*)Dr H.A. Effendy Choirie
Peringatan 80 tahun Indonesia Merdeka menjadi momentum refleksi besar. Pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Kenegaraan tidak hanya seremonial, tetapi menyiratkan arah baru bangsa. Beliau menegaskan: “Kemerdekaan sejati berarti bebas dari kemiskinan, bebas dari kelaparan, bebas dari penderitaan.”
Presiden juga memberi penghormatan kepada para Presiden terdahulu, dari Soekarno hingga Joko Widodo, sebagai penanda estafet sejarah. Indonesia berdiri di atas kerja keras, pengorbanan, dan visi besar para pendiri bangsa.
Demokrasi Sejuk dan Penegakan Hukum
Pidato juga menegaskan kematangan demokrasi Indonesia. Pergantian kekuasaan berjalan damai, tanpa gejolak. Presiden menyebut:
“Demokrasi kita harus menjadi demokrasi khas Indonesia. Demokrasi yang sejuk, yang tidak saling menghancurkan, yang tidak merusak.”
Tanpa supremasi hukum, demokrasi bisa berubah menjadi tirani; sebaliknya, hukum tanpa demokrasi berpotensi menuju otoritarianisme.
Melawan Korupsi
Dalam 299 hari pertama pemerintahannya, Presiden melaporkan penyelamatan APBN lebih dari Rp300 triliun. Beliau menekankan:
“Kita berhasil menghemat anggaran dari perjalanan dinas, dari belanja alat tulis, dari berbagai pos-pos yang tidak langsung menyentuh rakyat. Dana itu kita alihkan untuk kebutuhan yang lebih bermanfaat.”
Lebih jauh, Presiden mengingatkan tentang kebocoran kekayaan nasional ke luar negeri:
“Fenomena net outflow of national wealth adalah tantangan kita bersama. Jangan saling menyalahkan, mari kita cari solusi untuk menghentikan kebocoran ini.”
Membangun Dengan Sumber Daya Alam, Bukan Pajak Rakyat
Dalam konteks refleksi kemerdekaan, gagasan untuk membangun Indonesia melalui pemanfaatan optimal sumber daya alam sangat relevan. Kekayaan darat, laut, dan udara dapat menjadi modal pembangunan, tanpa harus terus-menerus membebani rakyat dengan pajak.
Pajak rakyat selama ini kerap terasa menindas, terutama bagi kelompok miskin dan menengah. Indonesia harus berani berpikir alternatif: membiayai pembangunan dari SDA yang melimpah, disertai pengelolaan yang transparan, akuntabel, dan bebas korupsi.
Menuju Sejahtera untuk Semua
DNIKS selalu mengusung motto Sejahtera untuk Semua. Semangat inilah yang sejalan dengan visi Presiden. Indonesia tidak boleh lagi menjadi negara kaya sumber daya tetapi rakyatnya miskin.“Kita ingin Indonesia maju. Kita ingin rakyat Indonesia hidup terhormat, hidup sejahtera, hidup mulia,” ujar Presiden menutup pidatonya.
Delapan puluh tahun merdeka adalah waktu yang cukup panjang untuk bercermin. Kini saatnya bangsa ini menempuh jalan baru: membangun dengan kekayaan alam, menghapus praktik korupsi, mengurangi beban pajak rakyat, dan memastikan kesejahteraan sosial menjangkau seluruh pelosok.
Pidato Presiden Prabowo Subianto memberi arah dan harapan. Tugas kita adalah menjadikannya karya nyata.***
*)Ketua Umum DNIKS (Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial) 2024–2029








