*) Dr. H. A. Effendy Choirie, M.Ag., M.H.
Pengantar: Ketika Seorang Pemimpin Besar Wafat
Wafatnya Ayatollah Sayyed Ali Khamenei menandai berakhirnya satu babak penting dalam sejarah Iran, dunia Islam, dan geopolitik internasional. Namun sebagaimana lazimnya tokoh-tokoh besar dalam sejarah, kematian tidak mengakhiri pengaruh, gagasan, dan warisan perjuangannya. Bahkan sering kali, setelah seorang tokoh wafat, dunia justru semakin memahami besarnya jejak yang ditinggalkannya.
Jutaan rakyat Iran mengiringi prosesi pemakamannya. Berbagai negara mengirim utusan resmi untuk memberikan penghormatan terakhir. Bagi para pendukungnya, Khamenei adalah simbol kedaulatan nasional, perlawanan terhadap dominasi asing, dan pembela perjuangan Palestina. Bagi para pengkritiknya, ia adalah figur yang keras dan kontroversial dalam mempertahankan pandangan politiknya. Namun baik yang mendukung maupun yang mengkritik, sulit menafikan bahwa Ayatollah Khamenei merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia selama lebih dari tiga dekade.
Pemakaman itu bukan hanya peristiwa duka, melainkan juga peristiwa politik, diplomatik, dan historis yang memperlihatkan bagaimana dunia memandang posisi Iran dan sosok Khamenei.
Bagi bangsa Indonesia, momentum tersebut layak dijadikan bahan refleksi. Apa yang dapat dipelajari dari kepemimpinan Ayatollah Khamenei? Nilai-nilai apa yang relevan bagi Indonesia? Dan bagaimana kita mengambil hikmah tanpa harus meniru sistem politik Iran?
Dari Keluarga Sederhana Menjadi Pemimpin Dunia
Ayatollah Sayyed Ali Khamenei lahir dari keluarga ulama sederhana di kota Mashhad. Sejak muda ia ditempa oleh tradisi keilmuan Islam yang kuat, kehidupan yang sederhana, dan semangat perjuangan melawan ketidakadilan.
Pada masa pemerintahan Syah Mohammad Reza Pahlavi, Khamenei termasuk tokoh yang aktif menentang rezim yang dianggap terlalu bergantung kepada Barat. Karena aktivitas politiknya, ia beberapa kali ditangkap dan dipenjara.
Setelah Revolusi Islam Iran tahun 1979, karier politiknya berkembang pesat. Ia pernah menjabat Presiden Iran sebelum dipercaya menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran pada tahun 1989.
Perjalanan hidup tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan besar tidak selalu lahir dari kemewahan dan kekuasaan. Ia sering lahir dari ilmu pengetahuan, pengalaman perjuangan, keteguhan prinsip, dan kedekatan dengan rakyat.
Konsistensi Memegang Prinsip
Salah satu karakter paling menonjol dari Khamenei adalah konsistensinya.
Selama lebih dari tiga dekade memimpin Iran, ia mempertahankan prinsip-prinsip yang diyakininya sebagai fondasi negara dan bangsa. Banyak pihak boleh setuju atau tidak setuju terhadap pandangan-pandangannya, tetapi hampir semua mengakui keteguhan sikapnya.
Dalam dunia politik modern yang sering diwarnai pragmatisme, konsistensi merupakan kualitas yang semakin langka. Banyak pemimpin berubah mengikuti arah angin politik, tekanan ekonomi, atau kepentingan jangka pendek.
Khamenei menunjukkan bahwa seorang pemimpin dapat tetap bertahan pada prinsip yang diyakininya meskipun menghadapi tekanan yang luar biasa besar. Indonesia pun membutuhkan pemimpin yang memiliki konsistensi serupa, terutama dalam menjalankan amanat konstitusi dan memperjuangkan kepentingan rakyat.
Kedaulatan dan Kemandirian Nasional
Pelajaran terbesar dari kepemimpinan Khamenei adalah pentingnya kedaulatan dan kemandirian nasional.
Selama puluhan tahun Iran menghadapi embargo ekonomi, sanksi internasional, tekanan diplomatik, ancaman militer, dan berbagai bentuk isolasi politik. Namun negara itu tetap berdiri sebagai bangsa yang berdaulat.
Di bawah kepemimpinan Khamenei, Iran terus mengembangkan kemampuan teknologi, energi, industri pertahanan, kesehatan, pendidikan tinggi, dan riset ilmiah. Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa bangsa yang besar tidak boleh menggantungkan masa depannya kepada kekuatan asing.
Indonesia sebenarnya memiliki modal yang jauh lebih besar. Negeri ini dikaruniai sumber daya alam yang melimpah, posisi geopolitik yang strategis, jumlah penduduk yang besar, serta bonus demografi yang luar biasa.
Karena itu, pelajaran dari Iran sesungguhnya sederhana: bangsa yang memiliki kemauan politik yang kuat dapat membangun kemandirian meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.
Keberanian Menghadapi Tekanan Global
Sejarah selalu mencatat pemimpin yang berani mengambil risiko.
