Industri & Perdagangan

Investor Ungkap 56 Startup Indonesia Dapat Pendanaan

Katadata.co.id

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Ada sekitar 56 startup Indonesia mendapatkan pendanaan di tengah pandemi corona. Investor mengatakan, pandemi Covid-19 mendorong masyarakat beralih ke layanan digital. Kondisi ini dinilai bisa menjadi peluang bagi sebagian perusahaan rintisan.

CEO BRI Ventures Nicko Widjaja mencatat, ada sekitar 110 startup yang mendapatkan investasi sepanjang tahun lalu. Jumlah perusahaan yang memperoleh dana segar hingga paruh pertama tahun ini turun tipis dibandingkan periode yang sama pada 2019.

Namun, penanam modal melihat bahwa startup berperan sebagai agen yang membuka jalan digitalisasi di tengah pandemi virus corona ini. Selain itu, investor seperti modal ventura berinvestasi jangka panjang. “Periode pandemi ini mungkin menjadi kickback setahun bagi banyak startup. Jika melihat dari perspektif jangka panjang, tentunya the show must go on,” ujar Nicko mengutip Katadata.co.id, Rabu (15/7/2020).

Kendati begitu, investor tetap mengkaji bisnis perusahaan rintisan yang akan diberi modal. Aspek fundamental yang diteliti seperti kesehatan margin usaha, efisiensi ‘bakar uang’, keberlanjutan model bisnis yang dijalankan, dan lainnya.

Ketua Asosiasi Modal Ventura Indonesia (Amvesindo) Jefri Sirait juga menilai, pagebluk Covid-19 ini menjadi peluang untuk sebagian startup untuk tumbuh. “Optimisme ada, tapi harus dengan kecerdasan,” katanya.

Oleh karena itu, investor lebih teliti sebelum memberikan pendanaan kepada perusahaan rintisan. Beberapa startup di sektor kuliner misalnya, menerapkan strategi seperti menjual kopi literan saat pandemi. Kemampuan startup untuk mengatasi tantangan seperti itu yang dikaji oleh investor.

Ia pun tidak heran jika Kopi Kenangan meraih pendanaan seri B pada Mei lalu. Perusahaan itu menjual produk dalam bentuk kopi literan dan menggencarkan penjualan secara online. “Pelanggan yang datang langsung memang turun, tetapi yang menarik, orang yang membeli secara online meningkat,” katanya.

Sejak awal tahun ini, 56 startup dari beragam sektor mendapat pendanaan. Investor yang menanamkan modalnya pun dari beberapa negara, mulai dari Quona Capital dan Accion Venture Lab dari Amerika Serikat (AS) hingga lokal seperti East Ventures.

Padahal, berdasarkan riset CB Insights, pendanaan ke perusahaan swasta (private market funding), termasuk startup di Asia diprediksi turun 20% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I. Sebab, investor dan modal ventura diperkirakan akan memilih untuk menunggu dan melihat (wait and see).

CB Insights mencatat, private market funding di Asia mencapai US$ 18 miliar dan diperkirakan tembus US$ 20 miliar pada kuartal pertama tahun ini. Dibandingkan periode yang sama pada 2019, nilainya turun 20% dan jumlah kesepakatannya anjlok 40%.

Data itu berdasarkan pendanaan yang diumumkan sejak awal tahun ini. Pendanaan ke perusahaan swasta juga turun ketika Virus Server Acute Respiratory Syndrome (SARS) mewabah di Guangdong, Tiongkok pada November 2002 dan Zika di Brasil pada 2005.

Berdasarkan riset CB Insights, pendanaan ke perusahaan swasta di Asia menurun 27% pada 2003 dibanding 2002. Penurunan itu berlanjut pada 2004, nilainya anjlok 29% dibanding 2002 atau 3% dibanding 2003. WHO baru mengumumkan Tiongkok bebas dari kasus SARS pada Mei 2004. Pendanaan ke swasta pun meningkat 56% yoy pada 2005.

Pendanaan yang dimaksud berupa investasi langsung dari modal ventura (venture capital) maupun akuisisi atau merger. Saat Zika mewabah, pendanaan ke swasta juga hanya tumbuh 5% pada 2005. Lalu, nilainya menurun 49% yoy pada 2016. Kemudian investasinya naik 404% pada 2017 atau ketika tidak ada lagi pasien.

Namun, 56 startup Indonesia masih mendapatkan dana segar di masa pandemi ini. Menteri Komunikasi dan Informatika periode 2014–2019 Rudiantara pun mengungkapkan bahwa permintaan investor masih dalam kondisi yang baik. “Mereka (investor) mencari terus aset yang tingkat keuntungannya bagus. Tapi memang tidak semudah sebelum pandemi Covid-19, pasti lebih selektif,” kata Rudiantara saat mengikuti webinar Bicara Data Virtual Series: ‘New Normal, New Way’ yang digelar Katadata, pada pertengahan Mei lalu (16/5/2020).

Lebih jauh Rudi menilai, para pemilik modal tidak akan menghentikan investasi demi mendapatkan keuntungan maksimal. Sebab, penyimpanan dana di perbankan dinilai kurang menguntungkan saat tren bunga rendah. Selama kuartal I 2020, Rudi mengatakan ada sejumlah investor terpantau telah menanamkan modal ke startup Indonesia. Beberapa di antaranya merupakan pendanaan pra-seri hingga tingkat lanjut dengan nilai besar.

Rudi pun bercerita, ia baru saja bertemu dengan salah satu investor besar yang mengelola dana investasi lebih dari US$ 30 miliar. Investor tersebut tengah gencar mencari aset dengan keuntungan yang tinggi. “Dia sedang cari aset di Indonesia karena menurutnya sekarang waktunya masuk (menanamkan dana). Setelah Covid-19 lewat, sudah terlambat,” ujar dia.

Sumber: Katadata.co.id

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top