Nasional

Neng Eem FPKB: Gus Sholah Manajer Pesantren yang Handal

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM – Bangsa Indonesia telah kehilangan seorang tokoh nasional, ulama besar, dan guru bangsa yang mahir mengembangkan manajemen pesantren. Pendidikan, manajemen, dan pesantren, senantiasa melekat dalam pikiran alm. KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) hingga menjelang wafatnya pada Ahad (2/2) malam di Jakarta.

“Kita berduka sangat dalam dengan berpulangnya Gus Sholah (sapaan akrab KH Salahuddin Wahid, red). Beliau telah memberikan warna modernisasi pada pesantren-pesantren tradisional Indonesia dengan menerapkan manajemen yang tepat,” tegas anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz di Jakarta, Senin (3/2).

Menurut Neng Eem, keluarga besar organisasi masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) tentunya merasakan kehilangan yang paling besar, karena Gus Sholah dikenal sebagai Ulama NU, meski beliau dekat dengan ormas Islam lainnya seperti Muhammadiyyah.

“Pergaulan beliau sangatlah luas, gaya komunikasinya pun sangat menyenangkan. Jadi, seakan tidak ada sekat apapun bagi beliau untuk bekerjasama dan bertukar pikiran dengan pihak darimanapun,” ungkap Neng Eem.

Neng Eem berharap agar masyarakat Indonesia dapat memetik pelajaran dan kebaikan-kebaikan yang telah disebarkan Gus Sholah semasa hidupnya. “Ada banyak pelajaran penting dari Gus Sholah yang harus kita bina dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegasnya.

KH Salahuddin Wahid atau akrab disapa Gus Sholah wafat pada Ahad (2/2) di RS Harapan Kita, Jakarta Barat pukul 20:59 WIB. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ini rencananya akan dimakamkan berdampingan dengan makam Presiden Indonesia ke-4 KH Abdurrahman Wahid yang juga adalah kakak kandung Gus Sholah.

Gus Sholah lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 11 September 1942 dan wafat pada usia 77 tahun. Gus Sholah adalah anak ketiga dari pasangan KH Wahid Hasyim dan Nyai Hj Sholihah. Selain KH Abdurrahman Wahid yang akrad disapa Gus Dur, ada empat saudara kandung Gus Sholah lainnya yaitu Nyai Aisyah, Dr Umar Alfaruq, Nyai Lily Wahid, dan Muhammad Hasyim.

Gus Sholah merupakan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Arsitektur. Pengalaman organisasi beliau sangatlah banyak, mulai dari PMII Komisariat ITB (1964-1966), Sekretaris Jenderal DPP Inkindo (1991-1994), Ketua Departemen Konsultansi Manajemen Kadin (1994-1998), hingga sempat mendirikan Ikatan Konsultan Manajemen Indonesia (1995).

Gus Sholah juga pernah menjadi Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Umat (PKU) (1998-Oktober 1999), Ketua Lajnah Pemenangan Pemilu PKU (1999), pendiri Yayasan Baitussalam (1982), Ketua Badan Pengurus Yayasan Baitussalam (1982-1985, 1988-1991), dan Anggota Badan Pengawas Yayasan Baitussalam (1991-1994). Beliau juga menjadi pendiri Yayasan Wahid Hasyim (1985) dan Sekretaris Badan Pendiri Yayasan Wahid Hasyim (1999).

Gus Sholah juga pernah menjabat sebagai Ketua PBNU periode 1999-2004, Ketua Badan Pendiri Yayasan Forum Indonesia Satu (sejak 2000), Ketua ICMI tahun 2001-2003, dan Wakil Ketua II Komnas HAM pada 2002-2007. Pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2004-2009, Gus Sholah diminta Golkar untuk menjadi cawapres berpasangan dengan Wiranto.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top