Khamenei dikenal sebagai pemimpin yang tidak mudah tunduk terhadap tekanan kekuatan besar dunia. Ia mempertahankan posisi politik Iran meskipun harus menghadapi konsekuensi ekonomi dan diplomatik yang berat.
Keberanian semacam ini penting dalam menjaga martabat bangsa.
Indonesia juga membutuhkan keberanian yang sama dalam memperjuangkan kepentingan nasional. Keberanian untuk memberantas korupsi. Keberanian untuk mengelola kekayaan alam bagi kemakmuran rakyat. Keberanian untuk membela keadilan internasional. Dan keberanian untuk mengatakan benar terhadap yang benar serta salah terhadap yang salah.
Ilmu Pengetahuan Sebagai Kekuatan Bangsa
Di tengah berbagai tekanan yang dihadapi negaranya, Iran tetap memberikan perhatian besar kepada pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Universitas, pusat riset, dan lembaga penelitian terus berkembang. Iran berhasil melahirkan banyak ilmuwan, dokter, insinyur, dan peneliti yang berkontribusi terhadap pembangunan nasional.
Kondisi ini mengajarkan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya terletak pada kekayaan alam, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusianya.
Indonesia harus menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama pembangunan. Sekolah berkualitas, universitas unggulan, pesantren yang maju, pusat riset yang kuat, dan inovasi teknologi merupakan investasi jangka panjang yang menentukan masa depan bangsa.
Khamenei, Palestina, dan Perlawanan terhadap Zionisme Israel
Tidak mungkin membicarakan Ayatollah Khamenei tanpa membicarakan Palestina.
Sejak menjadi Pemimpin Tertinggi Iran pada tahun 1989, Khamenei menjadikan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina sebagai salah satu pilar utama kebijakan luar negeri Iran.
Baginya, persoalan Palestina bukan semata-mata persoalan bangsa Arab atau umat Islam, melainkan persoalan kemanusiaan, keadilan, dan penentangan terhadap penjajahan.
Selama puluhan tahun, Iran secara konsisten mendukung hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri dan mendirikan negara yang merdeka. Sikap tersebut membuat Iran sering berhadapan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Namun Khamenei tidak mengubah posisinya. Ia tetap memandang bahwa penderitaan rakyat Palestina dan pendudukan wilayah Palestina merupakan persoalan moral dan kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan.
Bagi banyak rakyat di dunia Islam, keteguhan sikap inilah yang menjadikan Khamenei dihormati. Ketika sebagian negara memilih berhitung dengan kepentingan ekonomi dan politik, Iran tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu pendukung utama perjuangan Palestina.
Bagi Indonesia, dukungan terhadap Palestina bukanlah hal baru. Sejak masa Presiden Soekarno hingga sekarang, Indonesia secara konsisten mendukung kemerdekaan Palestina sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945 yang menegaskan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Karena itu, pelajaran yang dapat diambil bukanlah meniru seluruh kebijakan Iran, melainkan meneladani konsistensi dalam memperjuangkan prinsip-prinsip keadilan internasional.
Pemakaman Khamenei dan Pelajaran Diplomasi
Prosesi pemakaman Ayatollah Khamenei juga memberikan pelajaran penting mengenai diplomasi.
Banyak negara mengirim utusan resmi setingkat kepala negara, kepala pemerintahan, menteri luar negeri, atau pejabat tinggi lainnya untuk menunjukkan penghormatan kepada salah satu pemimpin paling berpengaruh di dunia Islam.
Dalam hubungan internasional, kehadiran atau ketidakhadiran seorang pejabat sering kali memiliki makna politik dan diplomatik. Diplomasi bukan hanya soal perjanjian dan kerja sama ekonomi, tetapi juga soal penghormatan, simbol, dan komunikasi antarbangsa.
Sebagai negara muslim terbesar di dunia dan negara yang menganut politik luar negeri bebas aktif, Indonesia idealnya mampu menunjukkan penghormatan yang proporsional kepada para pemimpin dunia yang memiliki pengaruh besar, termasuk kepada pemimpin Iran.
Hal ini bukan soal menyetujui seluruh kebijakan Iran, melainkan soal etika diplomasi dan penghormatan kepada sebuah bangsa sahabat.
Khamenei, Soekarno, dan Politik Luar Negeri yang Bermartabat
Meskipun lahir dari latar belakang sejarah, budaya, dan sistem politik yang berbeda, terdapat satu titik temu yang menarik antara Ayatollah Khamenei dan Presiden Soekarno: keduanya meyakini bahwa martabat bangsa tidak boleh diperjualbelikan.
Soekarno adalah tokoh besar dunia yang menentang kolonialisme, imperialisme, dan segala bentuk penindasan terhadap bangsa-bangsa yang lemah. Melalui Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung, ia mengajak bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk berdiri tegak sejajar dengan bangsa-bangsa besar dunia.
