Opini

Dilema Puan Menjadi Presiden

Uchok Sky Khadafi/Sumber Foto: Poskota.co.id

AW

Puan Maharani adalah sosok Ketua DPR. Dia terkenal bukan karena anak kandung Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri ataupun cucu dari Presiden Soekarno. Namun Puan Maharani, dikenal dan dikenang, lantaran sengaja mematikan microfon saat sidang Paripurna DPR RI yang mengesahkan UU Omnibus Law.

Dan satu lagi yang tidak bisa dilupakan publik kepada lelaku Puan, adalah air matanya. Ternyata Puan bisa terisak menangis, mengeluarkan air mata, politik di depan publik. Saat itu air mata Puan menetes pada masa Presiden SBY dan bukan pada masa Presiden Jokowi, meskipun sama- sama presiden yang suka menaikan harga BBM.

Setelah drana air mata politik, dan mematikan mic selesai, kini Puan sedang digadang gadang untuk menjadi calon Presiden 2024. Tentu calon presiden dari kaum abangan, karena berasal dari Partai PDI Perjuangan itu. Dimana, sampai saat ini pencalonan Puan, tidak ada saingan sama sekali dari internal partai tersebut.

Meskipun ada nama GP Ganjar Pranowo (GP) yang muncul sebagai saingan kuat Puan untuk calon Presiden. Akan tetapi nasib GP tidak akan seberuntung seperti Jokowi. Nasib GP diprediksi masuk kotak, alias bakal dicuekin PDI P walaupun elektabilitas GP sangat tinggi dibandingkan Puan. Masyarakat yakin sebentar lagi GP akan “ditampar” partai sendiri dan bahkan diminta pergi jauh untuk meninggal PDI P jika tetap ngotot GP ingin bersaing dengan Puan.

Dengan demikian, Puan Maharani menjadi calon tunggal dan tinggal sendiri, alias tak lagi kompetitor. Sehingga yang terjadi saat ini, para kader sedang menimbang nimbang untuk mencarikan atau memilih pasangan yang cocok untuk “dinikahkan” denganya.

Bisa saja dengan Prabowo Subianto atau bisa juga dengan Anies Baswedan. Kedua calon pasangan ini, salah satunya layak disandingkan dengan Puan. Apalagi jika disandingan dengan kedua calon pasangan ini, maka Puan mempunyai elektabilitas yang tinggi untuk memenangkan sebagai Presiden atau wakil Presiden.

Dari selera Puan sepertinya lebih nyaman dan menguntungkan berpasangan atau dinikahkan dengan Anies Baswedan dibandingkan Prabowo Subianto. Ketika Puan berpasangan dengan Anies Baswedan, Puan bisa memilih sebagai nomor satu atau menjadi calon Presiden. Tapi, ketika berpasangan dengan Prabowo Subianto, Puan harus puas hanya sebagai wakil Presiden.

Ketika Puan sudah berpasangan dengan Anies Bawesdan, maka Anies diharapkan bisa menjadi magnet yang menarik bagi kaum oposisi dan massa Islam Politik atau Islam Radikal untuk masuk ke dalam barisan koalisi Puan- Anies tersebut. Dengan modal massa Islam ini, dan akan ditambah dengan massa PDI P, maka diprediksi mereka bisa menang dalam Pilpres 2024 nanti.

Memilih Anies Bawesdan sebagai pasangan Puan karena dianggap sebagai ikon oposisi terhadap Pemerintahan Jokowi. Kaum oposisi dan Islam Politik menganggap,l Anies satu satunya Gubernur yang berani melawan pemerintahan Jokowi. Dengan alasan inilah, mereka sangat mengidola Anies dibandingkan Prabowo sebagai Presiden Selanjutnya untuk mengantikan Presiden Jokowi.

Prabowo dianggap oleh Kaum oposisi dan Islam Politik sudah bunuh diri politik setelah menjadi menterinya Jokowi. Apalagi dinilai Prabowo lebih mengejar jabatan menteri daripada menjadi pemimpin umat untuk mengontrol jalannya kekuasaan Pemerintahan Jokowi. Makanya banyak dari mereka lari atau meninggalkan Prabowo, dan lalu mendekati dan mengangkat Anies sebagai pemimpin mereka.

Dengan pertimbangan Anies lebih dekat dengan Kaum oposisi dan Islam Politik, Puan sepertinya lebih memilih Anies dibandingkan Prabowo. Prabowo dianggap sudah ditinggalkan massa Islam Politik sebagai pendukung utama. Dan Massa Islam Politik tersebut sudah menjadi pendukung Fanatik kepada Anies Bawesdan.

Dan ketika Persekutuan Puan – Anies Sudah terbentuk, maka hal ini menjadi fenomena luar biasa dalam politik. sekali lagi, betul betul luar biasa karena bisa menyatukan massa pendukung Puan dan Anies dalam bingkai kepentingan bersama. Padahal sebelumnya kedua massa pendukung ini adalah musuh bebuyutan dalam politik pratis yang tidak bisa didamaikan.

Oleh karena, yang namanya musuh Islam Politik ialah orang orang PDI P itu sendiri, bukan pribadi Presiden Jokowi. Ketika Presiden Jokowi salah dalam kebijakannya, yang diolok-olok atau disalahkan oleh Kaum Islam Politik bukan Jokowi, atau Luhut Binsar Pandjaitan. Tetapi kalau tidak Ibu Megawati Soekarnoputri, ya bisa partai PDI Perjuangan sendiri.

Jadi, menyatukan massa Puan dengan Anies seperti mempertemukan air dan minyak yang tidak akan bersatu selamanya dalam dunia Politik persilatan. Tetapi, kalau ingin ngotot mempersatukan Puan – Anies di KPU, maka prediksi yang terjadi adalah massa Islam Politik akan kabur meninggalkan Anies Bawesdan dan Puan Maharani, dan akan kembali lagi mendukung Prabowo lagi. ***

*) Direktur Eksekutif Centre for Budget Analysis

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

BERITA POPULER

To Top