Industri & Perdagangan

Upaya Pemerintah Stabilkan Harga Gula Sudah Tepat

JAKARTA, Pemerintah kembali melakukan efisiensi mata rantai industri agar harga komoditas pangan strategis stabil dan pasokannya stabil. Setelah sebelumnya Kementerian Perdagangan berusaha menjinakkan stok dan harga daging sapi, beras, atau bawang merah, kini pemerintah memangkas jenjang produksi dan distribusi gula agar harga eceran yang dibeli masyarakat stabil dan terjangkau.

Terobosan sejenis juga bisa diamati di sektor lain seperti daging sapi, misalnya. Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian telah mengambil sejumlah langkah untuk memastikan stok dan harga sumber protein hewani yang satu ini.

Dalam memenuhi kebutuhan gula nasional, Kemendag tidak hanya meringkas mata rantai impor tetapi juga memfasilitasi kesepakatan antara produsen dan distributor gula agar harga eceran tertinggi di masyarakat dapat dikendalikan di level Rp.12.500.

Dengan demikian menurut pengamat ekonomi Bustanul Arifin, impor gula tidak bisa dihindari dan harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nasional. “Saya memperkirakan kebutuhan gula nasional tahun 2017 ini bisa melonjak sampai 5,5 juta ton. Angka ini tidak diikuti dengan produksi gula nasional yang hanya berada dikisaran 2 -3 juta ton per tahun,” demikian Bustanul Arifin pada wartawan di Jakarta, Selasa (24/1/2017).

Saat ini kebutuhan gula nasional untuk semester I 2017 diperkirakan mencapai 1,5 juta ton. Namun, dari angka tersebut, hanya mampu disediakan oleh industri gula nasional sebanyak 700.000 ton gula. Kekurangan pasokan gula itu akan ditutupi dengan impor.

Kebijakan membuka kran impor gula dilakukan pemerintah sebagai upaya untuk mengantisipasi fluktuasi harga gula di pasar. Harga gula bisa naik tajam jika terjadi kekurangan pasokan di pasar. Impor bisa menjadi instrumen untuk stabilisasi harga gula nasional. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku, kerap terjadi dilema ketika produksi dalam negeri tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional. Untuk itu dibutuhkan impor gula untuk stabilisasi harga. Menurut Enggar, semua dilakukan dengan orientasi utama menciptakan harga gula yang stabil.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, produksi gula tahun 2016 sebesar 2,2 juta ton gula. Angka itu tidak bisa menutupi kebutuhan nasional tahun lalu yang sebesar 3,2 juta ton. Kondisi itu menyebabkan terjadi defisit gula di pasar sebanyak 1 juta ton.

Sebagai langkah antisipasi bergejolaknya harga gula nasional kata Bustanul, maka pemerintah menempuh kebijakan membuka kran impor gula. Meski demikian, gula yang akan diimpor merupakan gula mentah sebagai bahan baku yang nantinya akan diolah langsung oleh industri gula nasional. Impor dilakukan dengan melibatkan langsung industri gula nasional. Langkah itu dilakukan untuk mempersingkat mata rantai distribusi impor gula agar tepat sasaran dan biaya yang murah.

“Harga komoditas yang stabil dan terjangkau dibutuhkan untuk memelihara iklim ekonomi yang kondusif. Pemerintah baru saja berhasil mengendalikan inflasi pada penutupan tahun lalu dan momentum itu perlu dipertahankan,” pungkas Bustanul.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top