JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Gejolak internal PKB yang menyuarakan gerakan Muktamar Luar Biasa (MLB) mulai mendapatkan perlawanan. Bahkan kader-kader muda NU mulai cemas dengan gerakan MLB tersebut, karena bisa mengganggu keutuhan partai dalam menghadapi Pemilu 2024.
“Oleh karenanya Barisan Muda Nahdlatul Ulama (BMNU) keberatan terhadap pihak-pihak yang mengusik dan menggangu keutuhan, soliditas dan konsolidasi Partai PKB, baik atas nama individu maupun kelompok,” kata Koordinator Nasional Barisan Muda Nahdlatul Ulama (BMNU), Maksum Zuber dalam siaran persnya, Jakarta, Rabu (21/4/2021).
Maksum menegaskan BMNU siap menjaga Partai PKB dari upaya pihak-pihak yang ingin memecah belah keutuhan partai. Apalagi partai bintang sembilan ini kelahirannya dibidani langsung oleh para Ulama Nahdlatul Ulama. “PKB sendiri telah memberikan kontribusi yang nyata untuk NU, bahkan mampu menindaklanjuti aspirasi warga nahdlyin,” ujarnya lagi.

Lebih jauh kader muda NU ini menjelaskan para anggota legislatif PKB, baik DPRD I, DPRD II dan DPR RI telah menunjukkan darmabaktinya dengan membesarkan NU, mulai dari MWC NU hingga PBNU. “Tak ketinggalan pula, pesantren-pesantren NU terlihat terawat dengan baik. Jadi kontribusi ini tidak boleh dianggap remeh,” paparnya.
Lebih jauh Maksum membeberkan awal mula pembentukan PKB. Pada awal reformasi 1998, PBNU mulai kebanjiran usulan dari warga NU di seluruh pelosok Tanah Air. Ada yang mengusulkan agar PBNU membentuk parpol, bahkan sudah ada yang mengusulkan nama parpol.
Nama terbanyak yang diusulkan adalah Nahdlatul Ummah, Kebangkitan Umat, dan Kebangkitan Bangsa. Namun PBNU menanggapinya secara hati-hati. Hal ini didasarkan pada adanya kenyataan bahwa hasil Muktamar NU ke-27 di Situbondo yang menetapkan bahwa secara organisatoris NU tidak terkait dengan partai politik manapun dan tidak melakukan kegiatan politik praktis.
Pada 3 Juni 1998, PBNU mengadakan Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU, menghasilkan keputusan membentuk Tim Lima yang diberi tugas untuk memenuhi aspirasi warga NU.
Tim Lima diketuai oleh KH Ma`ruf Amin (Rais Suriyah/Kordinator Harian PBNU), dengan anggota, KH M Dawam Anwar (Katib Aam PBNU), Dr KH Said Aqil Siroj, M.A. (Wakil Katib Aam PBNU), HM Rozy Munir,S.E., M.Sc. (Ketua PBNU), dan Ahmad Bagdja (Sekretaris Jenderal PBNU).
Untuk memperkuat posisi dan kemampuan kerja Tim Lima seiring dengan derasnya usulan warga NU yang menginginkan terbentuknya partai politik, Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU, untuk mengatasi hambatan organisatoris, Tim Lima itu dibekali Surat Keputusan PBNU yang dikeluarkan pada tanggal 20 Juni 1998.
Selain itu juga dibentuk Tim Asistensi yang diketuai oleh Arifin Djunaedi (Wakil Sekjen PBNU) dengan anggota H Muhyiddin Arubusman, H.M. Fachri Thaha Ma`ruf, Lc., Drs. H Abdul Aziz, M.A., Drs. H Andi Muarli Sunrawa, H.M. Nasihin Hasan, H Lukman Saifuddin, Drs. Amin Said Husni, dan Muhaimin Iskandar.
Tim Asistensi bertugas membantu Tim Lima dalam mengiventarisasi dan merangkum usulan yang ingin membentuk parpol baru, dan membantu warga NU dalam melahirkan parpol baru yang dapat mewadahi aspirasi poitik warga NU.
Pada tanggal 22 Juni 1998 Tim Lima dan Tim Asistensi mengadakan rapat untuk mendefinisikan dan mengelaborasikan tugas-tugasnya. Tanggal 26 – 28 Juni 1998 Tim Lima dan Tim Asistensi mengadakan konsinyering untuk menyusun rancangan awal pembentukan parpol.
Pertemuan ini menghasilkan lima rancangan, yaitu: Pokok-pokok Pikiran NU Mengenai Reformasi Politik, Mabda` Siyasi, Hubungan Partai Politik dengan NU, AD/ART. ***








