Uncategorized

Tendensius, Setya Novanto Laporkan Koran Tempo Ke Dewan Pers

JAKARTA – Pemberitaan yang dilakukan oleh Koran Tempo pada kasus korupsi e-KTP, sejak Maret hingga April 2017 dinilai sangat tendensius, dan tidak berimbang. Sebagai sebuah media yang menjadi salah satu sumber berita di Indonesia, Koran Tempo, telah melanggar Kode Etik Jurnalistik Wartawan Indonesia.

Dalam hal ini, Koran Tempo secara sadar telah membuat framing berita yang merugikan Setya Novanto, Ketua DPR sekaligus Ketua Umum Partai Golkar. Selain itu pemberitaan tersebut juga merugikan citra Partai Golkar, sebagai salah satu partai politik di Indonesia.

Pada beberapa pemberitaannya, Koran Tempo sangat jelas telah melanggar asas praduga tidak bersalah serta menghakimi Setya Novanto dan Partai Golkar. Padahal, kasus korupsi e-KTP sendiri hingga kini masih disidangkan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, dan belum ada keputusan apa pun dari pengadilan yang memiliki kekuatan hukum tetap, yang menyatakan keterlibatan Setya Novanto dalam kasus tersebut.

Koran Tempo secara sadar juga telah mencampuradukkan antara fakta dan opini sehingga membuat pemberitaan seolah-olah Setya Novanto adalah pengatur proyek E-KTP di DPR. Hal ini merupakan upaya pembunuhan karakter dengan tujuan agar menanamkan pemikiran kepada masyarakat bahwa Setya Novanto, sebagai sosok yang bersalah.

Pemberitaan yang diturunkan Koran Tempo khususnya pada beberapa edisi telah menunjukkan pemberitaan yang tidak berimbang. Bahkan cenderung untuk mengadili Setya Novanto. Hal ini telah melanggar Kode Etik Jurnalistik, yang berbunyi “Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi serta menerapkan asas praduga tidak bersalah.”

“Setya Novanto adalah simbol dan marwah Partai Golkar. Tidak sepantasnya beliau diperlakukan demikan. Saya melihat ini sebagai upaya untuk menggangu fungsi dan kerja DPR,” kata Erwin Ricardo Silalahi, Ketua Depinas SOKSI, salah satu sayap politik Partai Golkar.

Untuk itu, Erwin Ricardo Silalahi, secara tegas meminta Koran Tempo untuk meminta maaf secara terbuka karena telah merugikan nama baik Setya Novanto dan Partai Golkar. Permintaan maaf itu harus dituliskan di satu halaman penuh Koran Tempo karena telah menulis dan menyiarkan berita bohong yang tidak sesuai fakta. Seperti sebagaimana judul-judul berita yang diturunkan di bawah ini:

1. Koran Tempo edisi 17 Maret 2017 dengan judul: “Terdakwa Akui Diminta Setya Berbohong.” (“Artikel Pertama”); dan

2. Koran Tempo edisi 12 April 2017 dengan judul: “Novel Diserang, Setya Dicekal.” (“Artikel Kedua”).

Demikian seperti dikutip Erwin Ricardo Silalahi, Ketua Harian DEPINAS SOKSI yang hari ini mengajukan pengaduan atas dugaan pelanggaran Undang-undang No. 40 Tahun 1999 tentang UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik sehubungan dengan pemberitaan kasus korupsi E-KTP yang seolah-olah menempatkan Setya Novanto terlibat dalam pemufakatan jahat untuk melakukan korupsi E-KTP.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top