Market

Serapan Dana PEN Tak Capai 75%, Ekonom: Sulit Cegah Resesi

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Kebijakan dan strategi penanganan Covid-19 yang dilakukan pemerintah dinilai belum maksimal. Namun demikian pemerintah pada kuartal II-2020, setidaknya sudah mampu menahan kontraksi itu agar tidak terlalu besar.

“Seharusnya kalau pada akhir Agustus 2020 atau menjelang September 2020, penyerapan dana PEN harus bisa di atas 75%, jadi pada kuartal III/2020, minus kita bisa ditekan sampai 0%. Namun kalau dengan kondisi masih seperti saat ini, mungkin akan masih sulit mengharapkan pertumbuhan positif,” kata Pengamat ekonomi dari Universitas Atmajaya, Jakarta, Rosdiana Sijabat dalam diskusi Forum Legislasi bertema “Evaluasi Perppu Corona dan Ancaman Resesi Ekonomi” bersama anggota Komisi IV DPR F-PKS di Jakarta, Selasa (25/8/2020).

Namun diakui Rosdiana, dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, kontraksi Indonesia masih jauh lebih kecil. “Di Asean sendiri, misalkan negara yang agak lebih baik dari kita itu, paling tidak Vietnam. Sementara kalau kita lihat dari segi penanganan Covid-19, memang benar pemerintah agak lambat, tetapi itu hal lain lagi,” ujarnya lagi.

Memang diakui Rosdiana, pada awal penanganan Covid-19 mungkin tidak terlalu bisa didapatkan validitas informasi, sehingga merasa baik-baik saja. Sementara negara lain sudah melakukan berbagai prevensi, dan bahkan langkah-langkah yang lebih maju.

“Dalam hal ini kita agak tertinggal. Tetapi kalau kita bandingkan indikator ekonomi bahwa sebenarnya kontraksi bisa dikatakan pemerintah itu sudah sudah melakukan berbagai strategi, tapi ternyata tidak menolong kita dari pertumbuhan ekonomi yang minus, tetapi kontraksi itu masih relatif lebih baik,” ujarnya.

Karena itu, menurut Alumnus FEB UGM, pemerintah perlu memikirkan kesehatan APBN di satu sisi, tetapi dengan dana insentif fiskal yang tidak terlalu besar dibanding atau relatif kepada negara-negara lain, masih bisa dalam kondisi seperti ini.

“Bukan saya mengatakan pemerintah berhasil dalam mengatasi pandemi Covid-19, tapi menurut saya pemerintah relatif berhasil lah. Ini supaya kita tidak terlalu jauh buruk kinerja perekonomian kita, itu untuk yang kuartal II. Nah, di kuartal III, seharusnya belanja Pemerintah yang diserap lebih banyak kemudian dana PEN ini seharusnya 2 bulan ke depan bisa lebih cepat di serap,” imbuhnya.

Sementara itu, anggota Komisi IV DPR Andi Akmal Pasludin memprediksi pertumbuhan pada kuartal III akan tetap negatif yakni sekitar -2%. Oleh karena itu pemerintah harus serius, kalau memang perlu melakukan reshufle lakukan saja. “Toh presiden punya kewenangan yang kuat,” katanya.

Menurut Andi, pemerintah sejak awal gamang menghadapi pandemi Covid-19 dan penanganan ekonomi dengan menggunakan Perppu No.1 tahun 2020, meski telah diberi kewenangan dalam penggunaan anggaran dan tak bisa dipidana akibat pelanggaran anggaran (APBN).“Namun sampai hari ini ekonomi masih buruk,” tegasnya.

Lebih jauh Andi menjelaskan anggaran untuk pandemi itu sudah direvisi hingga tiga kali. Dari Rp500 triliun, Rp700 triliun dan Rp1028 triliun. “Jadi, yang sukses adalah menambah defisit, menambah utang negara, dan pengangguran meningkat. Ke depan, kita tunggu ekonomi di kuartal 3, bagaimana data hasil BPS nanti,” kata politisi PKS. ***

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top