Infrastruktur

Diduga Janggal, Masyarakat Desak Tender Mega Proyek PDAM TB Dibatalkan

Diduga Janggal, Masyarakat Desak Tender Mega Proyek PDAM TB Dibatalkan
Logo Perumda Tirta Benteng/Sumber Foto: Dok PDAM Tirta Bengteng

TANGERANG, SUARAINVESTOR.COM-BUMD milik Pemkot Tangerang, PDAM Tirta Benteng (TB) diduga secara diam-diam menggelar lelang terbatas (beauty contes) pembangunan jaringan distribusi air bersih untuk wilayah tengah dan barat Kota Tangerang yang meliputi beberapa kecamatan, dengan nilai mencapai Rp 2,4 triliun lebih. Apalagi, kebikakan  PDAM TB Kota Tangerang disinyalir akan mendatangkan banyak kerugian bagi Kota Tangerang. “Dari hasil penelusuran tim, diduga banyak kejanggalan di proyek investasi ini, pertama proyek ini dilelang diakhir masa jabatan Walikota Tangerang Arief R Wismansyah yang akan segera berakhir sekitar 6 bulan lagi, kedua saat ini PDAM TB sedang tidak memiliki Dirut sebagai penanggung jawab penuh perusahaan daerah ini, setelah almarhum Sumarya meninggal dunia, ada kesan proyek ini dipaksakan, dan sarat kepentingan pihak tertentu yang ingin mengambil keuntungan,” kata Pengamat Kebijakan Publik Kota Tangerang Hasanudin Bije kepada wartawan, Senin (5/6/2023).

Lebih jauh mantan Anggota DPRD Kota Tangerang ini menyatakan, proyek investasi di PDAM TB selama ini cenderung merugikan, karena menjadi beban utang bagi PDAM TB. Seperti yang saat ini sudah berjalan dengan PT Moya Indonesia, dimana PDAM TB punya kewajiban membayar utang investasi dalam bentuk membeli air yang diproduksi PT Moya.
“Soal investasi PT Moya saja kami anggap bermasalah, karena saat ini PDAM TB punya kewajiban beli air curah produksi PT Moya dan ini jadi beban utang PDAM TB tiap bulan yang kabarnya mencapai lebih dari Rp 6 miliar. Angka pastinya kita belum dapat karena sangat minim informasi, terkesan ditutupi oleh PDAM TB dan Pemkot Tangerang, terutama para pejabat yang punya kepentingan, seakan-akan PDAM TB adalah perusahaan pribadi, bukan perusahaan daerah yang harus nya akses informasi terbuka buat masyarakat,” kata Bije, sapaan akrabnya.

Terkait kondisi ini, maka tambah Bije, PDAM TB tidak seharusnya melakukan gelaran tender investasi yang kedua kalinya. Karena hanya akan merugikan PDAM TB.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Direktur LBH Pospera Banten, Septian Prasetiyo. “Kami sudah melayangkan surat ke Walikota Tangerang, untuk menghentikan proses tender yang saat ini sedang berjalan, jika tidak maka kami akan mengalang kekuatan rakyat diluar pemerintahan, untuk menghentikan proses tender Mega proyek ini, karena dari banyak kajian, proyek ini cenderung merugikan masyarakat Kota Tangerang,” kata Septian.

Lebih jauh mantan aktivis yang banyak melakukan advokasi terhadap masyarakat nelayan petani dan buruh ini menyatakan, berdasarkan kajian tim Pospera Banten, proyek ini menelan biaya yang cukup besar.

