JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Wakil Ketua BKSAP DPR, Achmad Hafisz Tohir memberi perhatian khusus terkait Regulasi Deforestasi Uni Eropa yang mempengaruhi perdagangan hasil pertanian seperti minyak kelapa sawit dan lain-lain. Sorotan tersebut terungkap dalam pertemuan antara
Parlemen Indonesia dan Parlemen Uni Eropa.
“Upaya-upaya bagi sertifikasi ramah lingkungan dan pengembalian fungsi hutan terus kami upayakan dan tingkatkan,” katanya usai pertemuan tersebut di Jakarta, Sabtu (24/6/2023).
Legislator dari Dapil Sumatera Selatan I itu menjelaskan bahwa sepanjang 2019-2020 angka deforestasi Indonesia berkurang 75% dari tahun-tahun sebelumnya, atau hanya sekitar 115.000 hektar. “Bahkan dalam 2 tahun terakhir telah banyak peningkatan kualitas pertanian Indonesia dalam menekan angka deforestasi,” ujarnya.
Apalagi, sambung Mantan Ketua Komisi VI DPR, bahwa Indonesia telah melakukan moratorium perluasan lahan sawit yang mendorong pada efisiensi lahan sawit agar meningkat dari sisi produktifitas. “Kami berharap hubungan yang baik dan setara antara Indonesia-Uni Eropa, apalagi pasar Indonesia sangat besar,” ungkap Anggota Komisi XI DPR RI ini.
Wakil Ketua Umum PAN itu menekankan bahwa perlu didesak agar Parlemen Eropa dapat mendorong isu strategis dalam perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU – CEPA). “Seperit kita ketahui pasar Uni Eropa yang besarnya hampir sama dengan ASEAN tentu akan menjadikan kerja sama ini lebih potensial bagi kedua kawasan ini,” imbuhnya.
Menyinggung soal krisis Myanmar, HT sapaan akrabnya menambahkan
Parlemen Indonesia dan Parlemen Eropa sepakat mendorong tercapainya penyelesaian krisis berkepanjangan di Myanmar. Presidensi Indonesia di ASEAN (AIPA) saat ini diharapkan mampu menjadikan jembatan perdamaian kawasan.
Parlemen Uni Eropa mengapresiasi atas 5 butir konsensus ASEAN soal Myanmar yang meliputi:
1. Penghentian kekerasan
2. Dialog konstruktif.
3. Penunjukkan utusan khusus.
4. Pemberian bantuan kemanusiaan.
5. Pengiriman delegasi ke Myanmar.***
Penulis : Iwan Damiri
Editor : Kamsari








