Nasional

Hendardi Kecam Kelompok Intoleransi Di Bekasi

JAKARTA – Hendardi Ketua Setara Institute menegaskan jika masih terjadi peragaan intoleransi yang disertai kekerasan oleh kelompok intoleran di lokasi Gereja Santa Clara, Bekasi, Jawa Barat pada Jumat (24/3/2017) menunjukkan fakta baru bahwa penolakan terhadap pendirian gereja dan tempat ibadah lainnya, bukan soal ada tidaknya izin dari pemerintah daerah, tetapi soal ketidakbersediaan untuk hidup bersama dalam kemajemukan.

“Kelompok intoleran melakukan aksi intoleransi semata-mata untuk menunjukkan kelompoknya sebagai yang supreme dibanding kelompok lain,” demikian Hendardi dalam keterangannya pada wartawan di Jakarta, Senin (27/3/2017).

Contohnya kata Hendardi, meksipun pembangunan gereja Santa Clara telah memperoleh izin pemerintah Kota Bekasi, nyatanya kelompok intoleran tetap menolak. Padahal selama ini mereka kerap melakukan aksi intoleransi dengan alasan tidak adanya izin mendirikan tempat ibadah.

“Jadi, bukan hanya kelompok agama yang berbeda yang mereka tentang, bahkan Walikota Bekasi yang telah mengeluarkan izin pun dipersoalkan. Aparat Polri yang dibantu TNI dalam mengamankan aksi di lokasi pembangunan Santa Clara pun memperoleh perlawanan dari peserta aksi,” ujarnya kecewa.

Menurut Hendardi, kasus Santa Clara merupakan episode bagaimana kemajemukan yang coba ditegakkan oleh Walikota Bekasi dan dijaga Polri menghadapi tantangan dari kelompok intoleran. Elemen negara dalam konteks peristiwa ini telah bekerja sesuai mandat konstitusi dan perundang-undangan. “Walikota Bekasi berupaya keras memenuhi hak konstitusional warga jemaat Kristiani. Sedangkan Polri bertindak proporsional sebaris dengan Walikota dalam konteks menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tapi kelompok intoleran tersebut tetap menolak,” katanya.

Episode Santa Clara kata Hendardi, jelas menunjukkan bahwa intoleransi terus menguat dan menuntut penyikapan bersama elemen negara. Bukan untuk memusuhi ulama dan Islam tetapi langkah2 tegas dengan penegakan hukum ditujukan untuk menindak kelompok intoleran yang menggunakan identitas dan atribut Islam.

“untuk itu, Polri harus menindak aktor intelektual perusuh dalam aksi di Santa Clara untuk mempersempit ruang gerak pimpinan2 kelompok intoleran yang terus menyebar virus intoleransi dan antikemajemukan dengan topeng pembelaan atas agama. Dalam banyak studi dan laporan pemantauan, kelompok-kelompok ini dikendalikan oleh segelintir elit agama yang lebih tepat disebut sebagai avonturir politik untuk tujuan-tujuan pragmatis diri dan kelompoknya,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top