JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-– Bank Indonesia (BI) mencatat uang primer atau monetary base (M0) Adjusted pada Juni 2026 tumbuh 13,8 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp2.228,0 triliun. Meskipun sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan Mei 2026 yang mencapai 14,2 persen (yoy), angka tersebut menunjukkan likuiditas di sistem keuangan nasional masih berada pada level yang kuat. “Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan uang kartal yang diedarkan sebesar 14,0 persen (yoy) dan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 12,7 persen (yoy),” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Lebih jauh Ramdan menjelaskan bahwa pertumbuhan uang primer didorong oleh meningkatnya uang kartal yang beredar di masyarakat serta bertambahnya giro bank umum di Bank Indonesia. “Bank Indonesia menjelaskan, pertumbuhan M0 Adjusted telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas kepada perbankan,” ujarnya.
Dengan demikian, sambung Ramdan, angka tersebut dinilai lebih mampu menggambarkan kondisi likuiditas riil dibandingkan pengukuran uang primer konvensional. Sejak Januari 2025, BI memang menggunakan indikator M0 Adjusted sebagai penyempurnaan statistik uang primer. “Penyesuaian ini dilakukan untuk mengisolasi dampak berkurangnya giro bank di BI akibat kebijakan insentif likuiditas, sehingga perkembangan uang primer lebih mencerminkan kondisi moneter yang sebenarnya,” paparnya.
Secara ekonomi, pertumbuhan uang primer yang masih berada pada kisaran dua digit menunjukkan bahwa Bank Indonesia masih menjaga kecukupan likuiditas di sistem keuangan, meskipun tetap mempertahankan arah kebijakan moneter yang berhati-hati. Likuiditas yang memadai menjadi fondasi penting agar perbankan memiliki ruang untuk menyalurkan kredit kepada dunia usaha dan rumah tangga.
Kenaikan uang kartal sebesar 14 persen juga mengindikasikan aktivitas ekonomi domestik masih cukup tinggi. Permintaan uang tunai biasanya meningkat seiring membaiknya konsumsi masyarakat, transaksi perdagangan, maupun aktivitas sektor informal yang masih banyak menggunakan pembayaran tunai. Di sisi lain, pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia sebesar 12,7 persen mencerminkan kondisi cadangan likuiditas perbankan yang tetap solid. Hal ini memberikan ruang bagi perbankan untuk memenuhi kebutuhan pendanaan sekaligus menjaga stabilitas sistem pembayaran.
Meski demikian, pertumbuhan uang primer yang tinggi tidak serta-merta menjamin percepatan pertumbuhan ekonomi. Efektivitas ekspansi likuiditas sangat bergantung pada kemampuan sektor perbankan menyalurkan dana tersebut menjadi kredit produktif bagi sektor riil. Apabila likuiditas hanya tersimpan dalam sistem keuangan tanpa mengalir ke investasi maupun kegiatan produksi, maka dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi akan menjadi terbatas. Oleh karena itu, transmisi kebijakan moneter menjadi faktor penting agar peningkatan uang primer benar-benar mendorong investasi, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan kapasitas produksi nasional.
Dari sisi kebijakan, pertumbuhan M0 Adjusted juga memberikan sinyal bahwa Bank Indonesia masih mengombinasikan kebijakan stabilitas dengan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi. Di tengah tantangan global yang masih dibayangi ketidakpastian suku bunga internasional dan perlambatan ekonomi dunia, kecukupan likuiditas menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi domestik.
Ke depan, tantangan bagi otoritas moneter tidak hanya mempertahankan besarnya likuiditas, tetapi juga memastikan likuiditas tersebut tersalurkan secara optimal ke sektor-sektor produktif. Dengan demikian, pertumbuhan uang primer tidak hanya menjadi indikator ekspansi moneter, melainkan juga menjadi pendorong peningkatan investasi, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Pertumbuhan M0 Adjusted sebesar 13,8 persen pada Juni 2026 sekaligus menunjukkan bahwa kebijakan likuiditas Bank Indonesia masih berjalan efektif dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas moneter dan kebutuhan pembiayaan ekonomi nasional. Dengan indikator yang telah disesuaikan (adjusted), pelaku pasar memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi likuiditas Indonesia tanpa terdistorsi oleh kebijakan insentif likuiditas yang diterapkan bank sentral.***
Penulis : Iwan Damiri
Editor : Kamsari








