JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM – Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) menerima kunjungan kehormatan dari Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, di Kantor Pusat DNIKS, Jakarta, Jumat (26/6/2026). Pertemuan ini menjadi ruang dialog untuk memperkuat sinergi program sosial lintas wilayah.
Ahmad Nausrau merupakan sosok yang kini banyak diperbincangkan di media sosial. Beliau dikenal sebagai seorang putra Papua yang juga santri dan ustadz. Keunikan Ahmad Nausrau terletak pada kemampuannya fasih berbahasa Arab dan Jawa, sehingga sering diundang mengisi ceramah di berbagai majelis pengajian dari Papua hingga Jawa.

Ketua Umum DNIKS, Effendy Choirie menyambut positif kedatangan Wagub Barat Daya tersebut. Menurutnya, kehadiran Ahmad Nausrau membawa semangat baru dalam merawat kebinekaan sekaligus menguatkan kerja-kerja kesejahteraan sosial.“Kami menyambut baik kunjungan Bapak Ahmad Nausrau. Beliau adalah bukti nyata bahwa keberagaman Indonesia itu hidup. Seorang Papua, santri, ustadz, fasih berbahasa Arab dan Jawa, sekaligus pemimpin daerah. Ini energi yang luar biasa untuk kita dorong bersama dalam program sosial,” ujarnya di Jakarta, Jumat (26/6/2026)
Dalam pertemuan tersebut, kata Gus Choi-sapaan akrabnya, bahwa DNIKS memaparkan sejumlah program prioritasnya. Beberapa di antaranya adalah penguatan program kesejahteraan sosial, pemberdayaan sosial disabilitas berbasis komunitas, pendampingan UMKM, serta layanan dan advokasi bagi penyandang disabilitas.
Lebih jauh Gus Choi menekankan pentingnya membangun jejaring dengan pemerintah daerah agar program kesejahteraan sosial tidak berjalan parsial. “Kami melihat banyak titik temu. DNIKS punya jejaring lembaga sosial dan filantropi, sementara Pemerintah Papua Barat Daya punya kebutuhan nyata di lapangan, mulai dari penguatan UMKM, ekonomi keluarga, hingga pemenuhan hak disabilitas. Kolaborasi ini harus kita wujudkan,” jelasnya.
Menanggapi sambutan tersebut, Ahmad Nausrau menyampaikan apresiasi atas peran DNIKS yang selama ini konsisten mendampingi kelompok rentan. Bahkan dia menyebut pendekatan dakwah kultural yang selama ini dijalankan di majelis pengajian dapat disinergikan dengan program pemberdayaan.“Saya seorang Papua, santri, dan ustadz. Bahasa Arab dan Jawa saya gunakan untuk mendekatkan diri dengan jamaah di mana pun berada. Ke depan, saya ingin energi majelis ini juga menyentuh hal yang konkret, seperti pelatihan UMKM, akses usaha bagi penyandang disabilitas, dan penguatan ekonomi keluarga,” kata Ahmad Nausrau.
Ia menambahkan, wilayah Papua Barat Daya memiliki potensi besar yang perlu didukung ekosistem pendampingan. Kolaborasi dengan DNIKS diharapkan dapat mempercepat hadirnya program pemberdayaan yang terukur dan berkelanjutan. “Tugas kami di daerah adalah membuka jalan, DNIKS bisa menjadi mitra untuk penguatan kapasitas dan jejaring filantropi,” ujarnya.
Pertemuan ditutup dengan kesepakatan awal untuk menjajaki kerja sama teknis, meliputi pelatihan UMKM, program inklusi disabilitas, serta penguatan lembaga sosial di tingkat akar rumput. “Kita berharap kolaborasi ini bisa mewujudkan LKKS tingkat provinsi (BKKKS) dan menjadi model sinergi antara pemerintah daerah, ulama, dan organisasi sosial untuk kesejahteraan yang inklusif.***
Penulis : Eko Cahyono
Editor : Eko Cahyono