Adapun rincian nilai investasi pengembangan sistem penyediaan air minum (SPAM) dengan mekanisme kerjasama yakni Build Rehabilitate Operate Transfer (BROT) + Build Transfer (BT) senilai Rp 1,936,386.000.000 dan Kredit berbayar angsuran (KBA) senilai Rp 468,075.000.000, sehingga jika ditotalkan sebesar Rp 2,404,461.000.000. Untuk kerjsama BROT dan BT dilakukan selama 30 tahun terhitung sejak penandatanganan perjanjian kerjasama dan kontrak berbayar angsuran (KBA) selama 25 tahun untuk SPAM Regional Karian-Serpong. “Nilai proyek sebesar Rp 2,4 triliun ini sangat mencolok bagi Kota Tangerang, tapi kok ada kesan dilakukan diam-diam, tanpa ada ekpose kajian ke masyarakat, tapi kalau bicara kemampuan pemerintah daerah untuk mendanai proyek ini sendiri, tanpa investasi, sebenarnya Pemkot Tangerang juga mampu, karena APBD Kota Tangerang mencapai Rp 5 triliun. Tentunya secara bertahap,” kata Septian.

Dijelaskan Septian  bahwa air adalah kebutuhan yang sangat fundamental bagi keberlangsungan kehidupan tidak hanya bagi manusia melainkan bagi semua makhluk hidup ketersediaan air bersih menjadi issue utama yang wajib dijadikan prioritas oleh pemerintah untuk menunjang kesejahteraan rakyat. “Secara menyeluruh adapun situasi dan kondisi saat ini sangatlah berbeda terutama yang terjadi di kota- kota besar, dimana ketersediaan air bersih sangatlah minim, sehingga hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah untuk dapat menyelesaikan problem tersebut,” katanya.

Sebagai informasi, pada 2012 PDAM TB memulai hubungan kerjasama dengan salah satu Perseroan Swasta PT. MOYA INDONESIA bentuk kerjasama ini bersifat Build Operation Transfer (BOT) selama 20 Tahun dan merupakan salah satu proyek terbesar di Indonesia dalam bidang penyedia air minum ketika itu, kerjasama tersebut berupa penyediaan instalasi pengolahan air (IPA) baru dengan kapasitas 3×500 liter per detik dan pipanisasi sebanyak 120 ribu sambungan, yang meliputi wilayah tangerang timur dengan nilai sekitar Rp 1,15 triliun. Kerjasama yang sebelumnya sudah dilakukan penandatangan tersebut sempat tidak berjalan sesuai dengan rencana menyusul dicabutnya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (SDA) oleh Mahkamah Konstitusi (MK) ketika itu, sehingga secara otomatis semua bentuk perjanjian antara pemerintah dengan pihak swasta batal demi hukum.

Namun pada 2016 kerjasama yang sebelumnya sempat tidak berjalan tersebut pada akhirnya kembali dilanjutkan dengan adanya amandemen Perjanjian terkait harga jual per kubik dari PT. MOYA INDONESIA yang sebelumnya berada di harga Rp 3.750, kini berubah menjadi Rp 2.100.

Isi perjanjian kerjasama antara PT. MOYA INDONESIA dengan Pemerintah Kota Tangerang hingga saat ini telah 3 (Tiga) kali dilakukan amandemen, terakhir dilakukan pada 14 Maret 2018, isi amandemen ke 3 (Tiga) tersebut diketahui terdapat perubahan – perubahan yang dilakukan oleh kedua belah pihak diantaranya terkait rencana pelaksanaan dan jangkauan kerja yang sebelumnya meliputi 3 (Tiga) zona wilayah di amputasi hanya meliputi 1 (Satu) zona wilayah yaitu Kecamatan Neglasari, Cipondoh, Benda, Batu Ceper, Kec. Tangerang dan Bandara Soekarno Hatta.

Sementara itu Panitia Pengadaan Badan Usaha pada Perumda Tirta Benteng Kota Tangerang, Tommy Herdiansyah ketika dikonfirmasi wartawan belum memberikan respon, pesan melalui whatsApp tidak dijawab. Berdasarkan penelusuran sampai saat ini ada 7 badan usaha atau perusahaan yang ikut serta dalam tender tersebut. Yakni PT Adhi Karya, PT Tirta Nusantara Sukses, PT Adhya Tirta Batam, PT Multi Agung Transco, PT Rafa Karya Indonesia, PT tigalapan Adam Internasional, PT Palyja Aetra Konsorsium.***

Penulis     :   Budiana

Editor       :   Budiana

Print Friendly, PDF & Email

BERITA POPULER

To Top