Market

Program KB Bisa Entaskan Kemiskinan Desa

PATI–Kemiskinan masih menjadi faktor yang menghambat masyarakat desa untuk mengakses kesehatan. Karena itu, untuk memberantas kemiskinan salah satunya melalui Program Keluarga Berencana (KB) yang tersedia di Puskemas setempat. “Dengan hanya dua anak, maka keluarga bisa lebih terurus. Kemiskinan bisa dikurangi sedikit demi sedikit,” kata anggota Komisi IX DPR Hj Sri Wulan, SE dalam siaran persnya, Jumat (24/11/2017).

Kegiatan sosialisasi KB Kie Kreatif yang berlangsung di Pendopo Desa Sudo Kecamatan Sulang, Rembang mendapat respon positif dari masyarakat. Kegiatan dimeriahkan dengan Sanggar Tari Putra Kesuma dan dihadiri Kepala Desa Sudo, Waji dan Kabid Pengendalian Penduduk BKKBN Jawa Tengah Priyadi.

Lebih jauh Sri Wulan menambahkan Desa Sudo menjadi sasaran pelaksanakan sosialisasi Keluarga Berencana (KB) oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), karena jumlah penduduk miskin cukup tinggi. “Makanya, kita beri edukasi kepada warga, tentang pentingnya KB,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Sri Wulan mengatakan, BKKBN memiliki sejumlah program yang memang harus disosialisasikan kepada masyarakat. “Kami datang kemari karena perlu untuk melakukan pendampingan dan pengawasan terhadap sosialisasi ini,” tambahnya.

Kehadiran DPR RI dalam sosialisasi tersebut dalam rangka pengawasan dan pengecekan fasilitas Desa. Terlebih Komisi IX bergerak di bidang kesehatan.”Sehingga efek dari sosialisasi keluarga berencana ini bisa tepat sasaran dan dapat benar-benar bermanfaat bagi masyarakat setempat,” tutur Legislator dari Jatim III.

Disisi lain, lanjut anggota Fraksi Partai Gerindra, dirinya mengajak masyarakat ikut mensosialisasikan gerakan KB. “Selama ini, kita juga berkoordinasi dengan BKKBN untuk turut mensukseskan program KB. Karena angka kelahiran anak secara nasional masih relatif tinggi,” jelasnya.

Hanya saja, Wulan mendapat masukan dari sejumlah warga. Mereka mengeluhkan akses menuju Puskesmas kecamatan setempat yang masih sulit dijangkau. Sehingga warga masih memilih peran bidan desa untuk berobat, meskipun harus mengeluarkan biaya. “Saya usulkan sekalian ini, mumpung ada dari Dinas Kabupaten, kalau bisa Puskesmas Keliling agar sampai sini. Karena akses yang jauh, bisa disiasati dengan Puskesmas keliling. Kan lumayan sudah punya BPJS, berobat gratis di Puskesmas,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana pada Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Rembang, Priyadi menyebutkan, sejatinya jumlah anak yang dilahirkan oleh ibu usia produktif di Rembang telah mendekati angka normal,” ungkapnya.

Menurut Priyadi, Jika dibanding dengan skala Nasional yang mencapai 2,6. Di Rembang angka ibu melahirkan jumlah anak berkisar 2,1. Mendekati batasan normal yakni 2. “Tantangan program KB kedepan adalah untuk mewujudkan penduduk yang seimbang. Di Rembang sendiri sudah 2,1, sedangkan skala nasional 2,6. Jadi wilayah Rembang sudah cukup baik. Rata-rata ibu di Rembang menggunakan kontrasepsi jenis suntik, jumlahnya sampai 65 persen,” terangnya.***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top