*)Rudi Andries
Berita mengejutkan bak petir di siang bolong datang dari perusahaan Microsoft yang dilaporkan menghentikan pembelian baru carbon removal credits. Supplier & developer proyek sudah diberitahu. Padahal Microsoft adalah pembeli terbesar carbon removal di dunia. Kontribusinya 79%–90% dari total market, sudah membeli COCR mencapai ~45 juta ton carbon removal.
Diduga ini bukan cuma soal karbon — ini soal AI vs Climate collision. Kita tahu bahwa Microsoft sedang ekspansi besar-besaran AI plus data center, dan ini mengkonsumsi energi besar sekali,
Realitasnya, biaya dekarbonisasi melonjak, harga carbon removal yang mahal ($100–$600/ton) jadi tekanan finansial. Jadi kemungkinan besar mereka lagi recalibrate antara target carbon negative 2030 vs real cost dari AI scaling.
Implikasi buat Indonesia
Situasi ini menunjukan pasar carbon removal global sedang masuk fase “reality check”, dan lebih dalam lagi model ESG berbasis voluntary corporate demand (Big Tech-driven) mulai retak. Risiko, buyer global menjadi lebih selektif, harga carbon credit bisa turun, dan proyek asal-asalan bakal mati. Namun peluangnya, Indonesia bisa pivot ke High-integrity carbon removal (Biochar, pertanian, tanah), Nature-based + community-based (lebih murah & scalable), dan Sovereign carbon model, tidak tergantung Big Tech) karena sekarang jelas ketergantungan ke 1 buyer global sangat berbahaya.
Mari kita bandingkan antara Projek Direct Air Capture (DAC) yang harganya $300–600/ton, dan Indonesia Biochar (agro) yang berkisar $30–100/ton. Jelas sekali harganya sangat menarik.
Jadi peluangnya, mengembangkan strategi, dorong biochar – agroforestry – soil carbon dengan mengintegrasi potensi ekosistem sawit, padi, jagung, bahkan kopi, dan kehutanan sosial. Slogannya:“Decarbonization doesn’t need to be expensive – come to Indonesia.”
Tapi ingat. kita perlu membangun MRV nasional (satellite + IoT + audit hybrid) align dengan Verra, Gold Standard, namun tidak didikte – buatlah Indonesia Sovereign Standard (ISS) dan tegakkan Carbon Monetary Authority Indonesia (CMAI) yang handal. Jadikan Biochar sebagai national flagship melalui Gerakan Nasional Biochar (GNB) sebagai andalan di pasar karbon. Kita tidak sekedar menjual karbon yang ekonomis, “We provide trusted, scalable climate infrastructure for the world”.***
*)Wakil Ketua Umum DNIKS, dan Pengawas Asosiasi Biochar Indonesia Internasional (ABII)








