Nasional

Tito Karmavian Akui Kini Bukan Kapolri Tak Bisa Komandoi Kelapa Daerah

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM – Mendagri Tito Karnavian memgakui jika kini tugasnya bukan lagi sebagai Kapolri, yang sarat dengan sistem komando atau instruksi dalam.memerintahkan bawahamya. Sehingga kepemimpinannya selalu harus tegas dan tepat dalam memgambil keputusan.

Tidak demikian halnya sebagai Mendagri. Apalagi kepala daerah banyak yang berasal dari partai politik, dan politik itu sendiri sebagai seni, maka.harus bisa bersikap lihai dan sabar, tapi tak boleh memgalah saat berhadapan dengan kepala daerah maupun pimpinan negara lain terkait dengan kedaulatan wilayah NKRI.

“Ya, saya sekarang bukan Kapolri, tapi Mendagri, yang tak lagi dengan sistem komando pada kepala daerah sebagai bawahan. Karena itu saya terus meningkatkan dan membangun komunikasi yang baik. Bahkan membuat WA group,” tegas Tito saat Raker dengan Komisi IIDPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Rabu (26/2/2020).

Sehingga kalau ada tugas dan wewenang yang tak dijalankan, maka masih cukup dengan teguran dan teguran. Belum ada yang mendapatkan sanksi. Kecuali melakukan pelanggaran pidana atau hukum berat.

Sanksi itu berupa tak digaji selama tiga hingga enam bulan, ada pelaksana tugas (Plt) hingga diberhentikan atau dilengserkan oleh DPRD. “Sekarang tentu saya tak bisa memberhentikan kepala daerah yang mbalelo. Kalau sebagai Kapolri ada bawahan yang salah langsung bisa saya sanksi, bahkan berhentikan kapan saja,” ujarnya yang disambut tawa anggota DPR yamg hadir.

Demikian juga saat negosiasi wilayah perbatasan dengan negara-negara tetangga. “Kita memang harus pandai-pandai lobi, sabar dan pasti harus tegas,” pungkasnya.

Hal itu disampaikan Tito terkait peringatan anggota DPR RI dari FPDIP Cornelis Lay, yang minta agar Mendagri mesti pandai dan menggunakan seni dalam politik memgahadapi Malaysia, Papua Neugini, Timor Leste, Australia, Philipina, China, Vietnam dan negara lain yang berbatasan dengan Indonesia.

Sebab, menurut mantan Gubernur Kalimantan selama dua periode itu, Malaysia itu lihai dan Indonesia hampir kalah kalau membawa masalah perbatasan itu ke Mahkamah Internasional.

“Kalau megosiasi dengan Malaysia harus pandai, lihai lobinya, jangan kaku, tapi tetap harus tegas. Mengaoa? Karena Malaysia itu lihai. Pernah pasang mercusuar di Kalbar lalu saya ancam untuk cabut dalam waktu dua minggu. Kalau tidak, akan saya cabut sendiri. Akhirnya dicabut juga,” cerita Cornelis.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top