Perbankan

Usulan Cetak Uang Rp600 Triliun, Pakar: Inflasi Naik, Bahayakan Perekonomian

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Usulan DPR agar Bank Indonesia (BI) mencetak uang Rp600 Triliun dinilai bukan solusi yang tepat dalam situasi ekonomi akibat pandemic Covid-19. Bahkan tindakan mencetak uang justru malah akan memperpuruk perekonomian. “Karena inflasi akan naik secara drastis dalam waktu yang sangat pendek. Bahkan hal itu tidak dapat diabsorsi oleh sektor-sektor riil,” kata pengamat ekonomi  Unika Atmajaya Rosdiana Sijabat kepada wartawan di Jakarta, Minggu (17/5/2020).

Masalahnya, kata Rosdiana lagi, perlu diingat bahwa sektor riil sekarang mengalami pelambatan karena Covid-19, adanya PSBB mau tidak mau memperlambat supply chain di sektor produksi.

Menurut Rosdiana, Bank Indonesia harus mempertahankan momentum, agar rupiah tidak mengalami pelemahan tajam dalam situasi seperti ini. “Karena itu Bank Indonesia perlu lebih fokus sinkronisasi kebijakan moneter untuk mendukung langkah pemerintah dalam hal mengelola stimulus fiskal keuangan. Dimana saat ini perekonomian sedang terpukul karena Covid-19,” ujarnya.

Lebih jauh Rosdiana menilai Bank Indonesia telah melakukan pembelian surat utang di pasar perdana. Ini artinya Bank Indonesia sudah menambahkan likuiditas ke dalam perekonomian. “Jadi pembiayaan terhadap defisit fiskal dapat terbantu,” tegasnya.

Rosdiana menambahkan pembelian di pasar perdana ini digunakan Bank Indonesia juga untuk merangsang pasar, bukan dengan serta-merta mencetak uang. Kalaupun kapasitas fiskal masih perlu ditambah, Bank Indonesia masih bisa melanjutkan pembelian surat utang melalui skema private placement.

Selain membeli surat berharga di pasar perdana, lanjut Rosdiana,  Bank Indonesia sudah melakukan injeksi likuditas hingga Rp 503 triliun sejak Januari sampai April 2020 melalui mekanisme quantitative easing. “Jadi usulan mencetak uang bukan solusi. Kita bisa belajar dari negara-negara yang mencetak uang untuk mengatasi krisis ekonomi mereka, kebanyakan berakhir perekonomian yang makin memburuk,” pungkasnya.

Seperti diketahui Badan Anggaran (Banggar) DPR RI mengusulkan Bank Indonesia (BI) untuk mencetak uang sekitar Rp 400-600 triliun. Hal itu untuk menutupi kebutuhan anggaran pemerintah yang besar dalam menangani wabah Covid-19.

Ketua Banggar DPR Said Abdullah menegaskan usulan itu sebagai bentuk berbagi sakit (sharing pain) yang bisa dilakukan BI dalam situasi krisis saat ini. Menurutnya, BI justru menikmati keuntungan dalam situasi saat ini melalui selisih kurs dan bunga pinjaman.

“Langkah langkah terobosan di atas adalah bentuk sharing pain BI terhadap situasi krisis ini. Jadi BI tidak semata-mata menikmati untung akibat selisih kurs dan bunga pinjaman. Tetapi sama sama ikut merasakan situasi krisis yang dihadapi oleh segenap rakyat,” tuturnya dalam keterangan tertulis, Senin (11/5/2020). ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top