JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM — Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Partai NasDem, Irma Suryani Chaniago, menyoroti penanganan terhadap ribuan mahasiswa kedokteran yang terancam drop out (DO) akibat tidak lulus Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKOM).
Menurut Irma, kebijakan Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) dalam menangani persoalan tersebut dinilai tidak produktif dan terkesan semena-mena. Khawatir kondisi itu dapat berdampak serius terhadap mental para mahasiswa maupun keluarganya. “Saya melihat cara Dikti menangani masalah anak-anak yang tidak lulus UKOM sangat tidak produktif dan semena-mena. Jika hal ini tidak mendapatkan solusi, keluarga dan mahasiswa kedokteran yang sudah belajar selama empat tahun bisa stres. Bahkan dikhawatirkan ada yang nekat bunuh diri lagi,” tegas Irma, Jumat (22/5/2026).
Ia meminta pemerintah, khususnya Dikti, perguruan tinggi, dan Kementerian Kesehatan untuk duduk bersama mencari solusi terbaik bagi para calon dokter tersebut. Irma mengusulkan sejumlah langkah yang dinilai dapat menjadi jalan keluar atas persoalan itu.
Pertama, pemerintah diminta membuat program khusus atau crash program bagi mahasiswa yang belum lulus UKOM agar mendapatkan pembinaan tambahan sebelum mengikuti ujian kembali.
Kedua, mahasiswa yang belum lulus dapat diberikan pendampingan langsung di lapangan, misalnya ditempatkan di puskesmas sesuai daerah asal mereka sambil dilakukan evaluasi terhadap kelemahan kompetensi masing-masing. “Misalnya yang berasal dari Papua ditempatkan di puskesmas sambil dilihat kembali apa kelemahan mereka,” ujarnya.
Ketiga, Irma meminta pemerintah mengevaluasi fakultas kedokteran yang memiliki tingkat kelulusan UKOM rendah.
Menurutnya, fakultas kedokteran dengan tingkat kelulusan di bawah 30 persen perlu dipertimbangkan untuk ditutup. “Pilihan terakhir, mau tidak mau, tutup fakultas kedokteran yang kelulusan UKOM-nya di bawah 30 persen,” tambahnya.
Ia menilai langkah tersebut penting agar perjuangan mahasiswa yang telah menjalani pendidikan selama bertahun-tahun tidak sia-sia hanya karena gagal dalam ujian kompetensi yang berlangsung beberapa jam.“Solusi ini perlu dilakukan agar anak-anak yang sudah kuliah selama empat tahun tidak sia-sia belajar dan untuk menghindari dropout hanya karena gagal uji kompetensi dua jam,” pungkasnya.***
Penulis : M Arpas
Editor : Kamsari








