JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM – Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad berjanji akan mengawasi proses peleburan Lembaga Biologi Molemuler Eijkman ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Karena itu, jangan sampai ada ASN atau peneliti yang sudah bekerja lama dan profesional tidak terakomodir dalam peleburan tersebut. “DPR akan mengawasi proses peleburan Eijkman ke BRIN ini. Saya juga minta lembaga pengawas ikut mengawasi peleburan itu agar tak ada yang dirugikan,” tegas Ketua Harian DPP Gerindra itu saat dicegat wartawan di Gedung DPR RI Senayan Jakarta, Senin (3/1/2022).
Sebelumnya, sebanyak 113 tenaga honorer Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman, 71 di antaranya adalah tenaga honorer periset, tidak diperpanjang kontraknya atau diberhentikan. Pemberhentian ini imbas dari adanya integrasi Lembaga Eijkman ke tubuh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Sementara ditempat terpisah, Wakil Ketua DPR RI Bidang Korkesra Abdul Muhaimin Iskandar mengatakan, pencopotan para periset Eijkman ini kortraproduktif dengan keinginan pemerintah untuk melakukan penguatan di bidang riset. Karena itu, Gus Muhaimin meminta BRIN merangkul kembali semua peneliti Eijkman. ”Kita membutuhkan banyak sekali peneliti untuk membangun peradaban yang maju,” ujar Gus Muhaimin.
Dibentuknya BRIN, kata Gus Muhaimin, diharapkan bisa memperkuat ekosistem riset dan inovasi di Tanah Air. Sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Inovasi Nasional, BRIN bertugas untuk menjalankan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan (litbangjirap), serta invensi dan inovasi secara nasional yang terintegrasi. ”Seharusnya kita malah menambah jumlah peneliti kita, bukan malah mengurangi. Salah satu kunci kemajuan sebuah negara adalah dengan penguatan riset dan teknologi,” kata Gus Muhaimin.
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menyontohkan, dalam kasus Covid-19, bangsa ini pada masa-masa awal terjadinya pandemi terlihat gagap. Hal ini salah satunya karena rendahnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. ”Gara-gara ilmu pengetahuan belum kita kuasai, kita membuang duit terlalu mudah dan besar sekali yang kita buang untuk penanganan pandemi,” urainya.
Saat itu, lanjut Gus Muhaimin, negara menggelontorkan anggaran besar untuk membeli alat rapid test, ternyata sama sekali tidak efektif sehingga menjadi mubazir. Begitu pula dalam pengadaan boks desinfektan yang banyak tersedia di depan rumah atau gedung-gedung, juga tidak efektif dan bahkan membahayakan. ”Inilah pentingnya penguatan riset dan ilmu pengetahuan,” tuturnya.
Karena itu, Gus Muhaimin meminta BRIN untuk mengkaji ulang pencopotan para penaga periset Eijkman. ”Tenaga mereka tentu sangat kita butuhkan. Bila perlu, kita memperbanyak tenaga periset untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ungkapnya.
Diketahui, pengelolaan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman diambil alih BRIN sejak September 2021. Perubahan status dari LBM Eijkman menjadi Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman resmi dilakukan pada 28 Desember 2021 lalu. Setelah integrasi Eijkman ke BRIN secara otomatis semua periset yang sebelumnya bekerja di Lembaga Eijkman harus menjalankan aktivitas riset sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang baru.
Eijkman Institute merupakan lembaga penelitian nirlaba yang didanai pemerintah. Lembaga ini bertugas melakukan penelitian dasar dalam biologi molekuler medis dan bioteknologi. Lembaga ini memiliki misi utama memajukan kemajuan penelitian dasar dan terapan terkait biologi molekuler di Indonesia, dengan fokus di bidang biomedis, keanekaragaman hayati, bioteknologi dan biosekuriti, serta menerjemahkan hasil penelitian untuk kepentingan masyarakat Indonesia.
Solusi
Wakil Ketua Komisi VII DPR Eddy Soeparno juga berharap peleburan itu tidak menyisakan permasalahan dari aspek tenaga kerja. Para peneliti Eijkman yang telah berpengalaman mesti tetap mendapat tempat di BRIN seiring bergabungnya Eijkman ke BRIN. “Jangan sampai tenaga-tenaga peneliti yang sudah dididik, sudah memiliki pengalaman dalam melakukan penelitian, sudah melakukan uji akademis terhadap berbagai penelitian itu kemudian tidak mendapatkan tempat,” kata Eddy.
Lebih jauh Eddy menambahkan Komisi VII DPR sudah meminta agar peleburan instansi yang berada di bawah Kementerian Riset dan Teknologi ke BRIN tidak menimbulkan masalah tenaga kerja. Pada masa sidang berikutnya, Komisi VII DPR akan kembali menegaskan hal itu serta meminta solusi apabila terdapat permasalahan dari sisi sumber daya manusia. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Menurut Eddy, peleburan Eijkman ke BRIN hendaknya tidak menghentikan atau memperlambat proses penelitian dan produksi vaksin dalam negeri. Politikus PAN itu mengatakan, Komisi VII DPR telah memberikan pengawasan ketat agar penelitian dan pengembangan vaksin dalam negeri serta uji klinisnya dapat rampung sebelum paruh pertama 2022. “Jadi kita tetap akan memonitor, memantau, serta mengawal agar Lembaga Eijkman yang akan bernaung di bawah BRIN itu tetap bisa menjalankan fungsi untuk pengembangan vaksin dalam negeri,” kata dia.
Diberitakan sebelumnya, pihak Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman mengungkapkan, ada 113 tenaga honorer tidak diperpanjang kontraknya atau diberhentikan. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala PRBM Eijkman Wien Kusharyoto mengatakan, 113 orang itu diberhentikan karena dampak adanya integrasi Lembaga Eijkman ke tubuh BRIN, pada September 2021 lalu. ***
Penulis : Arpaso
Editor : Budiono








