Opini

Biochar: Mempersempit Gap Antara Potensi vs Rata-Rata Nasional Produksi Padi Per Hektar

Biochar: Mempersempit Gap Antara Potensi vs Rata-Rata Nasional Produksi Padi Per Hektar
Wakil Ketua umum DNIKS Rudi Andries/foto: DNIKS

*)Rudi Andries

Sudah lama kita mengenal beberapa varietas padi unggulan seperti: Ciherang, IR-64, Mekongga, Situ Bagendit hasil dari program pemuliaan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), yang dilabeli memiliki potensi hasil tinggi tahan hama/penyakit adaptif lokasi, dengan angka produksi 8,4 ton/ha (di balai benih), atau 7,46 ton/ha (di petani).

Angka ini valid sebagai potensi genetik + kondisi optimal. Masalah: Varietas2 ini sudah puluhan tahun ada, tapi yield nasional stagnan. Realitasnya: Terjadi gap besar antara potensi vs rata-rata nasional. Di lapangan: Rata-rata nasional produksi gabah kering giling (GKG) masih sekitar 5–5,5 t/ha. Bahkan banyak wilayah masih di bawah itu. Artinya: Varietas unggul tidak otomatis Produktivitas tinggi. Kenapa? Karena yield itu fungsi dari 3 layer utama:

(1) Genetik (Varietas): Kontribusi besar, tapi bukan dominan tunggal.
(2) Lingkungan: Ketersediaan air, Struktur tanah, Kandungan C-organik, Iklim (curah hujan, suhu).
Fakta: Banyak sawah Indonesia C-organik < 2% (degradasi), akibatnya respons pupuk jadi tidak optimal.
(3) Manajemen budidaya: Pola tanam, Pemupukan, Pengendalian hama, Kualitas bibit (ini sangat krusial).

Disini lah terletak variabel kuncinya: Mulai dari pemilihan kualitas bibit (seragam vs random), sampai pada cara mengatur kepadatan tanam, pemupukan presisi, pengendalian hama, dan manajemen air. Kita mensubsidi input (pupuk), tapi tidak membenahi sistem—akhirnya yang mahal tetap harga beras. Selama ini kita mengira masalahnya kekurangan beras, padahal masalahnya biaya sistem yang mahal.

Solusi: Biochar bukan cuma soal tanah, tapi solusi untuk turunkan biaya pupuk, kurangi subsidi negara, perbaiki produktivitas, dan stabilkan harga.

Paradoks besar Indonesia
Produksi beras nasional: ±31–34 juta ton/tahun, Kebutuhan nasional: ±27–30 juta ton/tahun, Buffer stock saat ini: ±4,5 juta ton. Kesimpulan: Stok Aman. Stok aman, harga beras naik – dimana masalahnya?
• Masalah: “Sekarang pupuk mahal dan cepat habis.”
• Penyebab: “Karena tanah kita sudah rusak dan gak bisa simpan nutrisi.” Artinya: Masalahnya bukan di produksi saja, tapi di sistem dari hulu ke hilir. Kita mensubsidi input (pupuk), tapi tidak membenahi sistem—akhirnya yang mahal tetap harga beras.

Solusi:
• Biochar dari sekam dan jerami bisa bikin tanah kembali kuat.
• Manfaat: “Pupuk lebih hemat, panen naik, biaya turun. Biochar membuat “Tanah jadi lebih subur”
• “Pupuk gak cepat hilang”
• “Panen bisa naik”
• “Jerami gak dibakar, jadi duit”

Biochar ibarat “spons tanah”, Tanah rusak ibarat ember bocor, Pupuk ibarat air. “Selama ini pupuk seperti air di ember bocor. Biochar itu menahan airnya supaya tidak hilang.” Biochar membuat pemakaian pupuk lebih hemat, hasil lebih lebat. Panen naik tanpa tambah lahan. Dengan biochar produksi GKG naik 1–2 ton per hektar, sekaligus hemat pupuk sampai 30 persen.

*)Wakil Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), dan Pengawas Asosiasi Biochar Indonesia Intenasional (ABII)

BERITA POPULER

To Top