tamu, podcast, kapita selekta, dan magang. Kemudian Endorsement Fund komunitas dan alumi Teknik Industri yang berhasil mengumpulkan dana Rp 1 Miliar, Lomba Industrial Engineering Competition (IECOM) yang diselenggarakan oleh keluarga Mahasiswa Teknik Industri (MTI), dan rangkaian webinar profesi serta alumni insights yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni TI ITB,” ungkap Made.
Sementara itu, Rektor ITB Reini Wirahadikusumah mengungkapkan berdirinya program Teknik Industri tidak terlepas dari peran penting Profesor Matthias Aroef pada 1971 yang merupakan pendiri program Teknik Industri di ITB.
Reini melanjutkan, kunci keilmuan TI adalah pentingnya memandang sistem secara terintegrasi, tidak hanya dari sisi teknik, namun juga manajemen, bisnis, sosial, budaya, humaniora.
“Saat ini TI telah berkembang menjadi beberapa program studi serumpun, antara lain Magister dan Doktor Teknik dan Manajemen Industri, Sarjana Manajemen Rekayasa Industri, dan Magister Logistik. Teknik Industri juga yang menjadi pendiri dari Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB,” ungkap Reini.
Selain itu, kata dia lagi, dari TI ITB saat ini telah menyebar menjadi 200 prodi TI di seluruh nusantara.
Reini menambahkan saat ini banyak alumni TI yang menduduki sejumlah jabatan penting di berbagai sektor.
“Pemerintahan, swasta, BUMN, startup/unicorn, bahkan di bidang seni & budaya,” ucap Reini bangga.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto selaku keynote speech dalam acara tersebut mengatakan, kontribusi lulusan teknik industri ITB dalam pembangunan sektor industri tanah air sangat signifikan.
“Sektor industri menopang 19,5% dari seluruh sektor perekonomian nasional. Dan tahun 2021 menunjukkan pertumbuhan yang ekspansif. Industri kesehatan dan farmasi menjadi pilar industri pemerintah, yang diharapkan banyak lulusan Teknik Industri berkarya disana,” ujar Airlangga.
Saat ini, lanjut Airlangga, Indonesia memiliki 241 industri manufaktur farmasi, 132 industri kesehatan tradisional, dan 18 industri ekstraksi alam.
“Tingkatkan daya saing dan kemampuan, terutama dalam transformasi digital terutama di sektor manufaktur menuju Indonesia Emas 2045. Terima kasih Teknik Industri ITB,” ucap Politikus Golkar itu.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita dalam yang diwakili oleh Sekjen Kementerian Perindustrian Dody Widodo, menyampaikan bahwa saat ini pembangunan industri dihadapkan pada tantangan pandemi Covid-19 yang mengakibatkan hambatan di semua sektor di semua negara.
“Untuk itu dibutuhkan peran maksimal lulusan Teknik Industri untuk mencari solusi dan menjaga momentum kebangkitan industri pasca pandemic dan penguatan SDGs untuk pemulihan ekonomi dalam era industri 4.0,” singkatnya.
Selain acara tersebut, talkshow dengan tema “Membangun Negara Industri Maju untuk Mensukseskan Visi Indonesia 2045” menjadi tema lanjutan dalam rangkaian acara Dies Natalis TI ITB ke 50.
Dalam tema ini hadir sejumlah pembicara talkshow antara lain Kadarsah Suryadi, TI’81 – Guru Besar Teknik Industri ITB, Honesti Basyir, TI’87 – Direktur Utama PT Bio Farma (Persero), Nicke Widyawati, TI’86 – Direktur Utama Pertamina. ***
Penulis : Iwan Damiri
Editor : Kamsari








