Market

Sentimen Anti Asia Dipicu Memburukya Ekonomi AS Akibat Pandemi

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Efek pandemi Covid-19 yang panjang dan menyulitkan ekonomi masyarakat AS menjadi pemicu meningkatnya sentimen anti Asia. Perlu diketahui Amerika merupakan negara paling parah terdampak Covid-19, dimana sekitar 30,5 juta orang terpapar hingga Maret 2021.

“Dampak pandemi ini berujung pada kesulitan ekonomi, banyak warga kehilangan pekerjaan, alias pengangguran. Sehingga mulailah timbul sentimen rasisme ini,” kata Anggota MPR Fraksi Partai Golkar, Christina Aryani dalam diskusi Empat Pilar berthema Menyoal Rasisme Anti Asia di AS, Bagaimana Nasib WNI Kita” bersama Wakil Ketua MPR Syarifuddin Hasan di Jakarta, Senin (29/34/2021).

Christina Aryani

Christina Aryani

Lebih jauh Christina memaparkan saat AS gencar-gencarnya membangun rel Kereta Api (KA), banyak mendatangkan tenaga kerja dari China pada 1800-an. Di situ sudah mulai terjadi sentimen anti China. “Nah, sekarang ditambah lagi dengan kekuatan ekonomi China yang mulai mendominasi dunia,” ungkap Politisi Golkar.

Namun saat ditanya apakah Mantan Presiden AS, Donald Trump menjadi biang keladi sentimen Anti Asia, Anggota Komisi I DPR ini tidak membantah secara tegas. “Dia hanya ngipas-ngipasin. Sebab krisis ini memang terjadi karena pandemi, tetapi tidak seharusnya seorang pemimpin seperti itu,” terangnya lagi.

Syarifuddin Hasan

Syarifuddin Hasan

Sementara itu Wakil Ketua MPR Syarif Hasan menilai seharusmya Trump sebagai presiden dan calon presiden AS saat kampanye bisa membaca situasi sosial secara global, mana yang sensitif dan mana yang bisa memicu konflik rasial. “Sehingga statemen yang keluar tentu sebagai negarawan AS dan sebagai kampium demokrasi. Jadi bukannya sebagai koboy atau preman,” tuturnya.

Apalagi lanjut Syarif, AS sudah menandatangani banyak undang-undang terkait dengan hak asasi manusia (HAM), Konvensi Whina dan lain-lain. Padahal krisis ekonomi, itu bukan saja terjadi di AS, tapi hampir di seluruh dunia dan hampir seluruh dunia dan saat ini China secara ekonomi telah menguasai dunia.

Sehingga ada benarnya kekerasan anti rasial tersebut juga dipicu oleh krisis ekonomi di AS sendiri, yang makin diperparah dengan covid-19.”China itu maju secara ekonomi, kapitalnya kuat, teknologi dan lain-lain. Mungkin warga AS mulai tersisih,” ungkap Syarif.

Nah, lanjut Syarif, pemerintah Indonesia sendiri melalui konstitusi, UU dan Permenlu RI yang ada berkewajiban melindungi warga negaranya di luar negeri. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top