Pertanian

Juli-Desember 2021, INDEF Prediksi Harga Beras Naik Paska Lebaran

Kompas.com

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM--Mata rantai perdagangan dan distribusi penjualan beras hingga ke konsumen harus diperbaiki. Hal ini demi menekan para pemain, alias mafia pangan yang sengaja memanfatkan situasi untuk impor beras.

“Namun bukan hal yang mudah untuk membuktikan adanya mafia pangan ini. Karena masalah harga beras ini dipengaruhi pula oleh biaya transportasi,” kata Pengamat ekonomi INDEF, Tauhid Ahmad kepada Suarapemred, di Jakarta, Selasa (6/4/2021).

Lebih jauh Tauhid menjelaskan margin perdagangan beras untuk Wilayah Jabodetabek mencapai 35%, sementara untuk daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) paling kecil sekitar 4%.

“Kalau di daerah memang kecil, karena dari sektor produksi ke konsumen jaraknya dekat. Hanya saja memang di Jabodetabek juga dipertanyakan, mengapa begitu tinggi. Padahal daerah Kerawang tidak begitu jauh dari Jakarta,” ungkapnya lagi.

Tauhid menduga para pedagang beras besar memanfaatkan soal rencana kebijakan impor beras satu juta ton. Karena dengan rumors tersebut, harga beras petani langsung anjlok, saat panen raya.

“Anjloknya harga beras petani ini, kemudian dibeli besar-besaran dan kemudian disimpan dalam gudang. Nanti, sekitar Juli-Desember 2021, saat mulai langka, para pedagang menjualnya sedikit-sedikit, sehingga harga melonjak,” paparnya.

Diakui Tauhid, penugasan impor beras ini hanya boleh dilakukan oleh Perum Bulog yang merupakan BUMN. Adapun peran Bulog sebagai stabilisator, bukan berorientasi pada profit. “Jadi saya belum lihat adanya rent seeker (pemburu rente). Kecuali impor dilakukan oleh perusahaan swasta, seperti importir gula. Tapi memang kita tidak menutup mata, kadang ada juga beras impor yang rembes ke pasar tradisional. Memang tidak banyak sih,” ucapnya lagi.

Soal hitung-hitungan rente ini, lanjut Tauhid, secara kasar bisa diperkirakan. Misalnya, impor satu juta ton beras, padahal harga beras impor di pelabuhan sekitar US$400/ton-450 US/ton. Sehingga jatuhnya biaya itu sekitar Rp8300/kg hingga Rp8500/kg di pelabuhan. Namun kalau dijual ke pasaran sekitar Rp9400 Kg. Bahkan ada yang mencapai Rp11.000/Kg. “Coba kalikan satu juta ton beras, jadi sekitar Rp1,1 Triliun hingga Rp2 Triliun,” bebernya.

Disisi lain, Alumnus FEUI ini menjelaskan bahwa terbukanya peluang impor beras ini, karena produksi beras hanya 31,27 juta ton/tahun, sementara konsumsi mencapai 29,37 juta ton/tahun pada 2021. “Jadi ada selisih satu juta ton beras. Posisi sebesar ini memang tidak aman, alias mepet untuk cadangan beras nasional. Apalagi kalau ada bencana alam, stock jadi berkurang dan bisa menimbulkan gejolak,” imbuhnya.

Sulitnya menggenjot produksi beras, sambung Tauhid lagi, karena penambahan luas lahan pertanian kalah cepat untuk lahan industri. Jadi konversi lahan, sekitar 90.000 ha sampai 100.000 ha dalam lima tahun. Artinya, konversi lahan terjadi 20.000 ha/tahun.

Sementara penambahan luas lahan pertanian belum terkonfirmasi. “Begitupun dengan adanya Food Estate, lahannya lebih subur di Pulau Jawa ketimbang di luar Jawa. Jadi produksi pertanian belum bisa terdongkrak,” pungkasnya. ****

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top