JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM--Pengelolaan sumber daya alam (SDA) mineral masih menjadi tulang punggung pembangunan nasional, khususnya penerimaan negara bukan pajak(PNBP). Alasannya sektor tambang ini memberikan memberikan multiplier effect pertumbuhan ekonomi, termasuk lapangan kerja. “Sektor SDA mineral tetap memberikan kontribusinya walaupun terjadi sedikit penurunan pada beberapa mineral logam pada 2020,” kata anggota IV Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, Isma Yatun dalam webinar Optimalisasi Pendapatan BUMN dan PNBP Melalui Peningkatan Nilai Tambah Sumber Daya Mineral, Senin (15/11/2021).
Berdasarkan laporan Kinerja Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM pada 2020, menyatakan bijih timah yang ditambang sebesar 231 ribu ton dan yang telah di proses di dalam negeri sebesar 177,6 ribu ton atau 77 persen.
Menurut Isma Yatun, realisasi ini berada di bawah target sebesar 80 persen, karena pandemi Covid-19 membuat kegiatan pemurnian harus menghentikan sementara operasinya. Namun, komoditas produk timah berdasarkan data Kementerian ESDM mengalami kenaikan dari 2018 ke 2019. Hanya saja, akibat pandemi Covid-19 mengalami penurunan pada 2020.
Pada 2018, komoditas timah ditargetkan 50.000 ton dengan realisasi 62.877 ton. Pada 2019, ditargetkan 70.000 ton dengan realisasi 76.101 ton. Pada 2020, ditargetkan 70.000 ton, namun terrealisasi hanya 54.264 ton. “Berdasarkan ringkasan komoditas mineral yang diterbitkan U.S Geological Survey pada Januari 2021, Indonesia masih merupakan negara penghasil timah terbesar kedua di dunia pada 2020,” kata Isma Yatun.
Alumnus Unpad ini melihat peran penting Indonesia dalam penyediaan bahan baku timah dunia. Karena itu, seluruh pihak perlu memastikan pengelolaan pertambangan dan hilirisasi komoditas timah di Indonesia dilakukan secara bijak dan berkelanjutan.
Selain itu, Isma Yatun juga mendorong pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral harus dijalankan dengan memperhatikan prinsip efisien, efektif dan kompetitif. Masalahnya, mineral adalah SDA yang tak dapat diperbaharui.
Seminar tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat pemerintah seperti Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosma, Direktur Utama PT Timah Tbk Mochtar Riza Pahlevi Tabrani . Hadir juga Anggota VII BPK RI Daniel Lumban Tobing dan anggota DPR RI dari Fraksi PDI P Rudianto Tjen. ***
Penulis : Iwan Damiri
Editor : Kamsari








