Nasional

Yusril: Sejak 1999 Masyumi Sudah Ikut Pemilu, Zaman Sudah Berubah, Rakyat Pragmatis

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM – Prof.Dr.Yusril Ihza Mahendra,S.H.,M.Sc
Ketua Umum PBB menghormati hak setiap orang untuk mendirikan partai politik sebagai bagian dari upaya untuk melaksanakan kehidupan demokrasi di negara Indonesia.

“Termasuk pula saya menghormati KH Cholil Ridwan yang baru-baru ini telah mendeklarasikan berdirinya kembali Masyumi,” demikian Yusril menanggapi dideklarasikannya Masyumi, Sabtu (7/11) lalu itu.

Bahwa nama Masyumi itu digunakan kembali sebagai nama partai di era Reformasi kata Yusril, setelah Masyumi dibubarkan tahun 1960, bukanlah baru pertama kali terjadi. “Tahun 1999 sudah pernah ada nama ‘Masyumi’ digunakan pada sebuah partai baru dan ikut Pemilu 1999. Begitu juga nama ‘Masyumi Baru’ pernah pula digunakan dan juga ikut dalam Pemilu 1999. Hasilnya tidak begitu menggembirakan,” jelas Yusril.

Sekarang kedua partai itu, baik Masyumi maupun Masyumi Baru, menurut Yusril, mungkin masih berdiri sebagai partai politik berbadan hukum yang sah dan terdaftar di Kemenkumham. Tapi dalam beberapa kali Pemilu terakhir sudah tidak aktif lagi.

Partai yang baru dideklarasikan oleh KH Cholil Ridwan dan beberapa tokoh tanggal 7 November 2020 yang lalu, itu Yusril mengaku tidak tahu apa namanya? “Masyumi saja atau Masyumi Reborn” saya kurang paham. Hal itu bisa ditanyakan langsung kepada KH Cholil Ridwan,” kata Yusril.

Yusril sendiri ikut mendirikan PBB pada tahun 1998 dan terus ikut Pemilu sejak 1999 sampai Pemilu terakhir tahun 2019. “PBB sendiri tidak menyebut dirinya Masyumi, Masyumi Baru atau Masyumi Reborn. PBB adalah partai baru yang menimba inspirasi dari Partai Masyumi. Sebab saya yakin, zaman sudah berubah. Situasi politik sudah sangat berbeda dengan zaman tahun 1945-1960 ketika Masyumi ada,” ungkapnya.

Mendeklarasikan berdirinya partai memang mudah. Tapi kata Yusril, mengelola, membina dan membesarkan partai tidaklah mudah. Orientasi politik rakyat sudah banyak berubah. Rakyat tidak lagi terbelah pada perbedaan ideologi yang tajam seperti tahun 1945-1960.

“Masyarakat kini bahkan lebih praktikal (untuk tidak mengatakan pragmatik) dalam menjatuhkan pilihan politik. Sebagian malah transaksional: anda sanggup kasi apa dan berapa dan kami akan tentukan sikap kami seperti apa?” tanya Yusril.

Menurut Yusril, Partai memerlukan dana yang besar untuk bergerak. Bagi Partai Islam, memperoleh dana yang besar itu sulit. Sebagian besar umat Islam hidup dalam kekurangan. Sementara yang punya dana besar itu para cukong, para pengusaha di dalam maupun luar negeri.

Sepanjang pengalaman dirinya, tidak ada ada para cukong dan para pengusaha besar itu yang sudi mendanai Partai Islam. Makanya kebanyakan partai-partai Islam itu hidupnya “ngos-ngosan”. Zaman sekarang sangat jarang ada anggota partai membayar yuran anggota seperti zaman dulu. Seperti saya katakan tadi, dunia sudah berubah.

Namun, Yusril menghormati usaha KH Cholil Ridwan dan para tokoh lain yang mendirikan kembali “Masyumi Reborn” ini. Tentu beliau akan bekerja keras membangun cabang-cabang dan merekrut anggota di tengah Pademi Covid-19 yang sangat berat ini agar dapat disahkan sebagai partai yang berbadan hukum oleh Kemenkumham. Lalu kemudian ikut verifikasi lagi oleh KPU untuk bisa atau tidk ikut Pemilu 2024.

“Bagi saya, mempertahankan PBB yang struktur partainya sudah menjangkau seluruh provinsi dan kabupaten/kota di tanah air saja sudah sangat sulit. Karena itu, saya justru berpikir bagaimana caranya partai-partai Islam yang ada ini dapat bersatu memikirkan bagaimana caranya agar partai Islam ini tetap eksis di negara masyoritas Muslim ini,” jelasnya.

Yusril menilai, membuat partai baru sangatlah berat. “Mudah-mudahan tidak demikian bagi KH Cholil Ridwan dan para tokoh deklarator yang bersama beliau telah mendeklarasikan berdirinya kembali Masyumi tanggal 7 November itu,” pungkasnya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top