Headline

Kawasan Wisata Kuliner Tangerang Sepi, Ambruknya UMKM Lokal…

Kawasan Kuliner Kota Tangerang/suarainvestor.com

TANGERANG, SUARAINVESTOR.COM-Suasana Pasar Lama Kota Tangerang yang biasa dikenal sebagai Kawasan Wisata Kuliner tak lagi sibuk dan meriah akibat wabah Corona (Covid-19).

Pantauan lapangan Suarainvestor.com, pada Selasa (7/4/2020) pukul 14.30 sangat sepi dari pedagang UMKM, padahal sebelum ada pandemi Covid-19, ratusan pedagangan makanan (kuliner) selalu mangkal dan berjejer sepanjang Jl Kisamaun, Kota Tangerang. Transaksi perdagangan UMKM sepanjang Kawasan Wisata Kuliner ini mencapai miliaran rupiah.

Kini, hanya toko-toko ritel modern, optik, toko bunga serta pakaian dan toko bahan pangan yang tetap buka, namun pembelinya tidak begitu banyak. Meski begitu, lokasi pasar lama tetap dipenuhi parkiran mobil yang pemiliknya

mencari kebutuhan pangan.

Berubahnya suasana Kawasan Wisata Kuliner ini menandakan denyut perekonomian lokal ‘ambruk’. Terlihat hanya dua pedagang yang mangkal menunggu pembeli.

Adalah Enni (54 tahun) pedagang Soto Mie Bogor dan Nur (46) pedagang Soto Lamongan yang sehari-hari mangkal di Wilayah Wisata Kuliner ini mengaku bingung dengan suasana pandemi Covid-19 ini. Karena pendapatannya terus menurun. “Saya terpaksa libur empat hari, karena percuma juga berdagang, tidak ada pembelinya, alias sepi,” ujarnya.

Enny menceritakan sudah 26 tahun berdagang di situ. Dalam situasi normal mampu meraup Rp400.000-Rp500.000/hari. Sementara untuk Sabtu-Minggu, bisa meraih rata-rata Rp700.000-Rp900.000/hari. “Saya punya pelanggan tetap. Tapi karena ada Corona, pelanggan tak mau keluar rumah. Sekarang ini paling hanya laku 6 mangkok hinggan 7 mangkok/hari,” keluhnya.

Dia menceritakan ratusan pedagang UMKM yang biasanya mangkal sekitar sini memilih pulang kampung. Karena omset penjualan anjlok. “Mereka rugi, jadi memilih mudik, karena mereka juga bingung. Dagang salah, pasti rugi, tidak dagang tak dapat uang,” ungkap yang memiliki dua lokasi dagang di kawasan itu.

Sementara itu, Nur (46 tahun) baru berdagangan di kawasan ini sekitar 6 tahun, karena menggantikan sang kakak. “Saya tiap hari berjualan di sini dari pagi hingga sore. Sekarang ini sangat sepi. Boleh dibilang, kita dagang sekedar bertahan saja,” terangnya.

Nur menceritakan kondisi ekonomi, saat pandemi Covid-19 ini membuat sulit pedagang kecil UMKM seperti dirinya. Apalagi dirinya tidak memiliki pekerjaan lain, selain berdagang. “Semua susah, mau bagaimana lagi, ya dihadapi saja. Berdoa dan terus berusaha,” imbuhnya. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top