Market

Soal Pertumbuhan 5,5%, Sondang: Presiden Butuh Super Tim

Sondang Tiar Debora

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Target pemerintah menggenjot pertumbuhan ekonomi 2021 sekitar 5,5% dinilai butuh koordinasi yang tinggi. Karena itu perlu tim ekonomi yang handal dan mumpuni. “Kerja-kerja nyata dan super ekstra yang perlu dilakukan oleh para pembantu presiden, baik itu pimpinan Kementerian & Lembaga yang mumpuni & punya kapabilatas untuk realisasi Pertumbuhan Ekonomi,” kata anggota Komisi VI DPR Sondang Tiar Debora Tampubolon kepada wartawan di Jakarta, Selasa (18/8/2020).

Namun demikian, kata anggota Fraksi PDIP, pihaknya mengapresiasi rasa optimisme Presiden Jokowi terhadap pertumbuhan ekonomi 2021 dengan target tersebut. “Harapan Presiden tersebut tentu bukan sesuatu yg mudah untuk dicapai apabila tidak disertai dengan suatu perencanaan dan tindakan yang extraordinary,” tambahnya.

Hanya, Sondang mengingatkan pemerintah perlu waspada. Karena pandemi Covid-19 ini tidak ada yang tahu sampai kapan covid ini bisa selesai. berakhir. “Apakah satu bulan, dua bulan atau satu tahun?,” ujarnya seraya bertanya.

Oleh sebab itu, Sodang meminta tim ekonomi solid dan bekerja 24 jam. “Presiden tentu saja tidak bisa kerja sendiri, beliau membutuhkan Super Tim yang dapat bekerja all out untuk kepentingan bangsa dan bukan untuk kepentingan pribadi/golongan, apalagi memanfaatkan utk memperkaya diri,” ujarnya.

Disisi lain, Sondang mempertanyakan soal kesiapan para pembantu presiden bekerja keras. “Apakah mereka siap dan sanggup untuk mewujudkan harapan tersebut? Ini butuh koordinasi yang serius bukan hanya sekedar Popularitas,” terang Alumnus Teknik Fisika-ITB.

Hanya saja, sambung Legislator Dapil Jakarta I, Kenyataannya kita masih melihat para Pembantu Presiden tersebut yang bekerja tidak maksimal. “Saya sebagai anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan mendukung Presiden untuk melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk memperkuat kinerja Pemerintah,” paparnya yang mengaku juga optimis. “Niscaya, the right man on the right place at the right time bisa mewujudkan hal tersebut.”

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia ditargetkan berada di kisaran 4,5 hingga 5,5 persen pada 2021. Hal itu disampaikannya dalam pidato Nota Keuangan RAPBN 2021. “Menurut Saya target pertumbuhan ekonomi kita terlalu konservatif, berharap pemerintah lebih progresif. Kita punya potensi tumbuh lebih tinggi, asalkan penanggulangan wabah bisa lebih baik,” kata Direktur Riset Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah, Jumat (14/8/2020).

Piter menilai, seharusnya pemerintah bisa menargetkan pertumbuhan ekonomi di 2021 lebih tinggi lagi, berkisar 6 persen hingga 7 persen. Tentu untuk mencapainya perlu ditopang dengan program dan anggaran negara yang lebih besar. Salah satu kosenkuensi dari anggaran yang besar adalah defisit APBN yang semakin melebar. Tapi menurutnya itu bukan masalah, selama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tengah terpuruk akibat pandemi Covid-19. Terlebih ada Peraturan Pengganti UU (Perppu) Nomor 1 tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Corona Disease 2019 (Covid-19), telah disetujui DPR menjadi Undang-Undang (UU).

Di mana, defisit anggaran diperbolehkan di atas 3 persen terhadap PDB selama tiga tahun, yakni pada 2020, 2021, dan 2022. “Seharusnya pemerintah bisa memanfaatkan ruang fiskal yang lebih lebar, yang diberikan oleh Perppu, dengan tujuan untuk Lebih mendorong pertumbuhan ekonomi,” sebut Piter.

Adapun, dalam RAPBN 2021 pemerintah menargetkan defisit anggaran menjadi 5,5 persen dari PDB atau sebesar Rp 971,2 triliun. Defisit ini lebih rendah dibandingkan tahun 2020 yang ditargetkan sekitar 6,34 persen dari PDB atau sebesar Rp 1.039,2 triliun. ***

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top