Nasional

KH. Ahmad Ishomuddin PBNU Jadi Saksi Ahli Ahok

JAKARTA – Tim Kuasa Hukum Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menghadirkan tiga ahli dalam lanjutan kasus penodaan agama dengan terdakwa Ahok di Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (21/3/2017). Salah satunya Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan dosen Fakultas Syariah IAIN Raden Intan, Lampung.

“Sidang lanjutan ini pemeriksaan ahli-ahli dari penasihat hukum. Tiga ahli yang akan dihadirkan dalam sidang ke-15 Ahok itu adalah ahli agama Islam yang merupakan,” kata Humphrey Djemat, anggota tim kuasa hukum Ahok di Jakarta, Selasa (21/3/2017).

Ahli bahasa yang merupakan guru besar linguistik Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, Rahayu Surtiati Hidayat, dan ahli hukum pidana yang juga dosen Fakultas Hukum, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung C. Djisman Samosir.

Sidang ke-15 akan dimulai pukul 09.00 WIB. Arus lalu lintas di depan Gedung Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, di Jalan RM Harsono baik yang mengarah ke Ragunan maupun Mampang Prapatan sudah ditutup polisi baik jalur umum maupun jalur Bus Transjakarta.

Ahok dikenakan dakwaan alternatif yakni Pasal 156a dengan ancaman 5 tahun penjara dan Pasal 156 KUHP dengan ancaman 4 tahun penjara.

Ahli linguistik Rahayu Surtiati Hidayat mengatakan ada enam klausa dalam pidato Ahok yang menyinggung Surat Al-Maidah ayat 51 yang dia ucapkan di Kepulauan Seribu itu. “Dalam rangkaian kalimat itu punya arti tidak?” tanya Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto dalam sidang ke-15 Ahok itu.

“Pasti punya karena ini kalimat yang terdiri dari beberapa klausa yang mempunyai hubungan satu sama lain,” jawab Rahayu.

Kluasa pertama, kata dia, “Jjangan percaya sama orang’, kedua ‘kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya’, dan ketiga ‘karena dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macem-macem gitu lho'”.

“Keempat ‘itu hak bapak ibu, ya’, kelima ‘jadi kalau bapak ibu perasaan enggak bisa pilih nih’, dan keenam ‘saya takut masuk neraka dibodohin gitu ya, enggak apa-apa, karena ini kan panggilan pribadi bapak ibu'”.

Hakim Dwiarso bertanya, apakah kata “pakai” dalam pidato Ahok itu sama artinya dengan kata “menggunakan”. “Sama saja, jadi ‘dibohongi menggunakan Surat Al Maidah’ sama dengan ‘dibohongi pakai Surat Al Maidah’,” jawab Rahayu yang juga Guru Besar Linguistik Fakultas Ilmu Budaya pada Universitas Indonesia itu.

“Apakah arti dalam kalimat ini?,” tanya Dwiarso lagi. “Al Maidah itu tidak berbohong, hanya dijadikan alat untuk membohongi. Jadi, ada orang yang menggunakan Al Maidah 51 untuk membohongi orang lain,” jawab Rahayu.

Saksi lainnya adalah terakhir ahli hukum pidana yang merupakan dosen Fakultas Hukum pada Universitas Katolik Parahyangan C. Djisman Samosir.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top