Dalam pidato-pidatonya, Soekarno berulang kali menegaskan bahwa kemerdekaan politik harus diikuti oleh kemerdekaan ekonomi dan kemerdekaan kebudayaan. Baginya, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang mampu menentukan nasibnya sendiri tanpa didikte oleh kekuatan asing.
Semangat itulah yang kemudian melahirkan politik luar negeri bebas aktif Indonesia.
Dalam konteks yang berbeda, Khamenei juga menunjukkan semangat yang serupa. Ia berusaha menjaga agar Iran tidak menjadi negara yang tunduk kepada tekanan kekuatan besar dunia. Selama puluhan tahun Iran mempertahankan kebijakan luar negeri yang menurut mereka mencerminkan kepentingan nasional dan kedaulatan negara meskipun harus menghadapi berbagai konsekuensi politik dan ekonomi.
Tentu Indonesia tidak harus meniru seluruh kebijakan Iran. Namun semangat menjaga martabat bangsa, keberanian mempertahankan kedaulatan, dan keteguhan memperjuangkan kepentingan nasional merupakan nilai universal yang relevan bagi semua bangsa.
Politik luar negeri yang bermartabat adalah politik luar negeri yang mampu bersahabat dengan semua negara, tetapi tidak tunduk kepada siapa pun. Politik luar negeri yang menjalin kerja sama dengan Barat maupun Timur, tetapi tetap menjadikan kepentingan nasional sebagai kompas utama.
Soekarno pernah mengajarkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri. Khamenei, dengan caranya sendiri, juga menunjukkan pentingnya kemandirian dan keberanian mempertahankan kedaulatan nasional.
Indonesia dan Dunia Islam
Indonesia memiliki posisi yang unik di dunia Islam.
Dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga perdamaian, keadilan, dan solidaritas antarbangsa muslim.
Hubungan baik dengan negara-negara Islam tidak berarti harus mengorbankan hubungan dengan negara-negara lain. Politik luar negeri bebas aktif justru mengajarkan keseimbangan, kemandirian, dan kemampuan menjalin persahabatan dengan semua pihak.
Dalam konteks itu, Indonesia perlu terus memperkuat hubungan dengan negara-negara Islam, termasuk Iran, Arab Saudi, Turki, Mesir, Qatar, Uni Emirat Arab, Pakistan, dan negara-negara lainnya demi kepentingan perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan umat manusia.
Pemimpin Besar dan Warisan Sejarah
Jabatan adalah sementara, tetapi warisan sejarah dapat bertahan sangat lama.
Ayatollah Khamenei akan dikenang bukan semata karena lamanya masa jabatan, melainkan karena pengaruhnya terhadap perjalanan Iran dan geopolitik dunia.
Sejarah menunjukkan bahwa pemimpin besar adalah mereka yang memiliki visi jauh ke depan, keberanian mengambil keputusan besar, kemampuan bertahan menghadapi tekanan, dan keteguhan mempertahankan prinsip yang diyakininya.
Bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin dengan kualitas seperti itu. Pemimpin yang berpikir bukan hanya tentang lima tahun masa jabatan, melainkan lima puluh tahun bahkan seratus tahun masa depan bangsa.
Penutup: Hikmah untuk Indonesia
Bercermin pada Ayatollah Sayyed Ali Khamenei bukan berarti Indonesia harus meniru sistem politik Iran. Indonesia tetaplah Indonesia dengan Pancasila, UUD 1945, demokrasi, dan kebhinekaannya.
Namun dari sosok Khamenei kita dapat mengambil pelajaran berharga tentang kesederhanaan, keberanian, konsistensi, kemandirian, kecintaan kepada bangsa, keberpihakan kepada rakyat tertindas, serta keteguhan dalam menjaga kedaulatan negara.
Dari Soekarno kita belajar tentang pentingnya kemerdekaan, anti-kolonialisme, dan politik luar negeri bebas aktif yang bermartabat. Dari Khamenei kita belajar tentang keteguhan mempertahankan prinsip, keberanian menghadapi tekanan global, dan konsistensi membela Palestina.
Keduanya mengajarkan bahwa martabat bangsa tidak boleh diperjualbelikan, kedaulatan tidak boleh digadaikan, dan kepentingan rakyat harus selalu menjadi tujuan utama negara.
Pemakaman Khamenei pada akhirnya bukan hanya menjadi peristiwa duka bagi rakyat Iran. Ia juga menjadi momentum refleksi bagi bangsa-bangsa lain, termasuk Indonesia, tentang arti kepemimpinan, kedaulatan, solidaritas terhadap Palestina, dan politik luar negeri yang bermartabat.
Sebab pada akhirnya, bangsa yang dihormati dunia bukanlah bangsa yang paling kaya atau paling kuat semata, melainkan bangsa yang mampu menjaga kehormatan, kedaulatan, dan keberpihakannya kepada nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.***
*) Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) 2024–2029
Anggota DPR/MPR RI 1999–2013
Mantan Sekretaris Fraksi PKB MPR RI
Mantan Ketua Fraksi PKB DPR RI
Mantan Wakil Ketua Komisi I DPR RI








