Opini

Startup, Kemajuan Teknologi atau Bentuk Eksploitasi Modern?

Startup, Kemajuan Teknologi atau Bentuk Eksploitasi Modern?
Tri juwanto

*) Tri Juwanto

Berkembangnya perusahaan rintisan, alias startup pada era digitalisasi menimbulkan pertanyaan, apakah keberadaan startup menguntungkan atau merugikan untuk pelaku UMKM? Nama-nama pelaku bisnis startup seperti, Gojek, Grab bukan hal yang aneh lagi terdengar ditelinga kita. Di bisnis toko ritel juga ada deretan nama terkenal seperti, Tokopedia, Bukalapak, Shopee, Blibli dan lain-lain. Dibisnis kurir (jasa antar barang) juga tak kalah ramainya. Ada T&J, Antaraja, Si Cepat, Shopee dan lain-lain.

Dengan gamblang harus diakui ini sebuah kemajuan bisnis di zaman melenial. Hal ini, memang sebagai dampak dari kemajuan informasi teknologi yang ditandai muncul digitalisasi bussiness. Sehingga ikut mempengaruhi gaya atau pola hidup manusia. Yang serba ingin cepat, tidak ribet dan mungkin murah.

Bayangkan, mau makan tapi malas masak atau keluar rumah tinggal pesan via smartphone yang ada fitur Gofood, Shopee Food. Mau beli barang nggak mau ribet nenteng belanjaan, harus keluar rumah lagi, harga barang lebih murah, tinggal pencet smartphone cari Tokopedia, Bukalapak, atau Shopee. Pilih barang yang mau dibeli. Lalu, dikirimnya juga tinggal pilih cari yang biaya kirimnya murah. Ada Si Cepat, Antaraja, Gosent dan masih banyak lagi.

Hidup di zaman online dengan hadirnya startup, hidup seakan dimanjakan, dipermudah, serba cepat, moderen. Buat dunia usaha terutama UMKM/UKM akses pasar juga lebih mudah. Karena kini dunianya digitalisasi. Penjualan lewat e-commerce, juga pengiriman maupun pembayaran. Tapi dari sisi ekonomi, sejauhmana dampaknya buat masyarakat maupun UKM. Apakah keberadaan bisnis startup berkontribusi bagi kemajuan ekonomi dan para pelaku usaha kecil- menengah alias UKM.

Saya melihat belum terlihat. Baik sebelum maupun sesudah ada covid. Masih jauh dari harapan. Padahal keberadaan bisnis starup sudah ada sejak 5-6 tahun lalu. Jadi sebelum ada covid 19, Gojek, Bukalapak, Grab, Tokopedia sudah hadir. Sekarang jumlah pelaku bisnis startup semakin banyak. Para startup tumbuh begitu pesat, bahkan diantaranya sudah menjadi Unicorn dan bahkan ada yang Dekacorn.

Tapi kondisi ekonomi masyarakat dan UKM jalan ditempat malah makin sulit dimasa pandemi Covid 19 yang terjadi 2020-2021. Banyak pelaku UKM bangkrut, ekonomi masyarakat terpuruk. Dan saya melihat pelaku usaha startup justru ikut andil dalam penyumbang keterpurukan itu. Startup di satu sisi telah menjadi mesin pembunuh ekonomi dan UKM. Kok, bisa menilai seperti itu?

Mudah saja membuktikannya. Lihat saja akibat hadirnya bisnis startup, banyak pusat perbelanjaan, toko, plaza, mall gulung tikar sepi pembeli. Glodok Plaza yang dulunya ramai dan terkenal sebagai pusat pertokoan elektronik terbesar di Indonesia, kini kondisinya sepi. Bahkan banyak UKM yang selama ini mengisi mall atau plaza pada gulung tikar. Malah kondisi tragis juga dialami Blok M Mall, Giant, Carreful juga tutup. Hal yang sama juga terjadi kota-kota besar lainnya. Semua itu tak lain andilnya starup.

Mesin Eksploitasi

Tapi kan bisnis startup juga banyak menunjang dan membantu masyarakat dan UKM. Betul, tapi kalau dicermati dibalik semua itu tanpa kita sadari lebih besar praktek eksploitasinya. Contoh, UKM yang bergerak di bisnis makanan atau kuliner untuk bisa terlayani startup Gofood, Grab Food atau Shopee Food UKM harus bayar fee 20% dari setiap transaksi.

