Infrastruktur

Soerjono : Menjadi Poros Maritim, Butuh Pelabuhan Berkelas Dunia

JAKARTA-Pemerintahan Jokowi sudah menetapkan Indonesia menjadi poros maritim dunia. Namun untuk mewujudkan langkah tersebut, pemerintah harus serius memperhatikan beberapa syarat. Misalnya, memperbaiki infrastruktur pelabuhan, membuat kapal dengan jumlah banyak dan menyiapkan sumber daya manusia di sektor perkapalan. “Menjadi poros maritim dunia itu, tentunya harus ditunjang dengan pembangunan infrastruktur di sepanjang pantai yang ada di Indonesia. Baik keandalan kepelabuhan dan galangan kapalnya sehingga transportasi kelautan semakin mudah,” kata Komisaris Utama PT Industri Kapal Indonesia (IKI), Soerjono dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (29/8/2016)

Namun, kata Soerjono, kapal-kapal yang diproduksi di dalam negeri tentulah beberapa ukuran dan jenisnya saja. Sehingga mendorong industri komponen kapal bisa ikut tumbuh.

Selain itu, lanjut Soerjono, hubungan antar pulau menjadi lebih cepat dan efesien dan menjadikan industri nasional menjadi kuat. Karena kapal yang datang dan pergi selalu membawa muatan. “Itu indikasi industri nasional kuat dan bisa mewujudkan indonesia sebagai poros maritim dunia,” ungkapnya.

Untuk itu, sambung Soerjono lagi, diperlukan kebijakan pembangunan yang berorientasi pada bidang kelautan dengan meningkatkan biaya (APBN) untuk bidang kelautan atau kemaritiman. “Sehingga infrastruktrur di daerah pesisir dan pulau dapat dikembangkan. Sumber Daya Manusia bidang kelautan harus ditingkatkan, dan kualitas pelabuhan pun harus ditingkatkan menjadi bertarap internasional,” paparnya.

Apalagi bagi Indonesia yang pembangunanya hanya berorientasi pada daratan seperti jalan tol dan pembangunan lainnya. Jadi keinginan mengelola kekayaan maritim dan kelautan pasti akan menemui tantangan dan hambatan. “Mengingat pemerintah Indonesia belum pernah mencoba untuk membangun secara menyeluruh dan berkelanjutan tentang ekonomi kelautan dan Kemaritiman,” tukasnya.

Lebih lanjut Soerjono menambahkan hingga kini pemerintah Indonesia belum sepenuhnya menikmati keuntungan dari sektor kemaritiman, baik dari segi kemakmuran maupun pengaruh di tingkat internasional. Pemerintah Kabinet Kerja baru mulai dengan program membangun transportasi tol laut untuk mempermudah lajunya perekonomian bagi daerah masyarakat pesisir laut.

Secara geo-politik, historis dan budaya, Indonesia bisa dijadikan sebagai negara maritim, mengingat wilayah daratan Indonesia dalam satu kesatuan yang dikelilingi oleh lautan. Yang lebih menguatkan lagi, Indonesia berada di daerah equator, antara dua benua Asia dan Australia. Antara dua Samudera Pasifik dan Hindia, serta negara-negara Asia Tenggara. Karena itu, sistem pelabuhan di Indonesia harus dimodernisasi agar memenuhi standar internasional,” paparnya

Soerjono menambahkan Indonesia memiliki empat titik strategis yang dilalui 40% kapal-kapal perdagangan dunia yaitu Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Makasar. Posisi ini bisa memberikan peluang besar untuk memfasilitasi Indonesia menjadi pusat industri perdagangan serta pelayaran maritim dunia. “Sudah seharusnya bangsa ini membangun industri kapal dengan baik, karena anak anak bangsa sudah sangat mampu dan bisa membuat yang kapal dengan dengan kualitas yang sangat bagus,” imbuhnya. ****

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top