Pertanian

Tanpa Semangat Nasionalisme, Asing akan Terus Intervensi Sektor Pertanian

TULUNGAGUNG – Wakil Ketua MPR sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Oesman Sapta Odang mengajak petani agar ikut menjaga bangsa ini dengan semangat nasionalisme.

Sosialisasi 4 Pilar MPR RI dinilainya penting dilakukan agar bangsa ini mampu menjaga dori dan menghindari intervensi asing. “Tanpa nasionalisme kita akan diintervensi bangsa lain termasuk dalam dunia pertanian,” kata Oesman Sapta Odang saat memberikan pembekalan pada Sosialisasi Empat Pilar MPR RI dihadapan ratusan petani yang tergabung dalam Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) se Jawa Timur bertema ‘”HKTI Bangkit, Petani Sejahtera” di Pendopo Kantor Bupati Tulungagung, Jawa Timur, Minggu (7/5/2017).

Acara dihadiri anggota MPR dari unsur DPD RI I Gede Pasek Suardika, pimpinan Badan Sosialisasi MPR Bachtiar Ali, Bupati Tukungagung Syahro Mulyo, pimpinan dan anggota DPRD Tulungagung, serta jajaran kepolisian dan kodim setempat.

Menurut Oesman Sapta, intervensi bangsa lain ke Indonesia sudah sangat memprihatinkan termasuk masuknya narkoba ke Indonesia. Diungkapkan sekarang banyak narkoba masuk ke Indonesia. “Untuk itu perlu Empat Pilar sebagai menjaga bangsa,” papar Oesman Sapta. Dalam membendung narkoba dan intervensi asing perlu kerja sama semua pihak.

Dalam kesempatan itu, Oesman Sapta memuji Kabupaten Tulungagung yang sukses melakukan swasembada beras. Ia mencontohkan dengan negara Brazil yang sukses membangun dunia pertanian selama 14 tahun. Bagi Oesman Sapta, Indonesia bisa melebihi negara itu karena Indonesia adalah negara yang subur.

Anggota MPR dari unsur Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, I Gede Pasek Suardika mengakui di wilayah-wilayah yang fokus pada sektor tertentu kerap mengabaikan sektor pertanian sebagai sumber pendapatan daerahnya. Akibatnya sektor pertanian ditiinggalkan sehingga sulit untuk mengembangkannya kembali karena adanya alihfungai lahan.

“Kalau kami di Bali sudah tidak mungkin lagi swassembada beras. Karena sawahnya sudah berubah menjadi vila dan hotel,” kata Pasek Suardika.

Dalam sosialisasi tersebut Suardika menghubungkan dunia pertanian dengan filosofi Pancasila sebagai dasar negara. Dia mengatakan para pendiri bangsa telah menegaskan pada simbol-simbol di dalam lambang Burung Garuda ada gambar Padi dan Kapas, Kepala Banteng, dan Pohon Beringin. Simbol-simbol itu, menunjukkan bahwa bangsa ini sejak dulu tak bisa lepas dari dunia pertanian.

“Dari lambangnya saja sudah bisa terlihat. Dari lima labang yang ada, tiga lambang yang ada yaitu Pohon Beringin, Padi dan Kapas yang menjadi elemen utama dari pandangan hidup kita. Jadi pertanian itu adalah soko guru kita. Tulang punggungnya Indonesia. Pohon Beringin adalah pohon yang memiliki kemampuan menampung air banyak. Kapas menjadi simbol sandang. Padi menjadi simbol pangan kita,” terangnya.

Oleh karena itu, para pendiri bangsa telah membuat alur negara sebagai negara pertanian. “Tetapi sayangnya pertanian semakin ditinggalkan. Fakultas Pertanian di Perguruan Tinggi semakin sepi peminatnya. Sementara pangsa pasar dunia saat ini yang terbesar adalah pertanian,” ujarnya.

Atas dasar itu pula, dia menyimpulkan, apabila pertanian ditinggalkan maka sebenarnya kita meninggalkan Pancasila sebagai pedoman hidup dan dasar negara. “Urusan pertanian adalah urusan mendasar dari republik ini mulai dari lambang dasar sampai pada menjadi sebuah kebijakan negara,” tegas Suardika.(har)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top