JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Anggota DPR Fraksi PKB, Syamsu Rizal menilai bahwa kehadiran Starlink milik Elon Musk di Indonesia belum bisa dianggap sebagai ancaman bagi operator lokal dalam waktu dekat. Pasalnya, operasional dan akses Starlink ini masih terbatas dan belum bisa diakses masyarakat luas. “Tapi saya belum bisa berkomentar banyak soal ini, karena saya dengar masalah perizinannya juga belum lengkap,” katanya saat ditemui wartawan usai rapat paripurna MPR, Kamis (3/10/2024).
Lebih jauh Daeng Ical-sapaan akrabnya menambahkan bahwa operasional Starlink itu bisa bisa diakses secara luas dan belum menjadi akses publik. Apalagi aksesnya masih membutuhkan semacam decoder. “Jadi kalau sudah menjadi kebutuhan publik, ya tentu perlu ada kebijakan publik,” ujarnya lagi.
Mantan Anggota DPRD Kota Makassar itu menjelaskan bahwa tarif awal untuk mengakses Starlink masih mahal dibanding operatol lokal. Seperti diketahui bahwa sejak diluncurkan pertengahan tahun lalu, Starlink mengundang banyak polemik. Termasuk terkait harga langganannya yang tergolong cukup murah. Harga layanan milik Elon Musk itu dinilai lebih murah daripada yang ditawarkan pemain lokal. Belum lagi tawaran harga promo perangkat yang membuatnya jadi jauh di bawah harga pasar.
Sebagai informasi, layanan Starlink termurah adalah Rp 750 ribu per bulan. Untuk perangkat dijual Rp 7,8 juta dengan harga promo Rp 4,6 jutaan hingga 10 Juni 2024 mendatang. “Contoh harga lokal yang paling murah untuk VSAT yang unlimited itu Rp 3,5 juta, sedangkan harga Starlink itu Rp 750 ribu. Bisa dihitung berapa kali perbedaan harganya. Harga perangkat paling murah di lokal Rp 9,1 juta, Starlink yang promo 4,6 juta,” ungkap Sekjen ASSI Sigit Jatiputro di Gedung KPPU, Jakarta, Rabu (29/5/2024).
Starlink diketahui sudah beroperasi di beberapa negara lain. Salah satunya di negara asalnya di Amerika Serrikat (AS). Di AS, Starlink menawarkan paket langganan yang sama seperti di Indonesia. Di sana, terdapat dua paket yakni Personal dan Business. Personal terbagi lagi menjadi tiga langganan lain yakni Residential, Roam, dan Boats. Ketiganya menawarkan layanan untuk rumah, travelling atau nomaden, hingga di wilayah maritim. Harga termurahnya dibanderol US$120 (Rp 1,9 jutaan) per bulan. Sementara perangkat kerasnya senilai US$599 (Rp 9,7 jutaan).***
Penulis : Eko Cahyono
Editor : Eko Cahyono








