Nasional

Hindari Korban, Akademisi: Perlu SOP Diklatsar Menwa

Dosen STAI Latansa Mashiro, Mochamad Husen/Foto: Anjasmara

LEBAK, SUARAINVESTOR.COM-Kekerasan yang terjadi pada Pendidikan Dasar dan Latihan (Diklatsar) Menwa Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) seharusnya tidak terjadi. Karena itu agar terhindar dari berbagai kesalahan, maka perlu memiliki standar operasional prosedur (SOP). “Kami minta Menwa yang dilakukan diberbagai Perguruan Tinggi itu dipertahankan, namun perlu perbaikan agar tidak menimbulkan korban jiwa,” kata Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Latansa Mashiro Rangkasbitung, Mochamad Husen kepada suarainvestor.com, melalui pesan WhatApp (WA), Minggu (7/11/2021).

Lebih lanjut Husen mengaku prihatin seorang mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Gilang Endi Saputra, meninggal saat menjalani Diklatsar Menwa,” ujarnya.

Selama ini, kata Husen, pengkaderan
menwa masih terjadi kekerasan hingga mengakibatkan kematian para yuniornya. Mereka harus memiliki SOP yang tersusun untuk menghindari kekerasan yang dilakukan para seniornya.

Menurut dia, selama ini Diklatsar Menwa sangat menakutkan untuk membentuk jiwa disiplin dan tegas, bahkan pelatihannya mirip militer.

Mereka kader-kader Menwa itu mendapatkan pelatihan fisik yang keras dan jika tidak mampu tentu mendapatkan hukuman fisik.

Dengan demikian, pihaknya berharap para panitia penyelenggara menwa  tentu harus memiliki SOP yang tersusun, sehingga tidak melakukan kekerasan.

“Kami setuju menwa lebih mengutamakan ketegasan dan kedisiplinan dalam berorganisasi, tetapi hindari kekerasan fisik. Dan, pihak insitusi Perguruan Tinggi dibawah pembantu rektor bidang kemahasasiwaan harus mengontrol kegiatan menwa tersebut agar tidak kebablasan,” katanya menjelaskan.

Ia mengatakan, menwa jangan sampai dihilangkan karena memanfaatnya masih diperlukan untuk membangun  kedisiplinan dan ketegasan dalam organisasi.

Kekerasan yang terjadi Diklatsar Menwa UNS itu akibat lemahnya pengawasan dari rektor pembantu juga tidak memiliki SOP yang tersusun dengan baik untuk menghindari kekerasan.

“Kami setuju pelaku kekerasan itu diproses hukum, seperti Kepolisian Solo sudah menangkap
dua tersangka itu berinisial NFM (22) dan FPJ (22), ” katanya. ***

Penulis. :. Arpaso
Editor    :. Budiono

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top