JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM– Dampak perhelatan G20 di Bali, banyak pihak memberi mengapresiasi kesuksesan Indonesia, karena berhasil menggelar pertemuan negara-negara dengan perekonomian besar di dunia. Tak hanya itu, hasil yang dicapai dalam agenda tersebut dinilai memiliki kesepakatan penting dan positif bagi perekonomian domestik.
Namun demikian, diperlukan komitmen dalam melakukan kerja sama kebijakan makro dengan agenda utama pemulihan global yang dapat menghasilkan pembangunan berkelanjutan, pertumbuhan ekonomi, dan membuka lapangan pekerjaan.
Meski begitu, efek perang Rusia dan Ukraina sangat mengganggu persoalan supply and demand yang menimbulkan tekanan pada perekonomian dunia. Karena itu berpotensi menimbulkan resesi ekonomi global dan bisa menjadi lebih parah pada kurun waktu 2023.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Fajar Hirawan mengaku tetap optimis bahwa ekonomi dalam negeri tetap aman dari tekanan ekonomi global pada 2023.
Setidaknya, terdapat beberapa faktor internal yang membuat pilar ekonomi domestik Tanah Air kuat. “Ekonomi kita ditopang lebih dari 50% oleh konsumsi rumah tangga. Pasca pandemi, kita bisa lihat, masyarakat membelanjakan uangnya baik untuk konsumsi dan investasi, dari yang sebelumnya selama pandemi tertahan,” ujarnya.

Ketua Departemen Ekonomi CSIS Fajar Hirawan/Foto: Humas Doku Talk
Di sisi lain, Fajar menambahkan bahwa ekonomi nasional masih beruntung karena ditopang harga komoditas yang saat ini sedang berada pada level tinggi di dunia. “Indonesia masih aktif mengekspor barang- barang yang sifatnya ekstraktif, seperti kelapa sawit, batu bara dan lainya, yang masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat dunia,” katanya dalam diskusi yang mengangkat tema “Efek Ekonomi G20 di Indonesia: Melihat Opportunity Investasi”, yang ditayangkan melalui saluran YouTube Doku Talk, Kamis 24 November 2022.
Lebih jauh Fajar menjelaskan bahwa poin penting dari pertemuan G20 adalah fokus menciptakan stabilitas di kawasan atau di dunia secara umum, sehingga berpengaruh pada stabilitas ekonomi di masing-masing negara, dan Indonesia berhasil dalam konteks menggaungkan pentingnya kerja sama ekonomi di dunia internasional,” katanya.
Dosen FEB Universitas Islam Internasional Indonesia ini menambahkan pertemuan G20 memberikan penguatan dalam melakukan sinergi dan kerjasama pada berbagai negara untuk menghadapi tantangan ekonomi global yang dinilai semakin beragam. ”Adanya kesepakatan seperti Pandemic Fund, meskipun nilainya belum terlalu besar, yakni sekitar US$1,5 miliar merupakan langkah maju. Indonesia sendiri menyumbang sekitar US$50 juta, namun ini merupakan starting point yang bagus,” imbuhnya.
Sementara itu, Praktisi Keuangan dan Investasi Benny Sufami menganalisa bahwa tantangan ekonomi pada 2023, selain menimbulkan tekanan, juga menghasilkan peluang ekonomi. “Kita sudah pernah mengalami krisis pada 1998, 2008, 2020, dan kita mampu melewatinya. Ke depan, tentu memiliki peluang, apalagi tahun 2024, di Indonesia ada pemilu, yang kemudian menjadi tenaga baru untuk bursa saham kita bisa mengalami kenaikan kembali. Dan ini, kalau kita cerna dengan baik adalah waktu yang baik untuk investasi dengan melihat profil risiko masing-masing,” katanya.

Praktisi Keuangan dan Investasi Benny Sufami/Foto: Humas Doku Talk
Apalagi, berdasarkan data lapangan, menurut Benny, para investor ritel menyambut positif perhelatan G20. “Saya yakin Indonesia akan melewati situasi gelap. Sebab pengendalian inflasi masih terbilang baik, sekitar 5,7%. Jadi ini merupakan memontum, yang sebelumnya di 2019-2020 agak tersendat karena faktor pandemi, saat ini merupakan waktunya untuk mengalokasikan investasi,” tuturnya.
Mencermati situasi ekonomi 2023 yang dianggap “gelap” oleh sebagian pihak, Benny malah melihat ekonomi pada 2023 justru bisa menguntungkan para investor lokal bila disikapi dengan bijak. “Dalam sudut pandang ekonomi, selalu ada peluang, begitu juga pada 2023. Namun, investor harus melakukan penjajakan terlebih dahulu dengan melakukan investasi yang disiplin, bertahap, dan memahami risiko dan opportunity-nya. Ini yang mesti dipelajari lebih lanjut,” ujarnya.
Untuk meminimalisir kerugian, Benny menegaskan, para investor perlu memahami literasi keuangan dengan baik. “Ini harus menjadi dasar kita, selalu saya sebutkan di setiap perbincangan bahwa untuk memulai investasi, maka investor harus mengetahui profil diri sendiri. Lalu kita mesti kenali antara kebutuhan dan keinginan, sehingga kita dapat melakukan evaluasi keuangan. Dan tentunya untuk mencegah investasi ilegal, kita harus terapkan 2L (Legal dan Logic) demi menghindari kerugian yang besar,” tegasnya.***
Penulis : Iwan
Editor : Eko