Setelah para UKM terdaftar alias masuk perangkap startup, pelaku startup mulai memainkan triknya. Dengan menawarkan program promo dengan iming-iming agar penjualan meningkat tapi dengan syarat harus bayar sekian juta. Jadi untuk promo diskon harga, katanya starup bakar-bakar duit, sebenarnya duit-duit UKM juga.

Mulailah perusahaan startup gencar promo pada produk UKM yang ikut program tersebut. Maka para jaket hijau akan tampak berkerumun pada oulet UKM yang ikut promo. Buat UKM yang tidak ikut promo mulai ditinggalkan. Begitu promo seterusnya. Jadi UKM yang sudah masuk jaringan startup akan jadi ladang hisapan lintah yang bernama bisnis startup.

Pelaku usaha startup ibarat preman atau VOC moderen. Tanpa cara kekerasan tapi mampu memalak pelaku UKM bayar 20% dari setiap transaksi. Hal itu juga terjadi di UKM yang bergerak di bisnis diluar kuliner.

Sementara nasib bisnis UKM ya, segitu-gitu aja. Apa sudah ada UKM yang sukses setelah masuk jaringan starup Gojek, TokoPedia, atau apapun namanya. Dari semula usaha kecil lalu naik kelas jadi usaha menengah. Yang menengah jadi usaha besar. Sampai sekarang saya belum melihatnya.

Masih kurang percaya? Nih, saya kasih contoh lagi penghisapan starup di sektor transportasi. Lihat saja nasib driver ojek online, taksi online maupun para kurir pengiriman barang. Motor atau mobil yang beroperasi milik para driver sendiri, narik tenaga sendiri tapi para driver diharuskan membayar fee 20%.

Para driver tidak punya hak untuk tawar menawar soal fee maupun tarif. Jangankan hal itu, motor/mobil rusak, driver sakit, helm, jaket dan pengeluaran lainnya harus tanggung sendiri. Mestinya hal itu bisa disediakan oleh perusahaan startup yang sudah meraksasa dan go internasional.

Wajar kalau saya mengatakan, pelaku bisnis starup hanya mengekploitasi para driver. Ya, tenaga juga kendaraannya. Tidak punya niat untuk mensejahterakan mitranya. Buktinya, tidak ada tuh driver ojek atau taksi online yang terangkat ekonominya. Nasib mereka tetap saja jadi romusa (rombongan muka susah).

Kalau pun sekarang, katanya Gojek mengalokasikan saham untuk para driver sebagai bukti untuk kesejahteraan mitranya, menurut saya itu hanya gimick saja. Mana mungkin para driver punya uang lebih, untuk beli saham. Yang muncul para driver berdasi yang pura-pura pakai jaket hijau mengambil saham itu. Driver sesungguhnya hanya bisa gigit jari.

Eksploitasi lainnya yang dilakukan pelaku bisnis starup pada masyarakat. Lewat pelayanan pembayaran lewat simpan uang dulu. Seperti, Gopay, Ovo, Dompet. Shopee pay. Dengan promo gede-gedean dan Iming-iming diskon beli atau belanja dapat potongan mulai Rp 3 ribu hingga tak lebih dari Rp 100 ribu.

Masyarakat lalu tergiur dan menyimpan uangnya di startup. Tanpa disadari, ini sama saja bisnis starup tengah menyedot uang dari kantong baju masyarakat. Gojek lewat Gopay pernah melansir sukses menghimpun dana masyarakat pada 4 tahun pertama beroperasi sebesar Rp15 triliunan. Fantastik bukan.

Dengan dana ganggur sebesar dan itu bukan dana pinjaman sehingga Gojek tak perlu bayar bunga. Dengan dana sebesar itu Gojek bisa melebarkan sayap bisnisnya. Apakah sebagian dana masyarakat itu ada yang mengalir ke UKM dalam bentuk pinjaman modal. Tidak ada sama sekali. Untuk dapat pinjaman UKM tetap saja harus cari sendiri ke bank yang pelitnya minta ampun. Belum lagi harus pakai jaminan segala.

Jadi jelas, keberadaan bisnis startup hanya menguntungkan para pemilik modal (capital) yang umumnya asing sebagai investornya. Bukan rahasia lagi para investor yang bercokol dibalik bisnis starup ya, itu- itu juga. Google, Capital Grup, Facebook, Warburg, SoftBank, Nortstar, Tencen, Palpay, Alibaba dan lain-lain. Mereka ini ada di semua startup ternama di Indonesia. Jadi jelas, siapa yang diuntungkan dari bisnis starup.

*) Pemerhati Sosial

Print Friendly, PDF & Email

BERITA POPULER

To Top