Nasional

SETARA: Penolakan Injil Minangkabau Jadi Preseden Buruk Kebhinekaan

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM –  Menyusul penghapusan aplikasi Injil berbahasa Minang oleh Gubrernur Sumatera Barat Irwan Prayitno di Playstore Google, justru akan menjadi preswden buruk bagi toleransi dan kebhinekaan.

Apalagi penghapusan itu berdasarkan dua klaim: 1. Masyarakat Minangkabau sangat keberatan dan resah dengan adanya aplikasi tersebut, dan 2. Aplikasi tersebut sangat bertolak belakang dengan budaya masyarakat Minangkabau.

Untuk itu, SETARA Institute memandang bahwa Injil bahasa Minangkabau dan aplikasinya di Playstore tidak melanggar hukum dan konstitusi Republik Indonesia dan justru merupakan inisiatif yang baik untuk membangun literasi keagamaan lintas iman dalam kerangka kebinekaan Indonesia.

“Semestinya Menkominfo Ri menolak permintaan Gubernur Irwan agar Dirjen Aplikasi Informatika menghapus aplikasi tersebut,” tegas Ketua SETARA Institute, Hendardi, Sabtu (6/6/2020).

Kedua, permintaan Gubernur Sumatera Barat, dalam pandangan SETARA Institute, bisa menjadi preseden buruk, karena di kemudian hari akan digunakan oleh kelompok yang tidak menghargai kemajemukan untuk melakukan hal yang sama, yaitu menolak (resistance) dan menyangkal (denial) berbagai hal yang berkenaan dengan identitas agama yang berbeda.

Ketiga, aplikasi Injil Bahasa Minangkabau merupakan sebuah inovasi digital yang bersifat netral dan tidak mengandung unsur pemaksaan kepada siapapun untuk membaca atau sekedar mengunduhnya. Namun dari sisi spirit, aplikasi semacam ini harus diapresiasi sebagai upaya untuk membangun pemahaman lintas agama, sehingga psikologi kecurigaan, ketakutan, keterancaman akibat ketidaktahuan tentang identitas yang berbeda dapat dikikis.

Seharusnya kata Hendardi, pemerintah Sumatera Barat dan Pusat melihat manfaat aplikasi tersebut untuk memperkaya pemahaman dan memperkuat toleransi beragama.

Keempat, klaim Gubernur Irwan mengenai dua alasan di balik permintaan penghapusan itu, terlalu mengada-ada, berlebihan, dan tidak mewakili masyarakat dan budaya Minangkabau.

Meski budaya Minang kuat dengan falsafah “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah’, tidak berarti bahwa Minangkabau adalah budaya yang tertutup. Sebaliknya, Minangkabau sebagai entitas kultural, dalam bentangan sejarahnya, sangat terbuka dan mudah berinteraksi dengan entitas kultural yang berbeda.

“Keberadaan aplikasi Injil berbahasa Minangkabau tidak akan meruntuhkan kuatnya keislaman di tengah-tengah masyarakat Minang,” pungkas Hendardi.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top